Yogyapos.com (YOGYA) - Kunci sukses itu kerja cerdas bukan kerja keras. Untuk itu harus konsisten, telaten dan sabar, serta memegang komitmen dengan penuh tanggung jawab. Jalani proses dengan baik penuh semangat.
Demikian disampaikan Sigit Risworo membuka obrolan santai beberapa waktu lalu. Pria energik selalu senyum ini saat ini sukses mengelola bisnis kuliner di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah.
BACA JUGA: Tersangka Pembunuh Wanita Muda Mengaku Emosi dan Terpengaruh Miras
“Yang saya pegang sendiri ada tiga, yaitu Limasan Klampok, Bebek Goreng Limasan dan Resto Zukaria dengan karyawan sekitar 100 orang. Selain itu, sejak 2017 saya juga tergabung dengan Podho Management yang membawahi 6 restoran Pondok Bakaran (2), Baleroso (3), serta Pojok Bakaran Jambon dengan lebih dari 300 orang karyawan,” ujar pria yang saat ini tinggal di kampung Jurang, Bodon, Jagalan, Kotagede, Yogyakarta.
BACA JUGA: Prof Djamaluddin Ancok Wafat karena Sakit, Berikut Keterangan Lengkapnya
“Karier saya dimulai dari bawah, sebagai karyawan di purchasing, keuangan, marketing serta bagian lainnya. Dari situlah saya belajar hingga diberi amanah mengelola restoran. Pengalaman pertama pegang manajemen di Omah Dhuwur Resto sebagai Manager Operasional pada tahun 2009 hingga 2013,” imbuh pebisnis yang juga pernah dua tahun mengelola Salam Resto di Muntilan ini.
Sigit Risworo mendampingi Tamu Kemenkraf Jakarta dalam jelajah Kotagede || YP-Yuliantoro
Sigit adalah lulusan Akademi Perhotelan Desanta program D2 pada 1997. Untuk menambah ilmu dan mendukung pekerjaannya, pada 2010 dia belajar marketing lagi hingga akhirnya lulus dari Diploma 3 Akademi Akuntansi YKPN.
BACA JUGA: Tak Terima Diminta Undur Diri, Karyawan Nusantara Sakti Yogya Ajukan Gugatan
“Konsep kerja cerdas itu terinspirasi dari seorang senior manager yang sekarang sukses menjadi eksportir kerajinan mebel. Kerja cerdas maksudnya harus pandai mencari peluang serta pandai memanfaatkan peluang yang ada membidik peluang,” kata pria kelahiran 23 Mei 1975 ini.
Dalam perjalanan mengelola bisnis kuliner, Sigit menghadapi berbagai tantangan dan hambatan.. Salah satu hambatan utama yang dihadapi adalah persaingan di pasar yang semakin ketat. Saat ini, jumlah pesaingnya meningkat, mendorongnya untuk terus menciptakan produk yang berbeda dan menarik bagi konsumen serta meningkatkan kualitas pada pelayanan terhadap para pelanggan.
BACA JUGA: Hana Bank Salurkan Bantuan Rp 1 Miliar, Komit Dukung Pendidikan Generasi Muda
“Selain tantangan pasar, manajemen sumber daya manusia (SDM) juga menjadi aspek krusial dalam mengelola bisnis kuliner,” lanjut Sigit.
Sigit menyadari pentingnya memberikan pelatihan dan pengembangan keahlian kepada karyawannya agar dapat berprestasi di bidangnya masing-masing. Mencari lokasi yang strategis juga merupakan langkah penting, karena lokasi yang baik dapat memengaruhi pengalaman konsumen dan kinerja restoran secara keseluruhan.
Sigit Risworo bersama Dr M Tazbir (tengah) di pasar lawas Mataram Kotagede beberapa waktu kemudian || YP-Yuliantoro
Dalam upaya menjaga standar kualitas, Sigit menekankan pentingnya standarisasi restoran, terutama dalam hal kebersihan dapur dan kecepatan pelayanan. Namun, ia juga mengakui bahwa tidak semua usaha yang dijalankannya berhasil. Pengalaman gagal merupakan bagian dari proses belajar yang tak ternilai harganya.
BACA JUGA: Forkom Percasi Sleman dan Yogya Menduga Musda Percasi DIY 2024 Cacat Hukum
”Saya punya obsesi untuk secepatnya memulai usaha sendiri di rumah yang lebih sederhana, tidak memakan waktu, tenaga, dan pikiran. namun cukup menguntungkan. Menciptakan produk kuliner yang bisa dipasarkan secara mandiri, tanpa harus menghadapi kompleksitas yang terkait dengan bisnis restoran,“ kata pria yang juga aktif dalam pengembangan Desa Wisata Jagalan, Banguntapan, Bantul ini mengakhiri perbincangan. (*/Yuliantoro)
