Yogyapos.com (BANTUL) - Dunia politik pasca reformasi diminati perempuan. Tak sedikit perempuan yang terlibat aktif di bebagai partai politik, termasuk di Kabupaten bantul. Isti Sri Rahayu adalah salah satu diantaranya.
Perempuan kelahiran Bantul 30 tahun silam kesehariannya sangat disibukkan dengan dunia sosial, politik dan budaya. Isti demikian panggilan akrabnya, merupakan alumni FPBS UNY prodi Seni Tari yang lulus sebagai sarjana dengan predikat sangat memuaskan. Dia salah seorang motor penggerak Partai Gerindra Kabupaten Bantul, saking totalnya menggerakkan roda organisasi, dia sering disebut-sebut sebagai Srikandi Muda Gerindra.
Kariernya berpolitik diawali sebagai Sekretaris Pimpinan Cabang Gerakan Masyarakat Sanathana Dharma (Gema Sadhana) Kabupaten Bantul, sebuah organisasi sayap partai Gerindra yang mewadahi kaum minoritas. Isti kemudian masuk dijajaran pengurus DPC Partai Gerindra Bantul dan menduduki posisi sebagai Wakil Bendahara.
Kiprah politiknya tidak hanya sekedar sampai di situ saja, Isti juga terpilih sebagai duta Daerah Istimewa Yogyakarta di tingkat Nasional untuk mengikuti pelatihan dan pendidikan Emerging Leader Academy (ELA) sebuah wadah yang 'menggembleng' anak-anak muda untuk menjadi calon-calon pemimpin masa depan.
Pendidikan dan pelatihan ini dibawah naungan The International Republican Institute (IRI) yang berpusat di Washinton DC. Sudah hampir 2 tahun Isti mengikuti pendidikan dan pelatihan Kepemimpinan dan Demokrasi yang di lakukan oleh IRI, bahkan saat ini Isti masuk dalam claster rissing star nasional, salah satu kelas yang cukup bergengsi yang hanya di ikuti oleh putra-putri terbaik di daerah.
“Saya merasa bangga bisa terpilih dan masuk di kelas ini, karena disamping saya bisa bertemu dengan putra-putri terbaik dari seluruh Indonesia, juga narasumber yg menjadi pemateri hampir semuanya tokoh-tokoh nasional, ada pak Ganjar Gubernur Jawa Tengah, ada AHY (Ketua Umum Partai Demokrat) dan masih banyak lagi tokoh nasional yg menjadi pemateri, yang kesemuanya mengajarkan ilmu politik dan demokrasi,” jelas Isti dalam perbincangannya dengan yogyapos.com, di Kantor Fraksi Gerindra DPRD Bantul, Jumat (13/8/2021).
Tidak hanya di dunia politik saja Isti berkiprah, tapi di dunia seni dia juga sangat menonjol. Banyak penghargaan seni yang dia sandang, diantaranya pernah menjadi penari terbaik se DIY festival Sendratari, Aktris terbaik Festival Wayang Orang se-DIY dan juga seringkali menjadi duta seni Pemda DIY di berbagai kegiatan tingkat nasional. Disamping itu Isti juga salah seorang koreografer muda yang sudah melahirkan karya-karya pementasan drama tari yang sifatnya kolosal, seperti: Pelangi Nusantara (kolaborasi drama tari dan musik orchestra di Sanatorium UMY), Untaian Nusantara, Gajah Mada sang penahluk, Lampor dan masih banyak lagi karya-karya seninya yang layak untuk dicatat dalam perjalanan kesenian di Yogyakarta.
Bagi Isti, Politik, Sosial dan Budaya merupakan satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan dan menjadi trilogi tujuannya. Politik adalah sebuah jalan untuk menciptakan kehidupan sosial yang baik dan berbudaya. Semua yg dia lakukan semua didasari atas fakta-fakta yang pernah ia kerjakan seperti dia juga pernah menjadi salah seorang direktur program pada Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) Jogja Tanggap Cepat (JTC) sebuah LSM kebencanaan dan kemanusiaan yang sangat populer di Jogja.
Terkait isu gender, Isti paling tidak suka kalau disebut bahwa wanita itu lemah. Baginya, isu itu sengaja dimitoskan untuk membatasi ruang gerak perempuan. “Siapa bilang perempuan itu lemah, buktinya banyak kaum perempuan yg lebih tangguh, lebih cerdas dan lebih ke depan dibanding laki-laki,” imbuhnya.
Saat ini selain bersibuk diri di organisasi, Isti juga merupakan salah seorang Tenaga Ahli (TA) Fraksi Gerindra DPRD Kabupaten Bantul. Cita-cita yang menjadi obsesinya adalah bagaimana memperjuangkan kesetaraan gender dan mengkampanyekan dengan memberikan pemahaman kepada perempuan-perempuan lain untuk paham akan hak-haknya dan mewujudkan perempuan mandiri yang tangguh. (Dwn)
