Yogyapos.com (SLEMAN) - Ketekunan mengolah sawah tanpa kenal lelah ternyata membawa berkah. Bermula dari rasa sayang terhadap lahan persawahan, diiringi dengan kesabaran menapaki perjuangan, lahan yang semula kurang produktif itu berubah menjadi perkebunan yang diminati oleh para wisatawan.
Adalah H Sagiman, warga dusun Bendosari Sumbersari Moyudan, pensiunan Kepala Sekolah di Sedayu Bantul, yang berinisiatif menyewa tanah kas desa milik Kalurahan Sumbersari Kapanewon Moyudan Sleman. Tanah seluas 3,2 ha itu disewa oleh Kelompok Tani KTH Bendosari. “Tanah itu kami sewa selama 20 tahun dari 2001-2041. Per tahun kami memberi uang sewa 50 juta ke kalurahan. Modal awal kami kumpulkan dari iuran anggota kelompok sebesar 750 ribu. Lalu kami pinjam penguatan modal di Dinas Pertanian Sleman sebesar 70 juta, yang bisa kami ansur sebanyak 2x,” paparnya kepada yogyapos.com, Minggu (27/3/2022).
Dari sejak pertama menanam sampai ke produksi memerlukan waktu dua tahun. “Dua tahun awal itu sungguh berat bagi saya pribadi. Namun berbekal ketekunan dan kesabaran, kami mulai bisa memetik hasilnya. Sekali panen buah jambu kristal kami bisa memperoleh untung sekitar 93 juta. Bahkan kami menargetkan bisa mencapai 130 juta pada tahun 2022,” katanya bangga.
Lebih jauh disampaikan Sagiman, anggota kelompok taninya berjumlah 15 orang. Namun dalam perkembanganya tinggal 7 orang. “Panci awrat kok, Mas. Namung ingkang tekun lan kiat ingkang badhe pikantuk hasilipun,” katanya menerawang penuh makna.
Sagiman mengaku, gajinya per bulan selaku ketua beserta tiga pengurus sebesar 500 ribu, sedang empat pekerja yang merawat dan memelihara sebesar 1,5 juta. Untuk biaya operasional sebesar 13 juta.
Eduwisata kebun buah Bendosari diisi antara lain tanaman apokat 700 batang, jambu kristal 1000 batang, jeruk pomelo 40 batang, jeruk lemon 40 batang, mangga 10 batang, dan srikaya 5 batang.
“Selain itu kami juga menerapkan sistem tumpang sari dengan rumput odot sejenis rumput gajah. Rumput ini telah menjadi langganan Kebun Binatang Gembira Loka, terutama untuk pakan rusa dan gajah. Seminggu 2x kami mengirim pakan sebanyak 1 ton dan selama setahun kami untung 52 juta,” tandasnya.
Saat ditanya yogyapos.com terkait jumlah wisatawan yang berkunjung ke taman buah Bendosari, Sagiman menyampaikan sudah bagus. “Kami selalu melaporkan data wisatawan ke Dinas Pariwisata. Per hari dikunjungi 50 orang, sedang jika hari libur bisa mencapai 500 orang bahkan lebih. Kami juga pernah kedatangan sekelompok wisatawan asing dari Belanda, mereka senang sekali,” jelasnya sambil menceritakan banyaknya kelompok pengunjung baik instansi negeri maupun swasta yang datang.
Wisatawan yang datang bebas memilih dan memetik buah untuk kemudian ditimbang dengan harga jambu kristal Rp 10.000/kg. Mereka juga tidak dikenai jasa parkir atau tiket masuk. Soal rasa, Sagiman berani diadu dengan jambu kristal yang berasal dari daerah lain.
Terkait proses penanaman dan pengembangan kebun buah Bendosari, Sagiman yang otodidak belajar berkebun ini mengakui ada keterlibatan lembaga lain.
“Kami bekerjasama dengan Lembaga Tata Boga Kayumanis untuk masakan kuliner, UIN Sunan Kalijaga untuk pelatihan menyangkok, merawat, memupuk, mruning (memmangkas pucuk daun jambu), dan Prof Suhari (LIPI) yang memberi benih apokat dan mangga dengan sistem bagi hasil. Sebagian hasil perkebunan juga kami berikan untuk warga masyarakat terutama yang dulu mempunyai andil membuka lahan,” pungkasnya. (Iud)
