Yogyapos.com (BANTUL) - Kapanewon Dlingo Kabupaten Bantul gencar melakukan edukasi tentang kesadaran pencegahan dan pemberantasan Covid-19 melalui pendekatan kearifan lokal.
“Cara itu kami tempuh bersama di enam Kalurahan, karena kultur dan budaya masyarakatnya bisa dibilang lain dengan wilayah Kapanewon lainnya di Bantul,” ungkap Panewu Dlingo, Deny N Hartono SSTP MPA kepada yogyapos.com, di ruang kerjanya, Kamis (28/1/2021).
Menurutnya, salah satu budaya dan kebiasaan masyatakat Dlingo terbiasa mengadakan hajatan dengan mendatangkan banyak tamu. Maka untuk menghindari kerumunan saat pandemi Covid-19, phaknya tidak melakukan pelarangan. Melainkan menganjurkan dan menghimbau agar tamunya dibatasi maksimal 50 orang.
Semua Kalurahan yaitu Dlingo, Terong, Muthuk, Temuwuh, Jati Mulyo dan Mangunan setidaknya seminggu sekali melakukan semacam patroli untuk mengajak masyarakat agar mentaati ketentuan protokoler kesehatan.
“Semula banyak masyarakat Dlingo yang tidak percaya adanya Covid-19 dan kurang memerhatikan protokoler kesehatan. Tetapi setelah tetangganya ada yang dinyatakan positif terkena Covid-19, mereka berangsur percaya dan mulai patuh prokes,” ungkap Deny.
Dikatakan, hingga Kamis (28/1/2021) Pukul 15.00 WIB jumlah penderita Covid-19 di Dlingo mencapai 14 orang. Mereka kesemuanya isolasi mandiri di rumahnya masing-masing dengan memperoleh kearifan lokal oleh para tetangga yang dikoordinasikan oleh Dukuh dan Lurah. Cara seperti itulah yang berjalan di Dlingo.
Ditanya tentang apa semua desa yang ada sudah punya shelter dan adakah warga yang kini berisolasi di shelter, Deny mengatakan keenam desa kesemuanya telah punya. Bahkan semua padukuhan di Kalurahan Jati Mulyo telah memilikinya.
“Namun kesemua shelter hingga kini belum digunakan, karena penderita memilih berisolasi secara mamdiri di rumahnya,” pungkas Deny. (Supardi)
