KETERBATASAN jumlah peserta didik memunculkan kisah-kisah perjuangan yang inspiratif dari pengajar untuk terus mengembangkan pendidikan di sekolah.
Salah satunya yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMA Ma’arif 1 Sleman, Wahyu Herlambang SS dirinya rela antar jemput para siswa setiap hari mengunakan mobil pribadinya. Tidak ada imbalan, dirinya melakukannya dengan sukarela.
Setiap pagi dirinya meluangkan waktu dan energinya untuk menjemput sejumlah siswa yang berasal dari sebuah pondok pesantren yang berada di wilayah Kapanewon Tempel, siang harinya kembali mengantarkan pulang sekolah.
Kegiatan sehari-hari Wahyu Herlambang sebagai guru
Dengan mengendarai mobil pribadi jenis Super Kijang berwarna merah maron bernopol AB 1145 US dirinya menunjukkan dedikasi tinggi sebagai pengajar untuk memberikan pelayanan terbaik bagi generasi muda penerus bangsa.
“Sekolah ini dulunya namanya SMA NU Tempel, sudah puluhan tahun secara hitungan kita sangat berat untuk mendapatkan siswa, oleh karena itu maka bagian dari pelayanan maka kita harus berani antar jemput siswa,” kata Wahyu Herlambang di sekolah yang terletak di Jl. Turi No. km 1,Sono Wetan Merdikorejo, Kapanewon Tempel, Kamis (3/11/2022).
Diungkapkan, sejauh ini pihaknya telah menjalin kerjasama dengan dua Pondok Pesantren dan mendorong agar para santrinya untuk bersekolah di SMA Ma’arif 1 Sleman.
“Dengan keterbatasan sarana transportasi di sekolah maka saya gunakan mobil pribadi saya untuk menjemput dan mengantar mereka sampai sekolah dan mengembalikan ke pondok masing-masing setelah selesai pembelajaran,”ungkap guru yang telah mengajar lebih dari 22 tahun ini.
Hal ini ditempuh, sebut dia, didorong rasa untuk terus melangsungkan keberadaan sekolah untuk mendukung proses pendidikan khususnya di wilayah Kapanewon Tempel dan sekitarnya, meski dengan kondisi sarana dan prasarana yang sangat terbatas.
“Sekolah ini berdiri sejak 39 tahun, kami juga sering menerima siswa pindahan, dan Alhamdulillah ketika lulus dari sini mereka banyak yang sukses, ini yang menjadi penyemangat bertekat bulat untuk terus mempertahankan sekolah sesuai standar,” katanya yang telah menjabat Kepsek selama 16 tahun ini.
Lebih lanjut, beber dia, jumlah murid yang terdaftar sebanyak 24 siswa siswi, sebanyak 14 orang atau 70 persen berasal dari ponpes, soal biaya pendidikan para siswa diberikan keringanan.
“Sekolah ini sejak tahun 2011 tidak pernah menerima bantuan yang berupa dukungan sarana prasarana dari Pemerintah, mungkin karena terkendala keterbatasan jumah siswa, itu kami maklumi,”sebutnya.
Dirinya berharap agar proses pembelajaran di SMA Ma”arif 1 Sleman dapat dipertahankan, tentunya dengan dukungan pihak-pihak yang peduli Pendidikan. Karena sikap tersebut bentuk implementasi dari Merdeka Belajar untuk mewujudkan Profil Pelajar Pancasila.
“Mohon dukungannya untuk semua pihak, sehingga kami bisa memberikan pelayanan maksimal dan berkualitas kepada anak didik generasi penerus bangsa, meskipun biaya operasional kali sangat minim,” harap dia. (Opo)
