Yogyapos.com (JAKARTA) - Upaya untuk menjaga biodiversitas dan kelestarian hutan bisa dilakukan dengan memanfaatkan kemajuan teknologi. Keberadaan Masyarakat Adat Dalem Tamblingan (MADT) sejauh ini mampu menjaga kesakralan Alas Mertajati dan Danau Tamblingan.
Dengan keterlibatan anak-anak muda yang menguasai teknologi, sangat membantu pendokumentasian dan pelestarian beragam jenis flora fauna langka di dalamnya. Anak-anak muda itu paham akan manfaat teknologi bagi peradaban. Dari tangan merekalah kemudian muncul Prasasti Digital yang bisa dimanfaatkan generasi berikutnya.
Demikian disampaikan Ketua Bagaraksa Alas Mertajati Masyarakat Adat Dalem Tamblingan Bali, Jro Putu Ardana, dalam Webminar ‘Hutan Tak Hilang: Biodiversitas dan Prasasti Digital’ yang diselenggarakan oleh Museum Macan Jakarta, Sabtu (7/5/2022) sore.
Lebih jauh disampaikan Putu selaku narasumber tunggal, para leluhur kita mewariskan pengetahuan mereka melalui prasasti yang terbuat dari tembaga, perunggu, lontar, ritual maupun media tutur.
“Kepada anak muda itu saya pesankan, sampaikan pengetahuan dan catatan kalian tentang peradaban kita dalam bentuk prasasti digital. Prasasti ini memiliki karakteristik yang berbeda, baik menyangkut kapasitas yang lebih besar, kemudahan menautkan antar data, elemen yang diceritakan pun bisa lebih detail serta keleluasaan untuk direvisi dan di-trace kembali,” tandas alumni FE UGM ini.
Identifikasi, inventarisasi dan pemetaan yang dilakukan anak muda melalui teknologi modern ini antara lain menyangkut pemetaan spasial, sosial budaya, potensi ekonomi, dan inventarisasi flora fauna. “Hasil pemetaan itulah yang kemudian kita kenal sebagai data digital, yang bisa direvisi maupun ditelusuri kembali,” imbuhnya.
Pendokumentasian peradaban ini, lanjut Ardana, tidak berlangsung tiba-tiba. Masyarakat tak sepenuhnya memiliki kemampuan yang sama. “Sambil berjalan kami mencoba mengembangkan kemampuan dan perangkat yang ada. Jika ditanya apakah prasasti digital itu sudah komplit atau sudah layak dipublikasikan? Tentu saja kami menjawab, belum. Selalu kami selalu menyemmpurnakan prasasti yang kami punya,” paparnya.
Pembuatan prasasti digital itu tidak berhenti pada catatan. Data digital itu menjadi basis untuk tindakan selanjutnya. "Dari data digital itu kami bisa menggerakkan renaturing, penggandaan, revitalisasi sumber daya lokal yang terabaikan, pengembangan potensi ekonomi termasuk juga kemandirian pangan, kesehatan, dan pengetahuan. Kami juga melakukan konservasi spesies (Taman Gumi Banten), serta regenerasi pemahaman pengetahuan lokal,” jelasnya.
Menjawab pertanyaan yogyapos.com terkait massifnya pembangunan pariwisata, Putu Ardana jujur mengakui tidak akan mudah. “Mereka datang akan mengetuk semua pintu dan menggunakan segala cara. Sejujurnya saya katakan, ini pelakunya selalu dua komponen yakni investor dan pemerintah. Kalau boleh saya kritisi, pariwisata itu dikelola dengan semangat untuk menjual, bukan memelihara peradaban. Mestinya pariwisata itu sebagai dampak dari upaya kita memelihara peradaban, bukan tujuan,” pungkasnya. (Wahjudi Djaja)
