Yogyapos.com (YOGYA) - Setelah Jakarta dan sejumlah kota di dalam dan luar negeri, warga kota Yogyakarta mendeklarasikan berdirinya Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI), di Gedung PDHI Alun-alun Utara, Jumat (4/9/2020) siang.
Deklarasi yang diramaikan lebih dari seribu massa ini
dihadiri tiga presidium KAMI, Prof Din Syamsuddin, Jend Purn Gatot Nurmantyo, Prof Rohmat Wahab. Selain itu tampak pula MS Kaban, Muh Chirzin, serta koordinator KAMI DIY-Jateng, Syukri Fadholi dan Mudrick Malkan Sangidoe.
Gatot Nurmantyo dalam orasinya menegaskan bahwa perjuangan belum usai. Jalan masih panjang. Umat harus bersatu, kesampingkan kepentingan kelompok. Jangan mau dipecah belah. “Yogya itu kota yang sangat penting bagi keberlangsungan NKRI. Keraton Ngayogyakarta dan warganya memberikan sumbangsih yang besar dalam terbentuknya NKRI. Dan sekarang Negara kita berada dalam situasi sulit. Perjuangan harus terus berlanjut untuk penegakan amar ma’ruf nahi munkar demi kemaslahatan semua,” kata Gatot.
Gatot pun menyinggung soal ideologi Pancasila sesuai UUD 45. Dirinya menegaskan menolak trisila ataupun ekasila. “Saya mengingatkan bahwa KAMI mengakui Pancasila sesuai dengan UUD 45, 18 Agustus. Sekarang kok mau diubah, kita tidak bisa tinggal diam. Saya yakin pejuang-pejuang akan muncul dari Yogya," imbuhnya.
Sementara Prof Din Syamsuddin menyoroti soal mudahnya perepecahan terjadi ditengah masyarakat. Tidak hanya beda agama, satu agama pun sering terjadi gesekan konflik.
“Mari kita urai benang kusut ini. Dari hulu sampai hilir. Umat bersatu lawan kedzoliman. Saya berharap dengan digelarnya deklarasi KAMI DIY ini, energi kita semakin membesar untuk berjuang bersama-sama. Kita kawal kerja pemerintah. Jika melenceng kita luruskan,” kata Prof Din.
Deklarasi ini dibuka dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya, lalu mengheningkan cipta, pembacaan Pancasila serta UUD 45. Lantaran massa yang berjubel, audiens yang bisa masuk kedalam gedung utama pun terbatas dan sesuai protokoler kesehatan. Mayoritas yang hadir mengenakan pakaian serba merah-putih. Sejumlah ormas juga merapat, seperti Gerakan Bela Negara (GBN) dan Front Anti Komunis Indonesia (FAKI). (Dol)
