Dugaan Penipuan Arisan Online: PT Kuatkan Putusan PN, Terdakwa Ajukan Kasasi

share on:
Ilustrasi Palu Pengadilan || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYAKARTA) - Kasus penipuan arisan online Kim Central Asia (Arsol KCA) yang menyeret nama Novita Wahyuningsih kini memasuki babak baru, dirinya menyatakan kasasi atas putusan banding di Pengadilan Tinggi (PT) Yogyakarta.

Dalam perjalanan, setelah dinyatakan bersalah melanggar Pasal 378 KUHP dengan divonis 2 tahun penjara oleh Majelis Hakim Pengadilan Negeri (PN) Sleman pada Kamis (19/5/2022), terdakwa menempuh upaya hukum banding di tingkat PT Yogyakarta, akan tetapi Majelis Hakim menyatakan menguatkan putusan PN Sleman.

“Sudah ada putusan banding, perkara nomor 39/PID/2022/PT YYK pada Selasa, 12 Juli 2022, yang amarnya menyatakan menguatkan putusan PN Sleman, saat ini terdakwa melakukan kasasi,” jelas Humas PN Sleman, Cahyono SH menjawab konfirmasi yogyapos.com, Senin (15/8/2022).

Selain itu, beber dia, Majelis Hakim PT Yogyakarta yang diketuai Suntoro Husodo SH dengan hakim anggota Sucipto SH dan Yap Arfen Rafael menyatakan menerima permintaan banding dari terdakwa dan Jaksa Penuntut Umum.

“Dalam putusan juga disebutkan, menetapkan masa penahanan yang dijalani oleh terdakwa dikurangkan seluruhnya dari pidana yang dijatuhkan, memerintahkan agar terdakwa tetap dalam tahanan dan membebankan biaya perkara di tingkat banding sebesar Rp 2 ribu,” bebernya.

Senada diungkapkan oleh Kepala Seksi Pidana Umum (Kasi Pidum) Kejaksaan Negeri Sleman, Andika Ramadona SH menyatakan bahwa upaya banding yang dilakukan JPU telah diterima Majelis Hakim PT Yogyakarta.

“Upaya banding kami sudah diterima (Majelis Hakim-red), sana (terdakwa-) kasasi,” ungkap Andika.

Deru Jingga Puspa Kelana Zahra selaku korban dalam kasus ini, melalui tim Kuasa Hukum dari Kantor Palugada Law Firm yang terdiri dari Aziz Nuzula Hafid SH, Bramantya Puja Kesuma SH dan Mangasi Pardomuan Sianturi menyatakan apresiasi kepada Kejaksaan serta majelis hakim yang menyidangkan perkara ini sehingga terdakwa dinyatakan terbukti bersalah melakukan penipuan seperti yang didakwakan oleh JPU.

“Bahwa kami yakin kejahatan yang secara terstruktur ini mendapat hukuman yang setimpal, adil, dan mampu menjadi efek jera bagi pelaku, agar dikemdian hari hal seperti ini tidak terjadi lagi dan apabila ada korban lainnya yakinlah bahwa kejahatan serupa dapat diadili sesuai hukum yang berlaku di Indonesia,” tandas Aziz.

Sedangkan Budi Wijaya Hamdi SH selaku kuasa hukum terdakwa Novita Wahyuningsih, belum memberikan tanggapan saat dihubungi melalui pesan singkat dan panggilan pada aplikasi WhatsApp.

Arisan KCA sempat menjadi perhatian publik pada sekitar tahun 2020 silam. Dijalankan dengan sistem table (paket) dimana dalam tiap paket bisa diikuti oleh dua hingga sepuluh orang member. Para member arisan nantinya akan dimasukkan dalam group WhatsApp, dari sinilah arisan dijalankan oleh seorang bandar dan setiap table. Tak berjalan lama, sekitar bulan Januari 2021 aktifitas KCA mulai bermasalah hingga bergulir ke pengadilan. (Opo)

 


share on: