Pasar Lawas Mataram Serasa Kembali Hidup Bersama Ki Ageng Pemanahan

share on:
Gapura Masuk lapak Pasar Lawas Mataram || YP-Yuliantoro

Yogyapos.com (YOGYA) - Terik mulai berkurang, sore menjelang. Beberapa meter arah barat Pasar Legi Kotagede, baik pejalan kaki maupun pengendara motor, tampak berduyun menuju arah selatan. Sepanjang gang kecil itu dihiasi berbagai ornament berbahan dasar bambu, baik berupa keranjang makanan, dolanan anak, hingga sangkar burung. Setelah memasuki gapura yang bentuknya mengingatkan pada suasana Bali, ratusan orang sudah berkumpul. 

BACA JUGA: Akhmad Syaikhu Instruksikan Seluruh Kadernya Menangkan Anies Baswedan-Muhaimin di Pilpres 2024

Di latar belakang masjid yang megah, terhampar aneka ragam kuliner jadul. Makanan-makanan tradisional seperti gatot, tiwul, kipo, jenang gempol, legomoro (lemper), putri mandi, adrem, bakmi jowo, endog abang, ledre, apem ndeso, sego gudeg, sate kere, wedang uwuh, wedang sere, wedang ronde, limun, dan banyak lagi tersedia untuk dinikmati. Semua ini adalah bagian dari Pesona Pasar Lawas Mataram Kotagede.

Lapak Jenang Gempol || YP-Yuliantoro

Even tahunan ini pertama kali digelar pada tahun 2018 di halaman Masjid Gedhe Mataram Kotagede, Kampung Dondongan, Desa Jagalan, Kapanewonan Banguntapan, Bantul. Pada  tahun 2020 dan 2021 tidak terselenggara karena adanya pandemi Covid-19. Meskipun begitu, semangat untuk mempertahankan warisan kuliner jadul tetap terjaga.

BACA JUGA: Pasca Dideklarasikan PKS, Anies: Koalisi Makin Solid Mengusung Misi Perubahan

Suasana Pasar Lawas Mataram Kotagede mewujudkan sebagian gambaran masa lalu yang oleh generasi Z hanya dikenali dari gambar ataupun cuplikan film. Lapak-lapak dagangan dibangun dengan menggunakan bambu sebagai strukturnya, dan atap-atap terbuat dari pelepah tebu kering yang membuatnya tampak sederhana namun unik. Meja-meja dan kursi-kursi juga terbuat dari bambu, menciptakan suasana yang otentik.

Tidak hanya itu, ornamen-ornamen seperti gapura dan photo booth juga menggunakan bahan alang-alang, merang, dan damen yang memberikan sentuhan nostalgia. Para pedagang berpakaian tradisional, menghadap meja yang penuh dengan jajanan. Saat malam tiba, lampu-lampu redup yang dinyalakan menambah nuansa jadul yang misterius pada kompleks masjid yang juga bersebelahan dengan makam kerajaan. 

Jajanan Ndog Abang || YP-Yuliantoro

Sayangnya di tengah segala setting kejadulan ini, penggunaan plastik cukup dominan. Di tengah situasi Jogja Darurat Sampah yang sudah berlangsung hampir dua bulan ini tentu hal ini menjadi preseden buruk di mata para penggiat lingkungan. Terlebih tempat pembuangan sampah yang disediakan panitia tidak bertuliskan pemisahan sampah plastik dan sampah organik.

BACA JUGA: Anies Baswedan Terima Tombak Tjakra di Makam Panembahan Senopati

Seorang pengunjung berkomentar, “Sebaiknya penggunaan plastik dibatasi seminimal mungkin. Meski mungkin sedikit lebih ribet, makanan bisa dibungkus menggunakan daun pisang, daun jati, atau wadah berbahan kertas. Tempat minuman pun bisa menggunakan gelas atau botol kaca dan batok yang bisa dicuci pakai ulang. Tempat sampah dari keranjang bambu dan disertakan tulisan agar sampah plastik dan organik terpisah,” 

BACA JUGA: Puluhan Wartawan Ikuti Turnamen Bulu Tangkis SIWO PWI Sleman

Pesona Pasar Lawas Mataram Kotagede adalah perayaan yang mengingatkan kita akan kekayaan budaya dan kuliner tradisional. Melalui peristiwa ini, generasi muda dapat menghargai warisan nenek moyang mereka dan merenungkan bagaimana cara menjaga tradisi sekaligus mengurangi jejak plastik modern. Dalam kesederhanaannya, pasar ini membawa kita pada perjalanan yang mempesona melintasi sejarah jadul yang tak terlupakan.

Menikmati Jajan Jadul di pendopo paseban komplek Masjid Gedhe Mataram Kotagede || YP-Yuliantoro

Pesona Pasar Lawas Mataram berlangsung Jumat-Minggu, 15-17 September 2023. Perayaan ini dibuka oleh Wakil Bupati Bantul, Joko Purnomo. Tahun ini tema yang diangkat adalah ‘Nggugah Sepi Sarana Ngupadi Rejeki’. Tema ini mengundang masyarakat untuk merenungkan makna dalam kesendirian dan menggugah semangat untuk menghasilkan kreativitas serta kesempatan ekonomi.

Sebanyak 52 stan kuliner jadul khas Kotagede turut berpartisipasi dalam acara ini, dengan peserta utama berasal dari warga Desa Jagalan. Ketua Panitia Pasar Lawas Mataram, Sulton Abdul Aziz, menjelaskan kehadiran semua tenant ini adalah bagian dari visi pemberdayaan masyarakat, dan oleh karena itu, mereka tidak dikenakan biaya sewa. Ini adalah wujud nyata komitmen untuk memberikan peluang kepada pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk berkembang.

BACA JUGA: Korban Gantung Diri di Pogung, Polisi Memastikan Tak Ada Penganiayaan

Harga kuliner yang dijajakan dibatasi dengan seksama untuk memastikan aksesibilitas bagi semua pengunjung. Makanan ringan dan minuman dihargai antara Rp 2.000 hingga  Rp 5.000, sementara makanan berat seperti bubur dan beragam bakmi tidak boleh melebihi Rp 10.000. Ini berarti bahwa semua orang, tanpa memandang lapisan sosial atau ekonomi, dapat menikmati jajanan jadul yang lezat dan berharga terjangkau.

Melihat list menu jadul || YP-Yuliantoro

Tak hanya bernostalgia kuliner jadul. Di Pasar Lawas Mataram juga disuguhkan aneka kesenian tradisonal lokal Desa Jagalan, seperti sholawatan, wayang kulit, wayang tingklung, serta dolanan anak.

Pasar Lawas Mataram Kotagede adalah perayaan yang mengingatkan kita pada sejarah dan ekonomi kota ini pada masa Kerajaan Mataram Islam. Pada awalnya, Ki Ageng Pemanahan, setelah membabat hutan Mentaok, memutuskan untuk membangun pasar sebelum istana. Ini karena pasar dianggap sebagai pusat ekonomi dan sosial yang penting bagi masyarakat Mataram.

BACA JUGA: KPK Tahan Dua Tersangka Korupsi Bansos Beras Kemensos

Melalui Pesona Pasar Lawas Mataram Kotagede, kita dapat merasakan kembali masa lalu sambil menikmati makanan jadul. Acara ini mengajarkan pentingnya menjaga keberagaman budaya dalam sejarah Kota Kotagede yang kaya. Dalam pasar ini, sejarah dan kreativitas masa kini bergabung, memberikan pengalaman tak terlupakan bagi pengunjung. Di setiap sudut pasar, kita merasakan sejarah yang hidup dan terus berkembang. (Yuliantoro)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 


share on: