Yogyapos.com (YOGYA) - Studio Pertunjukan Sastra (SPS) bekerja sama dengan Taman Budaya Yogyakart menggelar acara Bincang-Bincang Sastra (BBS) edisi 168 yang sekaligus gelaran Ruang Temu: Pentas Sastra Lintas Komunitas program pra-acara Festival Sastra Yogyakarta. Mengusung tajuk “Mbara, Perjalanan Setelah Kata”, gelaran Bincang-Bincang Sastra kali ini memiliki kaitan erat dengan acara Jentera: Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 yang berlangsung semalam, Jumat (20/9) di Concert Hall Taman Budaya Yogyakarta.
Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 telah berlangsung dan mendapat sambutan yang menggembirakan dari masyarakat. Empat kelompok yang tampiln —Api Kata Bukit Menoreh, The Wayang Bocor, Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY, dan Musik Kelompok Kampungan, telah menunjukkan satu sajian alih wahana karya sastra dengan beragam perwujudan yang baru dan segar. Untuk itu, acara Bincang-Bincang Sastra kali ini akan menjadi ruang pertemuan kembali antara Gunawan Maryanto (penulis naskah dan sutradara The Wayang Bocor), Lukas Gunawan Arga rakasiwi (Pelatih Paduan Suara Mahasiswa Swara Wadhana UNY), L. Surajiya (Pelukis, Api Kata Bukit Menoreh), dan Sukandar (Pagiat Studio Pertunjukan Sastra) yang akan berbincang mengenai proses alih wahana dari teks sastra ke suatu pertunjukan. Sayang, Bram Makahekum, pemimpin Musik Kelompok Kampungan berhalangan hadir dalam acara ini.
“Sastra sebagaimana khitahnya merupakan suatu bidang yang tidak berdiri sendiri dalam kehidupan luas, khususnya kebudayaan, dan terutama kesenian. Sastra adalah dunia yang integral dengan jagat kesenian lainnya. Oleh sebab itu kehadirannya sebagai pertunjukan telah terpintal dalam jentera dengan tampilan yang melampaui imajinasi,” ujar Latief S. Nugraha.
“Proses alih wahana dari kertas ke pentas di dalam Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 merupakan satu rahasia dapur yang menarik untuk diperbincangkan dan diulas lebih mendalam. Karya sastra sebagai inti, sudah selayaknya tidak terlepas dari esensinya meski telah dialih wahana menjadi satu pergelaran dengan tafsir interpretasi pasca-sastra yang beragam,” imbuhnya.
“Perjalanan setelah kata, demikian istilah yang rasa-rasanya cukup pas mewakili kemungkinan-kemungkinan proses alih wahana itu. Eksperimentasi yang melahirkan kemungkinan demi kemungkinan agar karya sastra tidak hanya tercetak di ruang sunyi bernama buku terbukti menarik perhatian generasi muda di Yogyakarta. Melalui acara Pergelaran Musikalisasi Sastra 2019 ini terlihat bagaimana sastra hadir, bersuara, berwarna, bergerak, dan sampai di hadapan masyarakatnya,” pungkasnya. (Mustofa W Hasyim)
