30 TAHUN JUMENENG HB X : Digelar Simposium Internasional dan Pameran Naskah-naskah Kuno

share on:
GKR Hayu dan GKR Bendara sampaikan keterangan kepada wartawan berkaitan Mangayubagya 30 Tahun Jumeneng Sri Sultan HB X | YP/Affan Safani Adham

Yogyapos.com (YOGYA) - Hingga saat ini hanya tinggal sedikit peninggalan naskah-naskah kuno atau manuskrip asli yang tersisa dan tersimpan di museum atau di Keraton Yogyakarta setelah hilang dan ditemukan di British Library Inggris. Misalnya, manuskrip Teaching of Hamengku Buwono I, yang berisi cara memimpin dan hal yang diajarkan Sri Sultan HB I.

Dalam catatan sejarah, Keraton Yogyakarta kehilangan banyak naskah yang berisi berbagai ajaran leluhur sejak peristiwa Geger Sepehi tahun 1812. Berbagai naskah yang telah 207 tahun berada di Inggris, tahun ini akan diserahkan kepada keraton dalam bentuk digital. 

Sebab itu Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat akan menggelar Mangayubagya 30 Tahun Sri Sultan Hamengku Buwono X bertahta berdasarkan tahun Masehi pada tanggal 7 Maret 2019. Kegiatan ini dimeriahkan dengan rangkaian simposium internasional dan pameran naskah Keraton Yogyakarta, 5 Maret – 7 April 2019

“Momentum ini dianggap penting untuk diperingati dengan kegiatan akademik agar pengetahuan Jawa yang telah lama hilang bangkit kembali,” kata GKR Bendara, di Bale Raos, Jumat (8/2/2019).

Peringatan Tingalan Jumeneng Dalem atau ulang tahun kenaikan tahta Sri Sultan Hamengku Buwono X mengangkat tema besar ‘Budaya Jawa dan Naskah Keraton Yogyakarta’, dilaksanakan berdasarkan kalender Jawa dalam upacara sugengan yang dilanjutkan dengan Labuhan.

“Hal itu diharapkan mampu menjadi sarana edukasi dan penyebaran nilai budaya Jawa yang terkandung di dalam naskah-naskah lama,” terang GKR Hayu, putri ke 4 Sri Sultan Hamengku Buwono X yang juga Ketua Panitia simposium internasional.

Menurut GKR Hayu, simposium internasional dilaksanakan pada 5-6 Maret 2019 di Grand Ballroom Royal Ambarrukmo Hotel. Dibuka dengan Beksan Jebeng, yang merupakan karya pendahulu Keraton Yogyakarta Sri Sultan Hamengku Buwono I, kemudian dilanjutkan pidato pembukaan oleh Sri Sultan Hamengku Buwono X. 

Selama dua hari, diskusi akan dikemas dalam empat topik: sejarah, sastra, seni dan sosial-budaya. Membahas peristiwa seputar Geger Sepehi di Keraton Yogyakarta (sejarah), naskah-naskah Keraton setelah peristiwa Geger Sepehi (filologi), pertunjukan seni dan naskah Keraton Yogyakarta serta naskah Keraton dan ilmu pengetahuan sosial-budaya.

Ketika hanya tinggal tiga naskah kuno yang tersisa keraton kehilangan nilai luhur, rasanya sayang sekali bila generasi muda sekarang tidak tahu kehilangan apa.

Bagi GKR Hayu, sudah lama jeraton mencoba mengembalikan naskah-naskah kuno itu ke Indonesia. "Salah satunya dengan membawa pulang manuskrip dalam bentuk digital," terang GKR Hayu yang menambahkan saat ini ada 75 manuskrip yang ada di Inggris dan Belanda mulai didigitalisasi.

Di sisi lain sebagaimana dikatakan Ketua Panitia Mangayubagya 30 Tahun Masehi Sri Sultan Hamengku Buwono X, GKR Bendara, digitalisasi naskah kuno ini sebagai titik awal mengembalikan manuskrip dari berbagai belahan dunia. "Dan keraton akan mencoba mengumpulkan jejak sejarah yang selama ini hilang," tetang GKR Bendara. (Afn)


share on: