CALEG TERMUDA DIY, NANA WAHYU KENCANA : Pemuda Harus Bernyali dan Membumi

share on:
Nana Wahyu Kencana | YP/Ist

PEMUDA harus berani melangkah penuh percaya diri di bidang yang digeluti. Kompetensi yang dimiliki pemuda menjadi bekal berjuang dan mengabdi di masyarakat. Ketimpangan sosial dan ketakadilan hukum yang ada di masyarakat tak boleh didiamkan. Disitulah medan juang para pemuda untuk ikut andil dalam menyelesaikan masalah-masalah bangsa.

Komitmen yang nyaring itu disampaikan Nana Wahyu Kencana, Caleg termuda se-DIY dari Partai Bulan Bintang (PBB), seorang pemuda mandiri, berkompetensi, dan bernyali, fresh graduate dari Fakultas Teknologi Industri Universitas Islam Indonesia (UII) Yogyakarta dalam sebuah perbincangan dengan yogyapos.com di kantornya, Jalan Sidomoyo Godean Sleman DIY, (Senin, 14/1/2019).

Dalam usia yang sangat muda, Nana tercatat sebagai Komisaris PT Formula Lalu Lintas. Baginya, pemuda tak boleh menjadi beban masyarakat dan bangsa. Bahkan di pundak pemuda ada tanggung jawab untuk membantu kesulitan dan mencarikan solusi atas masalah yang dihadapi masyarakat. Peluang pemuda untuk maju semakin terbuka seiring dinamika zaman.

“Yang dibutuhkan adalah keberanian melangkah. Kalau kita ragu-ragu dalam mengambil keputusan, maka selamanya bangsa ini akan menjadi kuli di negeri sendiri. Ini amat bertentangan dengan semangat dan cita-cita pendiri bangsa,” tandas pria lajang ini.

Ada alasan kenapa Nana memiliki jiwa mandiri dan kewirausahaan. Kakeknya, Ir Sukamto adalah seorang arsitek yang turut membangun hotel Ambarukmo. "Beliau adalah teman akrab Ir Rooseno, sosok yang amat dipercaya Bung Karno untuk membangun beragam proyek besar. Mungkin karena darah juang itulah, saya ikut mewarisi,” ungkapnya dengan senyum lepas. Meski begitu, pesan Nana, pemuda tak boleh menyandarkan harapan dan cita-citanya pada kebesaran nenek moyang. Pemuda harus membuktikan dulu bagaimana kinerja dan prestasinya.

Saat mengikuti Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Kaligesing Purworejo, Nana berhasil mempraktikkan ilmunya dengan membuat lampu bertenaga surya. Bahkan itu pula yang menjadi tema skripsinya ‘Sistem Kelistrikan Dengan Menggunakan Tenaga Surya’ yang berhasil dipertahankan dengan baik di FTI UII tahun 2018. Itu membuktikan bahwa Nana memiliki kinerja dan pemikiran yang membumi, tak hanya angan-angan di awang-awang.

Semangat Nana untuk memperjuangkan keadilan keadilan dan penegakan hukum nampaknya diinspirasi oleh idolanya, Prof Yusril Ihza Mahendra. Semasa kuliah dia mengikuti pemikiran Yusril dalam soal ketatanegaraan. Bukan hal aneh bila kemudian pemuda berusia 25 tahun ini berniat total terjun di bidang politik.

“Ini adalah sisi lain perjuangan saya pribadi. Saya berharap bisa menjawab keragu-raguan masyarakat tentang peran pemuda dalam politik. Dunia politik bukan hal tabu bagi pemuda. Ingat, tokoh pergerakan kita semasa kuliah sudah berjuang demi kemerdekaan bangsa. Masa kita takut memasuki dunia politik?” tantangnya.

Nana tercatat sebagai calon anggota legislatif di DPRD DIY yang termuda. Setahun bergelut di Partai Bulan Bintang (PBB) mengantarkan Direktur CV Askollindo ini menjadi Wakil Sekretaris PBB Sleman. Pada pileg 2019, Nana Wahyu Kencana tercatat sebagai caleg PBB nomor tiga (3) Dapil DIY V (Berbah, Depok, Mlati, Godean, Seyegan, Gamping, Minggir, Moyudan).

Menjadi anggota legislatif bukan tujuan utama Nana terjun di dunia politik. “Ini adalah media perjuangan agar lebih efektif semata. Satu hal, PBB termasuk parpol yang bersih dari praktik KKN. Bisa dicek apa ada anggota legislatif PBB yang tersangkut korupsi? Inilah yang menggerakkan saya untuk mengabdi melalui jalur politik,” aku Wakil Sekretaris Umum Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) ini penuh keyakinan.

Terkait strategi memperjuangkan aspirasi masyarakat, Nana berjanji untuk membangun sinergi dengan elemen masyarakat yang lain untuk sama-sama memanfaatkan peluang. “Desa memiliki peluang besar untuk mewujudkan keadilan sosial. Keberadaan dana desa bisa dimaksimalkan penggunaannya agar tepat sasaran dengan mempertimbangkan prioritas kebutuhan hidup masyarakat. Memang harus ada visi kepala desa yang jelas agar dana yang digelontorkan tidak sia-sia. Aparat harus bersih, berkomitmen, dan mau mendengar suara hati nurani rakyat,” tandas anggota Komite Tetap Industri Pertanian, Pangan, Makanan, dan Minuman Kadin DIY ini. (Wahjudi)

 

 

 

 


share on: