Al Ghoriib, Kisah Kemungkinan Tak Biasa Mualaf Katrin Bandel

share on:
Para peserta diskusi tampak antusias || YP/Markaban Anwar

Apa itu Al Ghoriib, dan mengapa kemudian pilih sebagai judul film? Ghoriib berasal dari Bahasa Arab, dari kata “garaba” yang artinya asing. Sedangkan ghariib pengertiannya adalah bacaan-bacaan yang tidak lazim, sesuatu yang tidak biasa. Dipilih sebagai judul film karena ide dasarnya bermula dari pengamatan pada sosok Dr Katrin Bandel, muallaf asal Jerman yang menjalani kehidupan nyantri di Pondok Al-Munawwir Krapyak, Yogyakarta, lima tahun lalu. Kehadiran Katrin Bandel sebagai santri di komplek Pondok Krapyak adalah sesuatu yang tidak lazim. Rasa penasaran pada yang tidak biasa inilah yang menjadi ide awal saya menggarap film dokumenter al Ghoriib.

Demikian ungkap Vedy Santoso pada acara Pemutaran dan Diskusi Film ‘Al Ghoriib: Sebuah Kisah tentang Kemungkinan yang Tidak Biasa, di Gedung Kantor PCNU Bantul, Jum’at (14/2/2020) sore. Glaran ini diselenggarakan oleh Lesbumi (Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia) Kabupaten Bantul. Dimulai dengan pemutaran film ‘Al Ghoriib” kemudian dilanjutkan acara diskusi dengan menghadirkan Vedy Santoso (sutradara filmal-Ghoriib), Dr Katrin Bandel (santri PP Al Munawwir, subyek utama filmal-Ghoriib), dan Awaludin Mualif (Ketua Lesbumi Yogyakarta).

Ketua Lesbumi Bantul, Ahmad Zaki menuturkan penyelenggaraan acara ini berupaya untuk menggugah para pemuda-pemudi NU agar semangat berkarya. Kalau menengok sejarah tahun 50-an, ada tokoh Usmar Ismail menyutradarai film Darah dan Do’a yang merupakan film Indonesia pertama secara resmi diproduksi oleh Indonesia setelah kemerdekaan. Film itu diproduksi Perusahan Film Nasional Indonesia (Perfini). Usmar Ismail selain dikenal sebabagai Bapak Perfilm-an Indonesia karena dia adalah pendiri Perfini. Selain itu, dia adalah tokoh Lesbumi, sebuah lembaga kebudayaan yang didirikan Nahdlatul Ulama. Keahlian dalam produksi film menjadikan Usmar dipercaya sebagai ketua umum pertama Lesbumi kala itu. Kisah sejarah ini sedianya menjadi dan penggugah bagi kita, bahwa soal perfilm-an generasi ‘sepuh’ NU sudah memberikan tauladan yang hebat, dan itu patut kita tiru untuk membuat karya-karya yang baik.

Poin lainnya perhelatan gelaran pemutaran film ini adalah dalam rangka pengingat pada Hadratus Syekh KH Hasyim Asy’ari, tokoh pendiri NU yang lahir pada 14 Februari. Ingatan pada ulama pendiri NU kita harapannya sebagai momentum kepada kita semua, terutama kaum muda untuk cinta pada tanah air. “14 Februari bukan hanya soal Valentine Day, namun kita sebagai warga NU mari memahamkan diri bahwa 14 Februari adalah hari cinta tanah air,” ujar lanjut Zaki

***

 

Film al-Ghoriib mengisahkan pencarian seorang manusia akan kerinduan spritual. Aktivitas nyantri si tokoh --Katrin Bandel-- dalam lingkungan pesantren ditangkap sebagai sebagai sesuatu yang tidak biasa oleh Vedy Santoso. Kehidupan yang tampak tidak biasa itu itu kemudian diolah dan diproduksi menjadi film dokumentar. Dan nasib baik film dokmenter ini mendapat penghargaan Juara Ketiga Kompetisi Film Pendek Dokumenter dalam ajang Muktamar NU ke-33 pada 2015 silam.

“Kalau kita lihat-lihat di youtube, kisah-kisah seorang muallaf kebanyakan visualnya menampakkan bahwa si tokoh mendapat pencerahan atas hadirnya keyakinan baru yang dianut, dan kadang terkesan ada penghakiman pada keyakinan lama yang dianut sebagai sesuatu yang buruk. Kalau saya tidak seperti itu. Saya masuk Islam, saya anggap sebagai keberlangsungan kehidupan saya atas kebelangsungan kehidupan sebelumnya. Saya tidak merasa dan tidak mau mengangap bahwa keyakinan sebelumnya itu salah atau buruk. Ya, biasa saja. Lebih pada kerinduan akan spiritual, seperti ada yang asing--sesuatu yang entah apa--yang menarik hati saya ke Islam. Saya merasa lebih nyaman dalam tahapan kehidupan sekarang, lalu kelangsungan hidup saya kedepannya bagaimana, ya saya tidak tahu, Ya, mengalir saja, saya belajar ber-Islam dan menikmatinya. Nah poin inilah, yang saya tekankan kepada Vedy, sehingga saya mau menjadi subyek dalam film dokumenter ini,” ungkap Katrin Bandel

Melalui pengamatan dan bacaan-bacaan yang saya pahami, menjadi muallaf di Indonesia itu sesuatu yang rentan untuk dipolitisasi. Maka pada awal saya masuk Islam, saya tidak mengaktualkan diri ke umum. Kemudian, setelah saya sering berkunjung ke Pesantren Krapyak, mengaji kepada Bu Ida-- waktu itu belum nyantri mondok, lambat laun saya merasa yakin untuk mengekspresikan ke-islaman saya. Itu semua adalah proses dinamis yang panjang, hampir dua tahun saya menutup ke-islaman diri saya. Lingkungan pesantren Krapyak-lah akhirnya membuat saya berhenti menutup diri, motivasinya supayaeksistensi saya dapat bermanfaat bagi santri lain untuk lebih giat beribadah dan menghayati Islam dengan lebih mendalam. Bagi saya, sesuatu peribadahan yang tidak kita hayati hanya menjadi sesuatu kebiasaan tanpa makna. Selain karena kerinduan spiritual, ya tentu perjuangan, saya belajar dari nol untuk berusaha lebih memahami Islam, mengaji huruf hijaiyah, hingga lanjut mengaji Alquran. Hingga sekarang pun saya masih belajar,” ucap Katrin

Pendedah diskusi lainnya, AwaludinMualif menyampaikan bahwa dalam visual film al-Ghoriib memperlihatkan sang muallaf-Katrin ditarik oleh sustu kerinduan yang tidak diketahui, yakni merasa nyaman dengan Islam. Selama tinggal di Pesantren al-Munawwir Krapyak hidup dalam pluralisme bersama santri-santri lainnya yang berasal dari berbagai suku dan wilayah Indonesia. Kehidupan pesantren Krapyak pada film ini tidak ada visualisasi gambar atau dialog perihal penghakiman atas agama atau keyakinan lama si muallaf. Peralihan kepada keyakinan baru tampil begitu saja mengalir. Hal inilah yang sangat menarik dalam film ini.

“Pada dialog dalam film. Ketika Ibu Nyai Ida Rufaida (pengasuh PP al-Munawwir, red) mengatakan, walau begini-begini, santri saya ada yang doktoral. Kemudian Katrin menjawab, kalau schoolarship di kampus saya doktor, namun di sini saya hanyalah anak TK. Adegan ini juga penting dan menarik. Di situ terlihat bahwa Katrin-sang muallaf memiliki kerendahan hati yang hebat dan kesadaran posisi yang baik, bisa menempatkan perbedaan lingkungan kampus dan pesantren dengan tepat.

“Film ini sangat menyentuh hati dan bisa memotivasi bagi orang-orang yang menganut Islam sejak kecil dengan hadirnya pengetahuan-pengetahuan baru supaya terus ingat kepada Sang Pencipta alam semesta, Allh SWT.” ungkap Awaludin

Acara pemutaran dan diskusi film Al-Ghoriib dimulai pukul 14.00 WIB itu berjalan lancar. Pengunjung yang memenuhi Aula PCNU Bantul kebanyakan adalah para remaja, santri-santri pesantren daerah Bantul, dan para anggota IPNU-IPPNU Bantul. Acara diskusinya juga berlangsung meriah dengan dimoderatori Miko Cakcoy Pathonegoro dan Riza Marzuqi berakhir pukul 17.00. (Markaban Anwar, Kontributor yogyapos.com di Bantul)


share on: