Belajar Swasembada dari Lumbung Pangan Ngasem Selatan Playen

share on:
Agus Wahid di Lumbung Pangan Dusun Ngasem Selatan Plembutan, Playen, Gunungkidul || YP-Wahjudi Djaja

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - Indonesia dikenal sebagai bangsa agraris. Era 1980-an bahkan pernah swasembada pangan. Namun perkembangan zaman telah banyak mengubah kehidupan masyarakat desa. Banyak desa yang bukan lagi berperan sebagai pilar perekonomian. Salah satu desa yang masih menjaga eksistensi lumbung pangan bagi kepentingan warganya adalah Dusun Ngasem Selatan, Plembutan, Playen, Gunungkidul.

Dari penelusuran sejarah lisan, lumbung pangan di Ngasem Selatan telah ada sejak tahun 1967 saat dipimpin Kepala Dukuh Patmo Sugiyo. Bermula dari kesulitan pangan akibat bencana kekeringan dan lahan tandus, melahirkan ikatan solidaritas sosial yang kuat di kalangan masyarakat. Dalam pandangan Agus Wahid, salah seorang pemuda pionir Ngasem Selatan, apa yang telah diwariskan nenek moyang menjadi bekal sangat berharga bagi masyarakat.

“Kami dididik oleh alam untuk berdikari atau mandiri. Nenek moyang juga telah mewariskan tradisi lumbung pangan yang bisa dijadikan solusi atas permasalahan pangan warga. Jadi, jauh sebelum ada program ketahanan pangan, kami telah berdikari menyelesaikan urusan pangan selama bertahun-tahun,” tandasnya penuh kebanggaan.

Pada periode awal, lanjutnya, lumbung pangan berisi ketela (gaplek) yang kemudian baru diganti dengan padi.

Menurut Kepala Dukuh Ngasem Selatan Iswarsono, kontribusi lumbung pangan bagi pembangunan dan kehidupan memang sangat besar. “Mereka mengumpulkan padi tiap habis panen sebesar 10 kg. Ini dilakukan dengan penuh kesadaran sejak 1985, sedang tahuh-tahun sebelumnya warga hanya bisa mengumpulkan gaplek,” kisahnya. Saat menerima yogyapos.com pihaknya didampingi para ketua RT, yakni Sutikno (RT 5), Ngatimin (RT 6), Dwi Widaryanta (RT 7) dan Martono (RT 8).

Rata-rata warga mempunyai 1-15 petak sawah (1 petak sekitar 300 m2). Ada juga yang berprofesi sebagai buruh. Pengairan diambil dari air sumur bur dan tadah hujan. Sedang jenis tanaman yang ditanam antara lain padi ciherang, bawang merah khas Ngasem Kidul dan beragam jenis sayuran. Dari aktifitas pertanian ini warga bisa menyuplai sayuran ke pasar Playen.

Dusun Ngasem Selatan terdiri atas empat RT (V-VIII) dengan jumlah warganya 140 KK.  Hasil panen padi tidak dijual tetapi digunakan untuk kebutuhan makan, sekolah dan kebutuhan harian. Sisanya dikumpulkan ke lumbung yang ada di masing-masing RT.

Inilah cadangan pangan yang bisa menopang kebutuhan masyarakat sehingga tanpa sadar sesungguhnya mereka telah melakukan swasembada pangan. Bahkan di tahun 2008 warga mengaspal secara mandiri jalan sepanjang 800m berkat kebaikan Mbah Noto yang meminjamkan sertifikat tanahnya untuk digadaikan senilai 25 juta yang ansurannya ditanggung warga.

Pada bagian lain Agus Wahid menjelaskan manfaat lumbung pangan bagi masyarakat. “Dari hasil panen bisa terkumpul padi sebanyak 2- 4 ton di lumbung RT. Setiap warga juga mempunyai lumbung pangan sendiri. Jika kami harus mbudhalke (menjual isi lumbung pangan), harus sesuai dengan kebutuhan setiap RT,” jelasnya.

Beberapa program yang didanai dari hasil penjualan simpanan pangan antara lain pembangunan jalan aspal sejak 2000, suplai pangan selama Covid-19 bagi warga terdampak, santunan anak yatim, pembuatan tiang lampu, untuk menyekolahkan dan menguliahkan anak, santunan untuk juru kunci makam (2,5 kg per warga) dan penjaga balai dukuh, serta ikut membantu korban bencana alam", papar Ketua BUMKal Plembutan ‘Raharjo’ ini.

Bersama Sekretaris BUMKal, Arif Hernanto ST, Agus tengah menggerakkan program internet murah bagi warga. Selain mendirikan public space yang free wifi, juga memasang layanan internet bagi warga dengan harga yang amat terjangkau. "Bagi kami internet harus bisa dijadikan pintu akses agar masyarakat luar bisa mengetahui apa yang kami miliki. Dengan potensi dan semangat penuh kebersamaan, kami berharap kehidupan warga ke depan bisa lebih makmur", tandasnya. (Iud)

 


share on: