Launching Buletin 'Neng Ning Nung Nang' Songsong 100 Tahun Tamansiswa

share on:
Sejumlah inisiator dan awak redaksi 'Neng Ning Nung Nang' usai launching, Selasa (19/1/2021) || YP-Ist

Yogyapos.com (YOGYA) - Sebuah buletin bervisi kebangsaan ‘Neng Ning Nung Nang’ telah terbit di Yogyakarta, diinisiasi oleh komunitas Ki Hajar Dewantara (KHD) Institute bekerjasama dengan para sesepuh Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa (PKBTS), Selasa (19/1/2021).

Sesuai dengan para inisiatornya, buletin ini konsen untuk menjadikannya sebagai ruang dialog menyambut satu abad Tamansiswa pada 2022 mendatang. Suatu ruang dialog yang dibangun diluar mekanisme Kongres, yang bisa mensinergikan para pemikir Tamansiswa, bahkan bisa menjadi ruang musyawarah untuk mengurai berbagai problematika Tamansiswa.

“Kami melalui Neng Ning Nung Nang ini mencoba mengundang siapa pun menulis Esai-esai Kebangsaan yang diterbitkan menjadi buku Esai-esai 100 Tahun Tamansiswa dan penulisan Puisi dengan harapan menjadi ruang baru agar insan Tamansiswa maupun masyarakat umum bisa meresapi ajaran KHD untuk diimplementasikan tidak hanya untuk perhelatan Satu abad Tamansiswa tetapi lebih jauh lagi untuk Satu Abad NKRI th 2045,” ujar Ki Priyo Mustiko selaku Pemimpin Umum.

Ia mengungkapkan, para inisiator Neng Ning Nung Nang ini terinspirasi Rakernas PKBTS 21 Desember 2020 dan serial jagongan Merdeka yang diadakan PKBTS melalui aplikasi zoom seperti sebuah panggung yang secara terbuka bisa saling melihat wajah Tamansiswa hari ini. Ada Optimisme tetapi ada yang ngeri melihat wajah kita sendiri menghadapi usia Satu Abad tahun 2022 nanti. Kita seakan saling mengadu kepada Maha Guru kita Ki Hadjar Dewantara, bahwa sampai hari ini Tamansiswa masih berdiri tegak, ada kurang lebih 30 ribu mahasiswa yang memenuhi ruang Universitas Sarjana Wiyata, ada Ratusan sekolah dan ribuan siswa di 136 cabang di seluruh Nusantara.

“Tetapi jumlah itu menjadi tidak berarti jika dibandingkan dengan Muhamadiyah dan NU yang terus tumbuh bergerak, sedang jaringan sekolah di Tamansiswa justru semakin susut dan kehilangan banyak asset,” tukasnya.

Ada romantisme tentang nama besar tetapi tidak ditindaklanjuti dengan menerjemahkan kebesaran nama Tamansiswa, yang setiap tahun Hari lahir KHD dijadikan hari libur Nasional menjadi hari Pendidkan Nasional. Sangat bangga dengan tagline Tut Wuri Handayani selalu terpampang di logo resmi Kementerian Pendidikan, lalu apa arti semuanya jika Pendidikan

di Tamansiswa tidak moncer, tidak kompetitif di era peradaban digital sekarang ini? Ada kecemasan dan gagap untuk memngambil sikap dan mensiatinya ditengah disharmonis diantara organ-organ Tamansiswa, soal posisi Majelis Luhur sebagai nakhoda utama, PKBTS yang memposisikan sebagai Pagar Hidup, Hubungan Ibu Pawiyatan, UST dan para alumni TDIP, Taman Madya sampai IKASATA, Ada apa? Perlu pisau tajam untuk bisa membedahnya, dan hati yang jujur, ikhlas serta arif, equal bermusyawarah untuk kembali menegakkan benang kusut. Ada beberapa catatan yang menarik untuk kita diskusikan dan diurai yang tidak akan selesai dalam satu-dua tahun ke depan, diantaranya soal ideologisasi ajaran KHD sebagai guiden untuk mentransformasikan ajaran KHD kepada generasi milenial yang ke depanya akan menjadi pemimpin negeri ini.

“Krisis daya kritis di tengah narasi besar tentang masalah kebangsaan kita yang sedang diuji dengan berbagai politik belah bamboo seolah-olah seperti ada teriakan memanggil INDONESIA HARI INI MEMBUTUHKAN TAMANSISWA. Dan seberapa kepedulian kita? Sepertinya kita kehilangan leader/pemimpin yang punya visi kebangsaan yang kuat. Adakah ruang dialog yang dibangun diluar mekanisme Kongres? Ruang yang bisa mensinergikan para pemikir Tamansiswa, bahkan bisa menjadi ruang musyawarah untuk mengurai berbagai

problematika Tamansiswa,” pungkasnya.

Sementara Sigit Sugito selaku Pimpina Redaksi menyatakan, peluncuran Buletin ini juga mempunyai pesan untuk menjadi ruang konsolidasi diantara para alumni Tamansiswa dan keluarga besar Tamansiswa, dari tingkat Taman Indria Taman Dewasa, Taman Madya sampai ke Universitas Sarjana Wiyata. Sebuah bulletin kecil hanya 12 halaman tetapi kami berkeinginan ini menjadi media awal menjadi ruang komunikasi dan silaturahmi para aktivis dan para intelektual keluarga Tamansiswa, jika diibaratkan untuk merajut kekuatan Tamansiswa.

“Media ini akan pula diformat cetak dan digital agar jangkauan bisa tersebar di 136 cabang Tamansiswa se Nusantara. Ya kita dari komunitas Institute KHD bekerjasama dengan para sesepuh PKBTS (Perkumpulan Keluarga Besar Tamansiswa) serta para tokoh masyarakat mengawali berkegiatan Menyongsong Satu Abad Tamansiswa tentu saja tidak menutup lembaga atau komunitas lain untuk berbuat sama dalam menyambut kegembiraan di Satu Abad Taman siswa tahun 2022,” jelasnya.

Tercatat duduk di jajaran redaksi, Ki Prijo Mustiko (Pemimpin Umum), Ki Sigit Sugito (Pemimpin Redaksi). Berikutnya Nyi Umi Kulsum, Ki Wahyana Giri MC, Ki Sumanang Tirta Sujana dan Ki Pamuji Raharjo (Dewan Redaksi). Sedangkan Dewan Pengarah terdiri Ki HM Idham Samawi Ki Prijo Dwiarso, Ki Sapto Amal Damandari, Ki Sugiharto, Ki Cahyono Agus, Ki Amiluhur Soeroso dan Ki Bambang Widodo. Sekretariat Redaksi di Jalan Garuda 974 B Sorosutan Yogyakarta. (*/Met)

 

 

 


share on: