Apa Sebenarnya Hipnosis, Hipnotis dan Hipnoterapi?

share on:
Agus EH ,Penemu SBMS Methode & Trainer di Quantum of Mind || YP-Ist

Hypnotherapy (Hipnoterapi) secara resmi diterima sebagai alat terapeutik yang sah sejak 1955 – BMA (British Medical Association), 1956 – Catholic Curch, Vatican, 1958 – AMA (American Medical Association), 1960 – APA (American Psychological Association).

Dalam kesempatan ini saya ingin sedikit mengulas tentang apa sebenarnya hipnosis, hipnotis dan hipnotherapi itu, apakah sama atau tidak?

Hipnosis adalah suatu cabang ilmu pengetahuan yang terus berkembang dengan pesat sekali. Di luar negeri, khususnya di Amerika, Inggris, Jerman, hipnosis telah diajarkan secara resmi di berbagai lembaga pendidikan terkemuka disana. Banyak sekali para pakar pikiran menuliskan tentang hipnosis, namun apabila kita teliti dengan cermat ternyata apa yang mereka jelaskan dalam jurnal atau buku, semuanya mengacu pada satu konsep dasar. Konsep dasar inilah yang harus dikuasai agar bisa mengerti hypnosis, aplikasi dan manfaat dalam kehidupan sehari-hari dengan tepat.

Dahulu sebelum mempelajari hipnosis, saya memiliki pandangan yang negatif terhadap hipnosis dan segala hal yang sejenis dengan itu. Tetapi setelah saya mendalami dengan serius akhirnya saya mengerti dan bahkan jatuh cinta pada ilmu ini, dan sayapun bisa memetik manfaat yang luar biasa dari cabang ilmu psikologi ini, baik untuk diri saya pribadi dan keluarga, maupun untuk membantu orang lain.

Kata hipnosis berasal dari kata hipnos, yaitu dewa tidur pada mitologi Yunani. Dalam kamus psikologi kata hipnosis adalah ilmu atau metode komunikasi dengan dan untuk menjangkau pikiran bawah sadar. Hipnotisme itu sama dengan hipnosis.

Hipnotis adalah orang yang melakukan hipnosis, sama seperti orang ahli menyanyi disebut vokalis, ahli gigi disebut dentis, ahli piano disebut pianis. Jadi intinya hipnotis itu adalah orangnya.

Sedangkan hipnoterapi adalah terapi psikologi yang menggunakan metode hipnosis ditambah dengan teknik-teknik atau tools tertentu untuk mengatasi masalah atau kendala psikologi dari seseorang (client).

Dengan demikian dapat disimpulkan, hipnosis itu ilmunya, hipnotis itu pelakunya (orangnya), hipnoterapi itu teknik terapinya. Kalau hipnoterapis itu pasti hipnotis tapi kalau hipnotis belum tentu hipnoterapis (sebutan dari terapis yang melakukan hipnoterapi). Hipnoterapis pasti bisa melakukan apa yang bisa dilakukan hipnotis, namun hipnotis belum tentu bisa melakukan apa yang bisa dilakukan hipnoterapis.

Saat ini masyarakat Indonesia mulai mengenal hipnosis, baik dari pertunjukkan di televisi seperti Romi Rafael maupun tayangan Uya Emang Kuya serta dari pemberitaan di media masa. Seiring dengan semakin gencarnya publikasi, masyarakat juga dihadapkan pada berbagai informasi yang tidak tepat atau bahkan salah mengenai hipnosis dan itu sangat memprihatinkan. Beberapa pandangan yang salah tentang hipnosis, yang beredar di masyarakat, antara lain, hipnosis adalah praktek supranatural atau klenik, hipnosis sama dengan gendam atau kejahatan, hipnosis adalah penguasaan pikiran, hipnosis adalah ilmu sesat yang menggunakan kekuatan mahluk halus, hipnosis adalah sama dengan tidur dan kalau di hipnosis itu tidak sadar.

Apakah hipnosis seperti itu? Tentu tidak. Pandangan yang salah tentunya akan merugikan masyarakat. Masyarakat yang tidak mengerti hipnosis akan menutup diri dan menolak mempelajari hipnosis, dan tentunya tidak akan bisa mendapatkan manfaat luar biasa dari praktek hipnosis.

Kondisi hipnosis sebenarnya identik dengan gelombang otak alfa dan theta. Gelombang alfa berada pada kisaran 8 – 12 Hz dan theta pada 4 – 8 Hz. Saat seseorang berada dalam kondisi trance maka kisaran gelombang otaknya pasti berada di antara alfa dan theta.

Setiap orang dalam satu hari minimal pasti berada dalam kisaran gelombang ini yaitu saat mau tidur dan saat baru bangun tidur. Secara alamiah saat kita mau tidur gelombang otak akan turun dari beta, ke alfa, ke theta, dan akhirnya di delta (tidur pulas tanpa mimpi).

Demikian pula sebaliknya. Saat kita bangun tidur maka gelombang otak akan naik dari delta, ke theta, ke alfa, dan akhirnya di beta atau sadar penuh.

Anda pasti pernah nonton sinetron, bukan? Saat adegan sinetron sedang seru-serunya anda pasti merasakan tubuh menjadi tegang, napas berubah, dan jantung berdebar lebih kencang. Mengapa? Bukankah anda tahu bahwa apa yang sedang anda tonton bukanlah suatu kejadian nyata? Pikiran sadar tahu bahwa tayangan sinetron itu bukan sesuatu yang nyata. Namun pikiran bawah sadar menerima apa yang anda lihat dan alami sebagai suatu hal yang nyata.

Saat menonton sinetron, perhatian anda sangat terpusat pada apa yang sedang berlangsung di layar sehingga anda tidak mendengar suara-suara lain, misalnya tidak dengar dipanggil oleh orang tua, atau tidak mendengar suara handphone yang berbunyi. Pada saat seperti itu anda sangat sadar dengan keberadaan diri anda yang sedang menonton sinetron. Semua sensasi perasaan bisa anda rasakan saat menonton tayangan itu, misalnya perasaan sedih, gembira, kecewa, marah, jengkel, atau bahagia. Dan semua sensasi perasaan itu merupakan hasil dari kerja pikiran bawah sadar. Saat itu anda sebenarnya berada dalam kondisi hipnosis.

Pertanyaan sekarang adalah apakah kita dikendalikan oleh sinetron yang kita tonton itu? Tentu saja tidak! Senetron itu tidak mengendalikan diri anda tetapi mengarahkan pikiran anda dengan alur ceritanya. Inilah sebenarnya yang dimaksud dengan keadaan hipnosis atau trance.

Berbeda dengan pemahaman kebanyakan orang, yang mengatakan bahwa saat dalam kondisi hipnosis atau trance kesadaran seseorang sangat lemah, sebaliknya justru saat dalam kondisi trance level kesadaran seseorang meningkat tinggi.

U.S. Dept. of Education, Human Services Division mendefinisikan hipnosis sebagai “hypnosis is the by-pass of the critical factor of the conscious mind followed by the establishment acceptable selective thinking.” (Hipnosis adalah penembusan faktor kritis pikiran sadar diikuti dengan diterimanya suatu pemikiran selektif (sugesti).”

Apakah hipnosis hanya untuk hiburan? Tentu tidak. Berikut ini adalah jenis hipnosis dan manfaatnya:

1. Stage Hypnosis

Stage hypnosis adalah hipnosis yang digunakan untuk pertunjukan atau hiburan.

2. Clinical Hypnosis atau Hypnotherapy, aplikasi hipnosis dalam menyembuhkan masalah mental dan fisik (psikosomatis). Aplikasi dalam pengobatan penyakit antara lain: depresi, kecemasan, phobia, stress, penyimpangan perilaku, mual dan muntah, melahirkan, penyakit kulit, dan masih banyak lagi.

3. Anodyne Awareness

merupakan aplikasi hipnosis untuk mengurangi rasa sakit fisik dan kecemasan.

4. Forensic Hypnosis, penggunaan hipnosis sebagai alat bantu dalam melakukan investigasi atau penggalian informasi dari memori.

5. Metaphysical Hypnosis, aplikasi hipnosis dalam meneliti berbagai fenomena metafisik. Jenis hipnosis ini bersifat ekperimental.

 

Kekuatan Pikiran Bawah Sadar

Manusia mempunyai dua jenis pikiran yang bekerja secara simultan dan saling mempengaruhi, yaitu pikiran sadar dan pikiran bawah sadar. Besarnya pengaruh pikiran sadar terhadap seluruh aspek kehidupan seseorang, misalnya sikap, kepribadian, perilaku, kebiasaan, cara pikir, dan kondisi mental seseorang hanya 12% (pembulatan 10%). Sedangkan besarnya pengaruh pikiran bawah sadar adalah 88% (dibulatkan 90%). Dari sini dapat kita ketahui bahwa pikiran bawah sadar mengendalikan diri kita 9 kali lebih kuat dibandingkan pikiran sadar. Dan semua masalah yang berkaitan dengan emosi tersimpan dipikiran bawah sadar, misal perasaan malas, tidak semangat, bisnis sering gagal dan emosi lainnya semua tersimpan dipikiran bawah sadar. Disinilah sekeras apapun kita memotivasi seorang anak, atau anak buah tapi mereka tidak bisa mengikuti perintah atau nasehat kita karena selama ini kita hanya bermain di ranah pikiran sadar yaitu 10%.

Adapun daftar permasalahan yang bias diselesaikan dengan menggunakan hypnoterapi diantaranya: Phobia, Trauma/luka batin, Tidak percaya diri, Gagap/kesulitan bicara, Konflik diri (inner conflict),Takut sukses, Takut gagal, Insomnia, Malas, Migraine, Kecemasan Stres, Depresi, Sex Problem, Kesulitan diet, Pencapaian prestasi hidup rendah, Tidak bisa berhasil walaupun telah mencoba segala cara, Meningkatkan penghasilan secara signifikan, Menemukan benda yang hilang, Perilaku obsessive/complusive, Meng-uninstal berbagai program negative dari masa kecil, Meng-instal program baru yang mendukung keberhasilan hidup, Motivasi/empowerment, Kebiasaan buruk, Weight management, Kesulitan berhenti merokok/smoking cessation, Berbagai penyakit psikomatis, Takut berbicara di depan umum, Tidak bergairah kerja dan masih banyak lagi. (Agus EH adalah Penemu SBMS Methode & Trainer di Quantum of Mind)

 


share on: