Yogyapos.com (SLEMAN) - Kepala Staf Korem (Kasrem) 072/Pamungkas Kolonel Inf Teguh Wiratama SSos MHan., mewakili Komandan Korem (Danrem) 072/Pamungkas, menghadiri kegiatan Focus Group Discussion (FGD) Kajian Jangka Panjang yang diselenggarakan oleh Lembaga Ketahanan Nasional Republik Indonesia (Lemhannas RI) di Ruang Rapat Hotel Inside by Melia, Sleman, Rabu (22/7/2026).
BACA JUGA: Video Rekayasa AI Catut Sri Sultan HB X, Ini Penjelasan Pemda DIY
Acara bertajuk "Optimalisasi Teknologi Geospasial Guna Memantapkan Sistem Peringatan Dini Terhadap Potensi Ancaman Negara" dipimpin langsung oleh Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI, Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi MM, serta dihadiri oleh Penanggung Jawab kegiatan Marsma TNI Ade Teguh Budianto (Dirjuan Hankam dan Geografi Debidjianstrat Lemhannas RI), Dirprogbangjian Brigjen TNI Mohammad Rohadi SSos, para Pakar Geospasial, Akademisi, hingga perwakilan Instansi Daerah.
BACA JUGA: TPA Beringharjo Yogyakarta Layani Anak Pedagang Pasar, Raih Dua Penghargaan Nasional
Dalam sambutan pembukanya, Deputi Pengkajian Strategik Lemhannas RI Mayjen TNI (Mar) Ipung Purwadi MM, menegaskan bahwa FGD ini digelar sebagai wadah untuk menghimpun pemikiran komprehensif, objektif, dan dapat dipertanggungjawabkan dari berbagai pemangku kepentingan. Hasil dari kajian ini nantinya akan dirumuskan menjadi rekomendasi strategis yang disampaikan langsung kepada Presiden RI guna memperkuat sistem pertahanan nasional.
BACA JUGA: PSIM Yogya Pertahankan 4 Pemain Asing, Datangkan Gelandang Polandia Adrian Purzycki
Pada kesempatan tersebut, Kasrem 072/Pamungkas Kolonel Inf Teguh Wiratama SSosMHan, hadir sebagai salah satu narasumber utama. Membawa pemikiran dari sudut pandang pertahanan dan keamanan wilayah, Kolonel Inf Teguh Wiratama menjelaskan tantangan kompleks yang dihadapi Korem 072/Pamungkas yang membawahi wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta dan eks-Karesidenan Kedu (Jawa Tengah).
BACA JUGA: Disdikpora DIY Angkat Bicara Soal Dugaan Penipuan Tes TOEFL saat MPLS
"Wilayah Korem 072/Pamungkas memiliki potensi kerawanan bencana alam yang tinggi seperti erupsi Merapi, gempa bumi, dan potensi tsunami pesisir selatan. Di sisi lain, sebagai kota pendidikan, budaya, dan pariwisata, tantangan keamanan cenderung bersifat asimetris seperti potensi konflik sosial, kriminalitas jalanan, hingga penetrasi paham ekstrem," papar Kasrem.
BACA JUGA: Digitalisasi dan Standarisasi, Kunci UMKM Sleman Menuju Kelas Dunia
Untuk mengatasi dinamika ancaman tersebut, Kasrem mengungkapkan bahwa Korem 072/Pamungkas terus mengoptimalkan pemanfaatan teknologi spasial yang dipadukan dengan kekuatan aparat teritorial dan partisipasi aktif masyarakat. Pengalaman mitigasi bencana seperti pada erupsi Merapi 2010 menjadi bukti pentingnya penetapan Kawasan Rawan Bencana (KRB) berbasis pemetaan presisi.
BACA JUGA: Audiensi ke Danrem, Pengurus Lestari Bumi Sembada presentasi Teknologi Pyronex II
Kasrem menekankan tiga pemetaan utama yang kini dimaksimalkan oleh instansinya yaitu Peta Kerawanan Sosial dan Demografi, Peta Titik Rawan Kriminalitas dan Konflik, Peta Jalur Evakuasi dan Navigasi Cepat bagi aparat gabungan serta masyarakat saat kondisi krisis.

Kasrem memandangkan pentingnya penguatan integrasi data antarinstansi di masa depan. "Strategi ke depan yang perlu kita dorong bersama adalah penguatan mekanisme berbagi data, standardisasi data spasial, serta pembangunan pusat data terpadu agar interoperabilitas antarinstansi dapat berjalan optimal demi keselamatan bangsa," tegasnya.
BACA JUGA: BPJS Ketenagakerjaan Sleman Capai 34,53 persen, Tertinggi di DIY
Selain Korem 072/Pamungkas, FGD ini juga menghadirkan narasumber berkompeten lainnya, di antaranya Kepala Pelaksana BPBD DIY Agustinus Ruruh Haryata SH ST MKes, Kepala Stasiun Geofisika Kelas I Yogyakarta Ardianto Septiadhi SSi. (representasi BMKG), serta Guru Besar Fakultas Geografi UGM Prof Dr rer nat Muh Aris Marfai SSi MSc.
BACA JUGA: TPA Beringharjo Yogyakarta Layani Anak Pedagang Pasar, Raih Dua Penghargaan Nasional
Dalam paparannya, Prof Aris Marfai mengusulkan gagasan besar untuk menjadikan Yogyakarta sebagai Living Laboratory Spasial Nasional. Mengingat kelengkapan karakteristik geomorfologi, potensi multi-hazard, hingga berkumpulnya para pakar dan lembaga geospasial di DIY, daerah ini dinilai sangat ideal menjadi pusat percontohan Geo Governance (Tata Kelola Geospasial) nasional.
BACA JUGA: Korban Tenggelam Sungai Oyo Ditemukan Tak Jauh dari Lokasi Hilang
Seluruh narasumber sepakat bahwa kunci utama penguatan peringatan dini nasional terletak pada transmisi dari sekadar "pemetaan" menuju "intelijen data" di mana data geospasial tidak hanya lengkap dan real-time, namun juga memiliki kejelasan klasifikasi antara keterbukaan informasi publik dan perlindungan rahasia objek vital militer/strategis negara.
BACA JUGA: Pabrik Rokok HS Serap 7.000 Tenaga Kerja, Difabel Ikut Diberi Kesempatan
Rangkaian FGD berlangsung interaktif, tertib, dan lancar, menghasilkan berbagai rekomendasi poin kunci yang akan diolah oleh tim Debidjianstrat Lemhannas RI sebagai pijakan kebijakan ketahanan nasional. (*/Red)
