Chatting Mesum dan Ajak Intim Istri Orang, Oknum Polisi Diadili

share on:
Ilustrasi || YP/Fadholy

Yogyapos.com (YOGYA) – Usai menjalani sidang perdana, SD (49) oknum polisi Polda Jateng yang diadili karena chatting mesum dan mengajak intim dengan istri orang, langsung meninggalkan gedung Pengadilan Negeri Yogya, Kamis (17/10/2019). Demikian pula pengacaranya, pergi tak memberikan konfirmasi kepada beberapa awak media yang mencegat di depan ruang sidang.

“Nanti saja,” ujar pengacara oknum tadi, sembari bergegas pergi.

Sidang perdana kasus ini dipimpin hakim ketua Agus Nazaruddinsyah SH, berlangsung cukup lama karena menghadirkan 3 saksi yakni SDM (43, korban), H ( 45,suami korban) dan seorang anggota Provos Polresta Yogyakarta.

Kasus ini, sebagaimana disebutkan jaksa penuntut umum Astuti Widayati SH, terjadi pada 2016. Terdakwa SD yang berpangkat Ipda ini tinggal di  Semarang dan masih punya hubungan famili dengan korban warga Wirobrajan Yogyakarta.

Suatu hari melakukan kontan melalui WhathapApp (WA) menanyakan hal-hal biasa, tentang kondisi keluarga  dan sebagainya. Tapi kemudian berlanjut menanyakan hal yang menjurus pada organ tubuh. Bahkan ujungnya mengirimkan gambal alat vital lelaki.

“Perbuatan terdakwa melanggar Pasal 45 ayat (1) jo Pasal 27 ayat (1) UU Nomor 19 Tahun 2016 tentang perubahan atas UU RI Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE dan/atau Pasal 29 UU RI Nomor 44 tentang Pornografi,” tegas jaksa.

Sementara lebih detail disampaikan korban yang mengaku mendapat perlakuan tidak senonoh dan menjijikan itu sejak 2015. Mulanya terdakwa berkomunikasi menanyakan hal-hal yang biasa lazimnya famili berjauhan tempat tinggal. Lama kelamaan merembet memuji tubuh korban. Sejak itulah ia mulai riisih sehingga berulangkali mengingatkan agar tidak berlaku seperti itu.

Meski sudah berkali-kali diingatkan, bukannya menghentikan tetapi malah mengulangi lagi hal serupa. Bahkan mengejak kencan dengan alasan sudah cukup lama tidak mendapat ‘pelayanan’ dari istrinya. “Saya jijik sekali. Ya saya tadi ungkapkan semua detail peristiwa di muka hakim. Termasuk tentang pengiriman gambar alat vital dan peritiwa saat terdakwa ditangkap Provos karena kami jebak di sebuah hotel,” jelasnya.

Pernyataan  juga disampaikan H, sebagai suami pihaknya merasa sangat tersinggung dan dilecehkan atas tindakan terdakwa. Ia berharap terdakwa akan dihukum seberat-beratnya sesuai UU yang berlaku.

“Saya ungkapkan semua tadi di persidangan. Termasuk tentang bukti-bukti videcall,” ucapnya.

Diungkapkan, komunikasi terdakwa dengan korban sebenarnya sudah berlangsung sejak 2014. Ketika itu biasa-biasa saja sebagai famili. Tapi seiring berjalan waktu komunikasinya mengarah ke hal mesum. “Istri saya selalu memberitahu setiap kali mendapat kiriman kalimat-kalimat mesum, lalu segera mengigatkannya,” tuturnya.

Pernah, korban hendak memblokir nomor terdakwa. Tapi dicegah karena barangkali akunnya sedang dibajak dan  yang membuat percakapan maupun pengiriman gambar alat vital itu bukan dia. Untuk memastikan dilakukanlah percakapan video.

“Ternyata benar, karena diseberang tampak sosok dia,” jelas H yang bekerja pada sebuah BUMN di Jakarta.

Maka, papar H, dilakukanlah pelaporan ke Provos. Berlanjut upaya memastikan bahwa terdakwa memang melakukan hal tersebut dengan cara mememenuhi ajakannya bertemu di hotel. Korban, atas sepengetahuan keluarga, kemudian memesan sebuah kamar hotel dan mempesilahkan. Pada hari H yang ditentukan, korban bergerak memasuki kamar hotel tadi, sedangkan H  dan 4 anggota Provos sengaja memantau dari parkiran.

Terdakwa ternyata memang sudah berada di dalam kamar hotel, bahkan dalam kondisi telanjang setengah badan langsung berusaha merengkuh korgan ketika masuk di kamar. Tapi korban berhasil lolos dari rengkuhan dan lari keluar sambil berteriak. Saat itulah terdakwa ditangkap dan diperiksa Provost, hingga kasusnya kini bergulir di PN Yogya.

“Kami sebenarnya sudah berupaya memaafkan asalkan terdakwa juga mau minta maaf kepada kami beserta seluruh famili. Tapi itu tidak dilakukan. Kami intinya minta keadilan agar terdakwa dihukum,” tegas H. (Met)


share on: