Brian Jikustik Hipnotis Keroncongers dengan 'Panah Asmara' yang Memukau

share on:
Penampilan Brian Jikustik menghipnotis para audiens Pasar Keroncong Kotagede || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) - Ratusan penonton antusias menyaksikan gelaran Pasar Keroncong Kotagede 2019, di Kotagede, Sabtu (19/10/2019) malam. Tua-muda, pria-wanita berbaur dalam keguyuban musik keroncong.

Malam itu panitia menghadirkan 3 panggung untuk perform 15 orkes keroncong (OK). Ada Panggung Sopingen, Panggung Kudusan serta Panggung Kajengan. Alunan komposisi music yang menawan, setting sound dan lighting yang proporsional, serta penampilan menawan para personil orkes keroncong menambah syahdu malam minggu yang cerah.

Di Panggung Sopingen duet MC lawas Joned Selalu Ceria dan Bambang Gundul membuat terpingkal-pingkal para penonton. Banyolan-banyolan khas ‘wong lawas’ bikin ger-geran. Porsi dalam Panggung Sopingen lebih mengetengahkan keroncong klasik dengan sisipan modern.

Sementara di Panggung Kudusan banyak orkes keroncong yang mengkomposisi lagu non keroncong menjadi keroncong modern. Seperti yang dilakukan OK Svarama dari Semarang. Sejumlah tembang dangdut dan campursari mereka sodorkan ke penonton. Ketika lagu campursari ‘Cidro’ milik Didi Kempot dimainkan, spontan para penonton menyanyi layaknya koor massal.

Dan di Panggung Kajengan penonton lebih didominasi oleh anak milenial. Karena di panggung ini akan tampil vokalis Jikustik, Brian. Sekitar pukul 22.15 Brian naik panggung. Dengan iringan Orkes Pasar Keroncong, vokalis berkacamata ini menyanyikan lagu Kala Cinta Menggoda milik Chrisye. Lalu dilanjut Selamat Malam Dunia dan Seribu Tahun Lamanya milik Jikustik. Tak ketinggalan lagu Cantik-nya Kahitna. Sebagai penutup, Brian menyodorkan lagu Panah Asmata milik Afgan.

Penampilan Brian sangat prima, menghibur, interaktif dan mampu membius para audiens. Tanpa canggung, vokalis Jikustik ini turun panggung lalu menyanyi lesehan dengan penonton. Tak ada sekat. Berbaur antara idola dengan fansnya. Brian juga menyampaikan pesan kepada kawula muda untuk ikut melestarikan music keroncong. “Musik keroncong adalah asset budaya. Wajib kita rawat, pelihara dan kita pelajari. Era boleh berganti, tetapi music keroncong selalu ada di hati,” tandas Brian yang menutup aksinya di Panggung Kajengan, sekitar pukul 22.50. (Dol)

 

 


share on: