Puluhan Tahun Tekuni Produksi Gamelan, Wito Siswoyo Telah Menyiapkan Calon Penerusnya

share on:
Wito Siswoyo menunjukkan laras pelog produksinya yang siap dirangkai || YP-Supardi

Yogyapos.com (BANTUL) - Banyak orang istirahat bekerja di masa tak tua. Bahkan tak sedikit diantara mereka adalah pekerja swasta maupun pemerintah yang setelah pensiun memilih menikmati masa tuanya dengan dana pensiun atau pesangon, tanpa harus bekerja seperti sediakala.

Namun tidaklah demikian Wito Siswoyo (78) warga Bibis Rt 5 Bangunjiwo Kasihan Kabupaten Bantul. Sosok yang  akrab disapa Mbah Gombloh Gamelan ini enggan ‘istirahat’ bekerja. Ia bekerja sesuai dengan hobi, yakni di dunia gamelan. Meski usianya sudah tak muda lagi, tapi ia masih menjalankan usahanya memroduksi gamelan.  

BACA JUGA: 'Rumah DataKu' Kalurahan Wedomartani Peroleh Penghargaan Ketiga Nasional dari BKKBN

“Saya mulai menekuni pekerjaan sebagai produsen gamelan sejak tahun 1976. Hingga sekarang tetap aktif. Bahkan saya mempunyai tekad hingga akhir hayat nanti tetap menemkuni pekerjaan ini,” ungkap Wito Siswoyo saat berbincang dengan wartawan dalam acara Dinamika Potensi Bantul bekerjasama dengan Diskominfo, di rumahnya Bibis, Jumat (28/6/2024).

Dia mengaku selain meneruskan hobi, memroduksi gamelan menghasilkan keuntungan. Secara ekonomi cukup menguntungkan, bahkan dapat urun menyerap tenaga-tenaga kreatif.

Butuh kesesuaian || YP-Supardi

Ia juga merasa marem (senang, bangka dan lega) jika hasil usaha gamelan ini bermanfaat bagi banyak orang guna pelestarian seni budaya adiluhung yang meliputi karawitan, wayangan dan ketoprakan bahkan jatilan.

BACA JUGA: Lurah Non Aktif Candibinangun Jalani Sidang Perdana, Tujuh Pengacaranya Tak Ajukan Eksepsi

“Sebagai upaya untuk pelestarian gamelan, nantinya salah satu anak saya, Sarah Yuliana (19) yang kini diterima sebagai mahasiswa Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta, akan melanjutkan pekerjaan ini,” tekadnya.

Berbicara soal keuntungan, Gombloh menuturkan bahwa hal itu tergantung pada jenis dan kualitas serta bahan baku yang digunakannya.

Dicontohkan, gamelan yang terbuat dari perunggu harganya mencapai Rp 350.000.000 hingga Rp 800.000.000 per pangkon (satu set) terdiri laras (nada) slendro (bas) dan pelok (minor).

BACA JUGA: Danrem 072/Pmk Hadiri Upacara Wingday Sekbang A-130/PSDP TNI A-34

Gamelan yang terbuat dari kuningan harga per pangkonnya Rp 80.000.000 hingga Rp 300.000.000. Sedangkan gamelan yang terbuat dari besi Rp 27.000.000 hingga Rp 75.000.000.

Proses produksi yang njlimet || YP-Supardi

Harganya berbeda karena bahan bakunya juga beda. Selain itu proses produksi untuk jenis perunggu juga memerlukan waktu yang lebih lama dibanding yang kuningan atau besi. 

BACA JUGA: Jelang HUT ke-193 Bantul, Wabup Joko Purnomo Sowan ke Idham Samawi

Memproduksi satu pangkon gamelan perunggu memerluka waktu dua hingga empat bulan dengan jumlah tenaga kerja 10 orang. Membuat satu set gamelan kuningan membutuhkan waktu dua bulan dan tenaga kerja 8 orang. Sedangkan membuat gamelan dari besi dengan mempekerjakan tenaga 8 orang, hanya membutuhkan waktu satu setengah bulan.

“Proses pembuatan gamelan memang njlimet (lama, harus telaten, teliti). Hal ini terkait dengan nglaras (menyetel nada) yang harus tepat.

Ditanya tentang pangsa pasar gamelan ini, Glomboh menyatakan para konsumen pada umumnya berasal dari wilayah DIY dan nasional. Selain itu ada juga dari manca negara diantaranya Jerman, Inggris dan Malaysia. 

BACA JUGA: Mikrobus Terguling di Jalan Menurun Dlingo-Imogiri, Begini Nasib Para Penumpangnya

“Banyak diantara konsumen dari dalam dan luar negeri yang ke rumah ini dengan maksud membeli galmelan sekaligus menyaksikan proses produksinya,” tutur Gombloh.

Dari produks tersebut, Gombloh mengaku memroleh keuntungan rata-rasa sebesar Rp 25 juta hingga 35 juta per setnya. Jadi keuntungan sebesar itu cukup lumayan dan wajar. (Spd)


share on: