Yogyapos.com (BANTUL) - Peristiwa ‘Sabtu Kelabu’ yang terjadi 26 tahun silam di Jakarta, diperingati jajaran pengurus dan kader DPC PDIP Bantul, Selasa (26/7/2022) malam.
Peristiwa tragedi demokrasi tersebut membuktikan betapa kekejaman berdemokrasi di era Orde Baru, dimana hak kader PDI tidak diakui oleh pemerintah ketika itu. Di sisi lain juga menjadi tonggak kebangkitan bagi kader-kader partai di bawah kepemimpinan Megawati Soekarno Putri.
“Mbak Mega (Megawati Soekarno Putri-red) selaku Ketua Umum terpilih melalui mekanisme demokrasi, namun dinafikkan dan dibenturkan dengan Kongres di Medan yang ‘disponsori’ kekuasaan negara,” ungkap Ketua DPC PDIP Bantul, Joko Purnomo.
Hal itu, ungkap dia, yang mengakibatkan penolakan di mana-mana. Hampir di semua DPC di seluruh Indonesia. Ini menjadi keprihatinan para pengurus, kader dan massa PDI. “Sejarah membuktikan kami diperlakukan tidak adil, namun tegar dan kini sanggup tegak menjadi parpol besar,” tegas Joko.

Sementara itu, Wakabid Badan Pemenangan (BP) Pemilu DPC PDIP Bantul, Kusbowo, menyampaikan peristiwa 27 Juli merupakan tonggak kebangkitan semangat ideologi. Kader-kader partai ini se-Indonesia berkonsolidasi. Sehingga pada Pemilu 1999, yaitu setelah Kongres Bali 1998 dan Lahir PDI Perjuangan (PDIP), akhirnya menang dalam Pemilihan Legislatif (Pileg).
“Belajar dari sejarah perjuangan tersebut, maka marilah kita isi kemerdekaan dan kemenangan ini dengan mendekatkan partai kita (PDIP) kepada rakyat. Kita selalu berpihak pada rakyat, kita bantu dan dampingi mereka,” tegas Kusbowo dalam orasinya.
Acara yang dihadiri ratusan orang terdiri pengurus dan kader PDIP Bantul tingkat kabupaten hingga Kalurahan. Selain orasai dan renungan, acara kali ini juga dilanjutkan dan diisi dengan doa bersama membaca kalimah thoyibah (dzikir tahlil) dipimpim oleh Bamusyi DPC PDIP Bantul Iskandar. “Semoga arwah para korban Tragedi 27 Juli maupun kader partai yang telah meninggal diberikan tempat yang baiak di sisiNya,” ajaknya. (Spd)
