Sandiwara ‘Aja Dumeh’ Ajak Penonton Hindari Keangkuhan

share on:
Adegan ketika para buruh mulai berani melawan juragan || YP/Akhir Lusono

TONTONAN teater sangat sarat dengan tuntunan. Penuh dengan kritik. Baik kritik sosial, politik dan juga mengkritisi segala kondisi yang terjadi di tengah masyarakat. Sebagaimana pertunjukan sandiwara berbahasa Jawa ‘Aja Dumeh’ yang dipentaskan Teater Banyu, di SMKI Bugisan Yogyakarta, Sabtu (28/9/2019) malam lalu,

Pementasan naskah karya Ofelia Galuh yang disutradarai Heri Mayong ini pun sarat dengan tuntunan dan kritik sosial. Dimainkan secara apik oleh para pemainnya. Tanpa kedodoran, sehingga pesan-pesannya cukup mengena tersampaikan ke publik penonton.
Cerita dalam sandiwara ini berkisar dari Pak Ngarsa, juragan gaplek yang kaya raya namun tabiatnya sok kumawasa, arogan, adigang, adigung, adiguna. Bergelimang harta bukannya jadi dermawan dan andhap asor kepada sesama. Tetapi justru sebaliknya. Suatu saat nyali para buruh tersulut amarah lantaran ada teman buruh yang dipecat tanpa alasan. Lalu para buruh melancarkan aksi protes pada juragan Ngarso. Di tengah hiruk pikuknya aksi demo para buruh tiba-tiba gudang penyimpanan gaplek meledak dan dilalap api.
Durasi pementasan berkisar satu jam disajikan cukup segar. Apalagi didukung Sihono dan Yu Beruk. Dengan dukungan tim pemain: Pujianawa, Erly, Estri, Marissa, Witri Handa, Dayati, Galuh, Septia, Sanusi, Trijuno, Surojo, Kusmiyardi, Fatakut, Thukul, Legawa, Tomas, Billy, Warsiya, Sihono Clewo, Yu Beruk, Panji, Ria Kobis, Dafa, Rizka, Wawan, Atmono, Jiriyanto, Deni, Julian, Fauzi. Tim produksi yang terlibat adalah: pengarah Nugroho Eko Setyanto  S.Sos, M.M,. Penanggung Jawab Drs Dahroni MM dan Trijaka Suhartaka SS, Supervisor Musik Mamik Slamet, Penata Musik Deni Prasetya,  Artistik dipercayakan kepada Agusnawa, Ferri Ragil Santoso, Lek Kapuk, Afik Kuncoro.
Drs Ardhani MPd selaku kepala sekolah SMKI mengatakan berterimakasih kepada Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul atas apresiasinya sehingga proses kreatif Teater Banyu dapat berpuncak pada pementasan.
“Saya haturkan, terimakasih kepada semua pihak. Khususnya Dinas Kebudayaan Bantul dan Teater Banyu yang sudah ngaruhke. Kami merasa ada dengan dikaruhke seperti ini. Karena semenjak saya diberi kepercayaan memimpin sekolah, saya  sumanggakke fasilitas yang ada. Sekolah ini milik masyarakat dan masyarakat milik kami,” ucap Ardhani.
Sementara Kepala Dinas Kebudayaan Bantul, Nugroho Eko Setyanto SSoMM mengatakan seni pertunjukan khususnya Teater atau sandiwara bisa menjadi wahana pembelajaran. Banyak ilmu yang dapat dipetik.  (Akhir Lusono)

 


share on: