Pelantikan Fatayat dan Ansor Pundong: Gus Azka Ajak Jamaah Saling Hormati Mazhab

share on:
Jajaran Pengurus PAC Fatayat Pundong || YP/Markaban Anwar

Yogyapos.com (BANTUL) - Mushola Nurul Iman Dusun Tarungan, Panjangrejo, Pundong, Bantul (DIY), menjadi saksi pelantikan Pimpinan Anak Cabang (PAC) Gerakan Pemuda Ansor dan Fatayat NU Kecamatan Pundong, Sabtu (29/2/2020) malam.

Acara dikemas dalam tiga gelaran pokok yaitu pembacaan sholawatan, pelantikan PAC GP Ansor dan Fatayat Pundong, dan Pengajian oleh Gus Azka Sya'bana, pengasuh Ponpes Sunan Pandanaran Sleman, Yogyakarta.

Gus Azka dalam ceramahnya menyampaikan pentingnya keyakinan nderek (mengikuti) Islam Ahlussunnah wal Jama'ah an-Nahdliyah Nahdlatul Ulama.

Mengapa? Pertama, yakin ikut NU itu berarti mengikuti para ulama, para kiai yang nasabnya sampai ke Kanjeng Nabi Muhammad SAW.

Kedua, Ahlussunnah wal Jama'ah adalah golongan yang mayoritas di dunia. “Saya pernah ke Thailand. Di negara mayoritas beragama Budha itu, saya ada di komunitas muslim yang kecil, ketika ikut sholah shubuh, di sana amaliyah-nya basmalah dibaca keras di surat Al Fatihah, baca qunut juga, sesudah sholat juga baca wiridan. Sama seperti amaliyah kita. Amaliyah sperti NU ada banyak dilakukan di negara lain,” urainya.

Ketiga, para jamiiyat di NU perlu tahu ada banyak madzab dalam Islam, jika ada perbedaan tak perlu berselisih, yang penting secara aqidah ikut Imam al-Maturidi dan Imam Abu Hasan al-Asy'ari, dan secara fikih ikut salah satu empat Imam besar, Maliki, Hanafi, Syafi’i, dan Hambali.

Ciri-ciri sederhananya dalam sholat, kalau Imam Syafi’I baca basmallah dengan jahr (keras) ketika baca surat Al-Fatihah, Imam Hanafi dan Imam Hambali basmallah dibaca sirri (pelan), sedangkan Imam Maliki tidak baca basmallah baik secara jahr (keras) maupun secara sirri (lembut) dalam al-Fatihah. Kita warga NU menganut Imam Syafi’i harus paham dan menghormati perbedaan itu. Tidak boleh menyalahkan pendapat madzab lainnya. 

Diceritakanlah oleh Gus Azka tenhtang Syekh Sudais, seorang Imam dan Khatib di Masjidil Haram ketika berkunjung ke Indonesia, kemudian menjadi imam sholat di Masjid Istiqlal. Meski beliau penganut Imam Hambali, dan karena tahu bahwa di Indonesia banyak penganut Imam Syafi’i, beliau membaca basmallah dengan jahr-keras ketika baca surat Fatihah.

“Kisah ini artinya apa? Kita warga Nahdliyin patut saling menghormati perbedaan madzhab. Jangan seperti golongan lain yaitu Wahabi yang kalau berbeda amaliyah kemudian menyalahkan, membid’ahkan, bahkan mengkafirkan lainnya,” ungkap Guz Azka

Gus Azka terus melanjutkan mauidloh hasanah, bahwa ada tiga golongan muslim. Golongan pertama, ahlussunnah wal jama’ah atau dikenal sebagai Sunni. Amaliyah-nya seperti kita di NU yang mendasarkan Alqur’an, hadits, ijma para ulama, dan qiyas.

Golongan kedua, ahlul bait atau syiah. Kelompok syiah sangat menghormat ahlul bait, Sayidina Ali, Sayidina Hasan dan Husen, melebihi jauh dari sahabat lainnya. Penghormatan Syiah kepada ahlul bait sangat tinggi, bahkan mengesampingkan penghormatan kepada sahabat Abu Bakar, Umar Bin Khottob, dan Usman bin Affan.

Golongan ketiga, yakni golongan yang tabarruk-nya kepada shahabat relatif tidak kecil, yakni golongan Wahabi, Mereka tidak maulidan, melarang ziarah kubur, tahlilan, dan tahlilan.

Kita sebagai warga NU adalah amaliyah tengahan, tabaruk kepada semua sahabat. Beramaliyah maulidan, ziarah kubur, sering sholatan dan tahlilan. Semua amalan yang dianjurkan para ulama dan kiai.

Karena itu pesan Gus Azka kepada para Ansor dan Fatayat harus membumi bersama rakyat memantapkan keyakinan Islam Ahlus Sunnah wal Jama’ah an-Nahdliyah.

“Keempat. Kisah tentang Madinah yang diapit oleh dua kekuasaan besar. Di Barat ada negara Romawi beribukota di Konstantinopel atau Istambul, wilayah Turki. Di Timur Negara Persia, sekarang wilayah Irak, Kazakhtan dan sekitarnya.

Pada masa Sultan Muhammad Af Fatih, Islam lebih berkembang menjadi besar. Konstantinopel ditaklukkkan oleh pasukan Sul Al Fatih.

“Pada masa Sultan Al-Fatih, pasukan dibagi tiga fungsi. Pasukan bagian tempur, pasukan bagian atur strategi, dan pasukan bagian dzikir, sholawat. Amaliyahnya sama dengan kita, bermadzhab Imam Syafi’i, melakukan maulidan, juga ziarah kubur. Dengan contoh kisah ini, memantapkan kita lebih yakin pada amaliyah NU, beramaliyah sama dengan Sultan penakluk Konstantinopel. Kita harus yakin dan mantap mengikuti para ulama dan kiai,” pungkas Gus Azka

Suprapto selaku Ketua Anak Ranting NU Dusun Tarungan maupun Ketua Panitia Widodo mengatakan, selain ratusan jamaa’ah Nahdliyin, ikut hadir dalam acara ini para pimpinan Muspika kecamatan, Camat Pundong, Koramil, Kapolsek, jajaran Syuriah dan Tanfidziyah MWC NU Pundong, pengurus Banom-banom NU, serta pengurus Ranting dan Anak Ranting NU se-wilayah kecamatan Pundong.

Sementara itu, Dukuh Tarungan Suryanto menegaskan kegiatan NU ini dalam penyelenggaraannya dikerjakan gotong-royong oleh semua lapisan masyarakat, baik dari takmir mushola, para jama’ah ibu-ibu dan bapak, juga karang-taruna dusun Tarungan pun ikut terjun membantu.

Ketua MWC NU Pundong, Mustafied Amna MHi dalam sambutan menyampaikan selamat kepada Ketua GP Ansor Pundong, saudara Achat Farmadi,A.Md dan Ketua Fatayat Pundong, saudari Amin Fitriyah SPd.

“Semoga para ketua dan seluruh pengurus yang dilantik bisa menjalankan organisasi dan berperan aktif dalam masyarakat, serta berkolaborasi dengan pengurus Ranting dan Anak Ranting NU melalui program-program kerja yang bermanfaat,” ujar Mustafied Amna. (Markaban Anwar)


share on: