Tuduh Seperti Mengubur Kirik, Anggota Dewan Bantul Didemo Ratusan Relawan

share on:
Aksi unjukrasa di depan Gedung DPRD Batul menuntut Sup mencabut pernyataannya dan meminta maaf melalui media massa || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Ratusan relawan penanganan Covid-19 dari berbagai organisasi menggelar demo di DPR Bantul, Senin (22/2/2021). Mereka mengecaman dan menuntut seorang Anggota dewan Bantul dari Partai Bulan Bintang (PBB) berinisial Sup, yang mengeluarkan pernyataan tidak etis kepada relawan. Para relawan diantaranya terdiri dari Ferum Peduli Resiko Bencanan,(FPRB), BPBD, Tim SAR dan RAPI.

Para demonstran datang ke DPRD mengendarai sepeda motor dan mobil dari titik kumpul di wilayah kalurahannya masing-masing. Kedatangan mereka diterima oleh Subhan Nawawi (PKB) dan Damba Aktivis.

Sup dalam sambutan di suatu acara pernikahan di Kulonprogo, Minggu (21/2/2021) menyatakan, cara pemakaman jenazah selama pandemi Covid-19 layaknya mengubur (maaf) kirik. Covid-19 dijadikan proyek oleh Dinkes dan relawan. Pernyataan Supriyono disampaikan pada saat ia menjadi pembicara ceramah di suatu acara pernikajan di Kabupaten Kulonprogo, pada Minggu (21/2/2021).

Pera pengunjurasa membentangkan poster, diantaranya bertuliskan ‘Kami Relawan Tanpa Memperoleh Imbalan dan Tidak Melakukan Pemakaman Penderita Covid-19 Seperi Mengubur Anjing’. Mereka juga menyampaikan orasi satu per satu, intinya mengecam dan menuntut pertanggung jawaban Sup atas pernyataannya yang melukai para relawan.

“Kami menuntut agar yang bersangkutan (Sup, red) selambat lambat 1 kali 24 jam mencabut pernyataanya. Selain itu, yang bersangkutan harus memintaa maaf kepada para relawan melalui media massa. Apabila tidak dilakukan, maka kami akan menuntutnya sesuai dengan aturan yang berlaku,” kata Ketua FPRB Bantul, Waljito SH.

Waljito menegaskan, selama ini para relawan dalam memakamkan para jenazah Covid-19 sesuai dengan ketentuan (tidak seperti mengubur anjing) sebagaimana yang ada dalam pernyataan Sup.

Merespon unjuk rasa itu, Wakil Ketua DPRD Bantul Subhan Nawawi didampingi Damba Aktivis, menyatakan akan meneruskan aspirasi tersebut kepada Dewan Kehormatan Dewan (DKD) DPRD Bantul.

“Tuntutan pengunjukrasa dan hasil pertemuan antara kami dan para perwakilan relawan akan kami sampaikan ke DKD Bantul. Namun apabila ada delik aduan, maka dipersilahkan,” kata Subhan Nawawi.

Sementara Sup yang video pernyataannya viral itu tak tampak di Gedung DPRD Bantul selama berlangsung hingga berakhirnya aksi unjukrasa. Informasi menyebutkan, yang bersangkutan sedang berada di Purworejo. 

Sedangkan melalui komunikasi WhatsApp, yang bersangkutan menyatakan memang diundang acara pernikahan di Bothokan Kulonprogo. Sedangkan video yang tersebar di masyarakat itu merupakan potongan, video yang dipotong.

“Saya dak nyinggung FPRB. Tapi mengkritisi kinerja Dinas Kesehatan biar lebih kritis,” katanya.

Menurutnya, pernyataan itu terkait adanya temuan kasus yang terjadi di Proketen, Trimurti Srandakan yang meninggal di RS Harjo Lukito. “Masyarakat yang gali kubur datang ke rumah lapor,” jelasnya. (Spd/Dol)

 

 


share on: