Dari Jual Es Krim Keliling Beralih ke Bambu, Yoga Berharap Covid-19 Segera Berlalu

share on:
Yoga setiap hari ulet memotong dan membelah batang-batang bambu menjadi ukuran 1-2 meter sebagai matapencahariannya || YP-Agung Dwi Purwanto

PAMOR bambu dari waktu ke waktu tak pernah redup. Kendati tidak terlalu besar permintaan pasarnya, tetapi selalu ada saja yang membutuhkan untuk berbagai kebutuhan.

Pendek kata, bambu memiliki banyak manfaat bagi manusia. Sehingga tak heran jika banyak orang pula yang menggantungkan hidupnya dari bambu. Mereka menjadikan bambu sebagai obyek usaha bisnisnya, mendulang rezeki dari menjual bambu.

Hal itu seperti dilakukan Yoga Nugroho (37) warga Krapyak RT 07/RW20 Triharjo, Sleman. Bekas penjual es krim keliling ini, sejak setahun lalu alih usaha menjual bambu batangan. Pembelinya beragam, diantaranya pengrajin sangkar burung dan anyaman.

“Awalnya saya melihat banyak orang yang mengerumuni penjual bambu batangan. Sejak itu, pulang ke rumah langsung melihat-lihat pekarangan rmah yang kebetulan ditumbuhi bambu,” kenang Yoga, sapaan akrab lelaki periang ini.

Rumah Yoga memang kebetulan dikelilingi rumpun-rumpun bambu. Sejak dulu tumbuhan bambu itu dibiarkan apa adanya. Sesekali ada orang yang membutuhkan untuk bikin pagar, maka dipersilahkan menebang sendiri dan memberikan uang ala kadarnya.

Tapi sejak dirinya menyaksikan penjual bambu pinggir jalan yang dikerubuti para pembeli itulah maka pekarangan mulai dirawat, terutama rumpun bambunya.

Yoga mengungkapkan, sehari-hari menebang bambu di pekarangan rumahnya. Jika kebetulan belum ada yang layak ditebag, maka ia berburu ke sejumlah pekarangan milik orang lain untuk menebasnya. Bambu-bambu itu kemudian diptong-potong menjadi ukuran 1-2 meter.

“Saya mengikat bambu potong 1 dan 2 meter ini masing-masing sebanyak 100 lonjor/batang,” selanya sembari menyeka keringat yang menetes dari kening dan pelipis wajah.

Bambu ukuran 1 meter sebanyak 100 lonjor itu dibandrok Rp 65 ribu. Sedangkan ukuran 2 meter seharga Rp 125 ribu. Tidak setiap hari ada pembeli memang. Namun jika ditotal setiap bulan sanggup mendapatkan penghasilan yang jauh lebih besar dibanding ketika masih sebagai penjual eskrim keliling.

“Pembeli eceran ndak mesti ada setiap hari. Tapi alhamdulillah selalu ada dan bisa diperkirakan setiap bulan laku banyak,” aku Yoga.

Pembeli partai besar adalah para pengrajin sangkar atau kandang unggas. Mereka bisanya datang seminggu atau dua minggu sekali langsung memborong berikat-ikat bambu. Mereka datang dari berbagai daerah luar kabupaten Sleman. “Cuma memang selama pandemi terjadi penurunan. Mungkin karena para pengrajin berahan dasar bambu juga mengalami kesulitan pemasaran. Tapi alhamdulillah tetap ada pembelinya partai besar maupun pembeli harian,” katanya seraya berharap agar Covid-19 bisa segera berlalu. (Agung DP)   

 


share on: