DIIKUTI 33 PEMATUNG: JSSP#3 Usung Tema Pasir Bawono Wukir

share on:
Kadisbud DIY Aris Eko Nugroho bersama tamu undangan saat melihat pameran maket di Tifoti Art Space || YP/ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Jogja Street Sclupture Project (JSSP) alias seni patug ruang publik pada tahun ini memasuki perhelatan ke-3. Digelar mulai 17-23 Oktober dan diikuti 33 pematung dari Indonesia dan Malaysia. Sedangkan tema yang diangkat tahun ini adalah: ‘Pasir Bawono Wukir’.

Dalam opening di Tifoti Art Space Jl.Timoho, Kamis (17/10) malam, Rosanto Bima selaku Ketua Organizing Committee mengatakan, proyek ini hadir sebagai bentuk kontribusi pematung atas perkembangan dinamika ruang public.

“Titik-titik patung ruang public ini akan kami tempatkan di wilayah Bantul, Kota Yogya dan Sleman. Kami ingin mengenalkan seni patung kepada masyarakat. Kami juga menggandeng pemuda, perangkat desa dan warga sekitar. Selain pameran utama, kami juga menghadirkan pameran maket, workshop serta diskusi. Benang merah JSSP#3 ini adalah kolaborasi seni, budaya dan wisata,” ungkap Rosanto Bima.

Kepala Dinas Kebudayaan (Kadisbud) DIY, Aris Eko Nugroho SP MSi ysng turut membuka acara menjelaskan, acara dua tahunan ini terselenggara berkat kerjasama Disbud DIY dengan Asosiasi Pematung Indonesia (API). “Terkait tema yang diusung kali ini, Pasir Bawono Wukir adalah merupakan sumbu garis filosofis Yogyakarta yang melintas dari selatan, tengah dan utara. Para pematung juga akan membuat karya maket (sample) yang akan dipamerkan ke ruang public. Hal ini sangat menguji daya kreatifitas para pematung,” kata Kadisbud DIY.

Dalam JSSP kali ini juga menghadirkan 3 kurator dari lintas disiplin yang berbeda. Yakni, Kris Budiman, Eko Prawoto dan Soewardi. Mereka bertiga didapuk untuk mengonsep kuratorial dan diterjemahkan para pematung. Kerja kurasi pada JSSP kali ini lumayan berat, lantaran berangkat dari garis filosofis Yogyakarta dengan tema Pasir Bawono Wukir. (Dol)

 

 


share on: