Yogyapos.com (YOGYA) - Brunei Darussalam menjadi negara percontohan yang sukses dalam mengendalikan pandemi Covid-19. Sejak Maret 2020 sampai minggu pertama Juli 2022, penderita Covid-19 di sana hanya 169.808 orang, 225 orang meninggal dunia. Bandingkan dengan Indonesia, jumlah penderita mencapai 6,1 juta kasus, meninggal 156.766 orang.
Meredian Alam PhD, Asisten Guru Besar Sosiologi di Fakultas Seni Rupa dan Ilmu Sosial, Universitas Brunei Darussalam, menyatakan, negara yang dipimpin oleh Sultan Hassanah Bolkiah itu sangat sigap dalam mengendalikan pandemi Covid-19 dan rakyatnya sangat patuh serta disiplin, sehingga pandemi tidak merajalela.
Dalam perbincangan dengan host podcast Ku Tunggu Pojok Ngasem, Puji Qomariyah SSos MSi, lelaki asal Yogyakarta yang akrab disapa Mere itu menggambarkan, pemerintah Brunai belum mengizinkan kuliah tatap muka sampai semester depan tahun akademik 2022-2023.
“Pandemi di Brunai sangat terkendali, tetapi kami masihkuliah online. Pemerintah telah memutuskan, kami masih kuliah online sampai semester depan. Ini buktikehati-hatian dan rasa saying pemerintah ke rakyat Brunai,” ujar dia.
Perbincangan Puji Qomariyah yang dikenal sebagai Wakil Rektor III UWM dan Meredian Alam itu mulai tayang di kanal Youtube Ku Tunggu di Pojok Ngasem, Rabu, 13 Juli 2022.

Berkaitan dengan pengalaman pembelajaran online, Meredian Alam menceritakan situasi yang tak terduga. Apabila di Indonesia kuliah online dihadiri oleh mahasiswa yang sekedar hadir, pasif, situasi sebaliknya dalam kuliah online di kampus Universitas Brunai Darussalam.
“Ketika saya mengajar tatap muka di kelas, dihadiri 70 orang, mahasiswa yang responsive dalam hitungan jari. Ketika kuliah online, hal yang tak terduga terjadi, mereka sangat aktif untuk mengajukan pendapat, pertanyaanlangsungmaupunmelalui chat,” ujar alumni Prodi Sosiologi Universitas Gajah Mada.
Peraih master dari University of Oslo, Norway, dan gelar doktor (PhD) dari University of Newcastle itu, menyatakan, suasana riuh alias mahasiswa aktif terjadi dalam kerja kelompok. “Kami membagi 70 mahasiswa dalam beberapa kelompok, tugas mereka mereview bacaan. Saya mengontrol mereka di kanal online masing-masing, suasananya sangat hidup, sangat riuh dengan diskusi antar mereka,” katanya.
Meskipun terdapat suasana positif dalam kuliah daring, menurut dia, pengajaran online terdapat elemen kemanusiaan sang guru atau dosen kepada mahasiswanya yang tereduksi. Ketika kuliah tatap muka, seorang guru punya insting ada mahasiswa yang mengerti atau belum mengerti materi yang dibahas. Kemudian, kuliah luring ada kelengkapan pendukung pengajaran yang bias dikontrol, misalnya proyektor, apakah perangkat itu sudah menjangkau semua mahasiswa atau belum.
Meredian Alam hadir di studio podcast Ku Tunggu di Pojok Ngasem, kampusUWM, di sela-sela libur-cuti mengajar. Dia mengaku mendapatkan cuti selama 71 haridari Universitas Brunai Darussalam. Sejak tiga tahun silam, dia mengajar di universitas tersebut. Selama masa pandemik tetap bertahan di negara itu. Bagaimana pemerintah Brunai memperlakukan warga asli dan pendatang, bagaimana suasana selama pandemi, dan bagaimana kegiatan kuliah, Mere membahas detail semua itu di kanal Youtube Ku Tunggu di Pojok Ngasem. (Mkb)
