Wahjudi Djaja: Desmond, Misteri Seorang Aktivis

share on:
Desmond J Mahesa || YP-Ist

KISAH hidup aktivis baik 1966, 1978 maupun 1998, sering tak terduga dan menyembulkan tanya dan misteri. Dalam menyikapi kekuasaan, diantara mereka sering berbeda jalan meski masing-masing berdalih tetap berusaha memegang idealisme. Namun, sekali masuk politik praktis, tak sedikit dari mereka yang hanyut dalam irama kekuasaan.

Dari sedikit aktivis yang terlihat menjaga jarak dengan tetap mengutamakan aspirasi rakyat adalah Desmond Junaidi Mahesa. Desmond lahir di Banjarmasin, Kalimantan Selatan pada 12 Desember 1965. Pekerja keras sejak belia, lihai berorganisasi, dan kritis melawan segala bentuk otoritarianisme dengan segala varian penyimpangannya. Sama-sama aktivis, Desmond bisa dibedakan dari aktivis seangkatan lainnya. 

Jika Orde Baru dijadikan barometer kualitas seorang aktivis dalam melawan zalimnya kekuasaan, Desmond bisa dijadikan contoh. Demonstran banyak ditemukan, tetapi keberanian menarik benang merah perjuangan sampai pada fase berikutnya (baca: Reformasi) mungkin Desmond memiliki karakter yang berbeda. Bersama Pius Lustrilanang, Desmond tercatat sebagai korban penculikan aktivis 1998 karena keberaniannya mengritik rezim Orde Baru yang sedang berada di puncak kekuasaannya.

Berbeda dari Widji Thukul, aktivis buruh yang hilang sampai saat ini, Desmond kemudian selamat dari penculikan. Jika kemudian di benak publik dan akademis, muncul pertanyaan, mengapa harus bergabung dengan Gerindra dimana Prabowo sebagai pendirinya? Publik mafhum, mantan Danjen Kopassus ini diduga berada dibalik misteri reformasi yang menyita perhatian publik.

Sejarah selalu membuka jalan bagi tokohnya. Dan Desmond telah memilih jalannya untuk berjuang bersama Gerindra. Rekam jejak Desmond memang tak mengecewakan saat menghantam isu krusial, masalah besar maupun memperjuangkan urusan rakyat. Bisa jadi, bagi Desmond, Gerindra hanyalah media perjuangan sama seperti beragam lembaga dan LSM yang sempat dia dirikan atau masuki. Selama visi dan orientasi perjuangan tak berubah, dimanapun bukanlah soal. Selebihnya, biarkan Desmond pergi dengan segala kisah dan misterinya.

Jejak kredibilitas Desmond sebagai aktivis-legislatif bisa dibaca dari tiga bukunya. Presiden Offside, Kita Diam atau Memakzulkan (Mei 2012), Menggugat Logika APBN: Politik Anggaran Partai Gerindra (ditulis bersama Fary Djemy Francis, Juli 2012), dan DPR Offside: Otokritik Parlemen Indonesia (2013).

Desmond adalah tipe pejuang hak asasi manusia, demokrasi, lingkungan, dan antikorupsi yang tak lelah bergerilya. Alumni FH Universitas Lambung Mangkurat ini bergerak penuh keberanian dari Banjarmasin sampai Bandung dan Jakarta hingga menduduki kursi wakil rakyat sejak 2009 sampai kini. Saat persepsi masyarakat terhadap DPR nyaris berada di titik nadir dan Desmond pergi untuk selamanya, kita kadang bertanya, siapakah yang menjamin bahwa praktik buruk Orde Baru tak akan terulang lagi? 

Selamat jalan Bung, kembalilah kepada Sang Hakim yang sejati. Bersaksilah dengan segala kebenaran yang pernah kau ucapkan tentang negeri yang amat kau cintai. (Wahjudi Djaja, Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada-Kasagama)

 


share on: