Yogyapos.com (BOYOLALI) - Tradisi Temu Tirta di Desa Samiran, Selo, Boyolali, menarik untuk diangkat dalam konteks objek pemajuan kebudayaan. Tradisi yang mempertemukan Tirta Wening (Gunung Merbabu) dan Tirta Barokah (Gunung Merapi) ini dikaji oleh Tim Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Wilayah X.
Hasil pengumpulan data studi upacara tradisi Temu Tirta Desa Samiran Selo Boyolali oleh Tim BPK Wilayah X dipaparkan dalam Focus Group Discussion (FGD) di rumah H Satari Sastro Pawiro Dukuh Pojok Samiran Selo Boyolali, Rabu (28/8/2024). FGD dibuka Eko Sumardiyanto selaku Kepala Bidang Kebudayaan Disdikbud Kabupaten Boyolali.
“Tradisi Temu Tirta memang sedang dikaji untuk diusulkan sebagai warisan budaya tak benda. Kami berharap dengan FGD antara BPK Wilayah X dengan para tokoh dan pelaku tradisi ini bisa menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat,” tandas Eko.
FGD yang dimoderatori Warsito (BPK X) tersebut menampilkan dua narasumber yakni Transpiosa Riomanda (Antrojalan) dan Wahjudi Djaja (Sejarawan). Sedang Tim BPK X yang diketuai Th Ani Larasati menyampaikan laporan sementara data hasil pengkajian.
Dalam paparannya Transpiosa menjelaskan posisi Tradisi Temu Tirta dalam konteks UU Nomor 5 Tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan. "Tradisi Temu Tirta merupakan simbolisasi upacara penyatuan sumber mata air Gunung Merapi dan Merbabu. Prinsip dan falsafah yang mendasari adalah memayu hayuning bawana yang memuat simbolisasi relasi manusia, alam dan Sang Pencipta serta penghargaan pada air,” tandas sosok yang akrab disapa Cak Cuk ini.
Peserta FGD Temu Tirta || YP-Wahjudi Djaja
Wahjudi Djaja dalam paparannya menjelaskan, pelaksanaan Tradisi Temu Tirta sebetulnya sebentuk religi yang sering dijumpai pada masyarakat yang tinggal di pegunungan. Meskipun relatif baru, tetapi Tradisi Temu Tirta memiliki kekhasan dan latar belakang sejarah yang panjang. Sebagai bagian religi, tradisi ini memiliki hampir semua kelengkapan yang dibutuhkan sebuah tradisi.
"Apalagi ada totalitas dari warganya. Dengan didukung oleh jejak dan narasi sejarah, bukan tidak mungkin Temu Tirta bisa berkembang sebagai tradisi yang besar", tandas Ketua Umum Keluarga Alumni Sejarah Universitas Gadjah Mada (Kasagama) ini.
Sedangkan Larasati menyampaikan, agenda FGD merupakan kelanjutan dari permintaan Disdikbud Boyolali agar BPK X mengkaji Tradisi Temu Tirta.
“Kami beberapa bulan lalu telah berada di desa ini selama tujuh hari. Belum banyak data yang bisa kami serap. Oleh karena itu, dengan FGD ini kami justru minta masukan dari para tokoh dan pelaku tradisi. Kami berharap hasilnya nanti bisa dibukukan, tentu dengan pendalaman dan perluasan sesuai sumber dan informasi yang relevan,” jelasnya.
Sebelumnya, Kepala Desa Samiran, Suherman, mengisahkan rencana pengembangan Tradisi Temu Tirta menjadi destinasi. "Kami berharap Tradisi Temu Tirta bisa dikembangkan menjadi destinasi wisata. Namun kami memiliki keterbatasan soal anggaran. Oleh karena itu, ke depannya kami minta dukungan dan pendampingan agar tradisi ini bisa berkembang dan memberikan manfaat bagi masyarakat,” harapnya.
Dalam sesi tanya jawa, tokoh masyarakat setempat H Marzuki menjelaskan, Tradisi Temu Tirta inin berangkat dari sejarah desa tetapi masih parsial. "Dulu ada program pembuatan jalan ke Goa Raja (red: tempat samadi Sunan Paku Buwana VI dan Pangeran Diponegoro). Disusul kemudian penataan lingkungan Padepokan Turangga Seta dan Kebo Kanigara. Dari situ, muncullah usul ada kegiatan dengan tujuan ngalap berkah. Itu dimulai tahun 2009,” jelasnya.
Hadir dalam FGD para tokoh masyarakat Desa Samiran seperti Sukarjo, para kepala dukuh dan anggota tim BPK X (Shinta Dwi Prasasti dan Agus Sutarno). Selepas FGD dilanjutkan ramah tamah yang menginginkan pelaksanaan Tradisi Temu Tirta bisa dilaksanakan secara serempak sebagai upaya memaknai filosofi temu. (Iud))
