BANYAK orang yang mempunyai kebiasaan membuang sampah plastik dan menganggap barang jenis ini hanya membuat kotor lingkungan, serta tiada nilainya.
Tapi tidaklah demikian dengan Dikko Andri Kurniawan (26), warga Irosutan Kalurahan Srigading Kapanewon Sanden Kabupaten Bantul. Dalam persepsi dia semua barang bekas selalu ada manfaatnya. Termasuk sampah dapat didayagunakan setelah melalui proses tertentu.
Dikko selaku generasi milenial ini telah merealisasi gagasannya mengolah sampah plastik menjadi berbagai jenis barang jadi. Contohnya, sampah kantong plastik itu ia irat (dipotong-potong) menjadi seperti tali. Selanjutnya dijadikan benang dan benang ditenun secara tradional untuk bahan baku barang jadi. Setelah menjadi kain digunakan untuk bahan pembuatan tas, topi dan yang lainnya. Sedangkan sampah plastik selain kantong plastik diolah menjadi casing Hp.
“Ini saya lakukan sejak sekitar sebelum ada pandemi. Alhamdulillah hasil karya tangan ini cukup laku dan diminati konsumen terutama yang ada di Kota Yogyakarta,” kata lelaki lulusan Manajemen UNY.
Dirinya dalam membuat barang jadi di rumah tempat tinggalnya dibantu ataupun mempekerjakan dua orang yaitu seorang selaku penenun dan seorang lagi sebagai penjahitnya.
Proses tenun oleh karyawan perempuan || YP-Supardi
Dengan dibantu dua karyawan tadi, Dikko mengaku sehari rata-rata sanggup memproduksi lima unit atau sampai 45 unit per minggunya. Harga jual casing hp rata-rata Rp 15.000 per unit. Bahkan ada yang mencapai Rp 100.000 per unit karena estitika dan desainnya. Sedangkan harga rata-rata topi dan tas Rp 35.000 hingga Rp 100.000 per unit. Pakaian bisa mencapai Rp 100.000 lebih per helai.
Ia bertutur, meski dirinya lulusan S1 Managemen, namun sejak remaja senang dengan kegiatan yang berhubungan dengan alam lingkungan. Sejak sekitar tahun 2017 mulai mengolah sampah plastik menjadi barang jadi ini.
“Saya memang berobsesi agar usaha saya bisa besar dan maju. Selain itu akan berupaya keras agar keterampilan mengolah sampah dijadikan dan dimasukan dalam kurikulum merdeka di sekolah. Ini diharapkan ada dukungan dan peluang oleh pemerintah. Tujuannya salah satunya untuk pelestarian dan menjaga kebersihan lingkungan dan memberikan wawasan serta skil kepada para generasi milenial,” sambungnya. (Spd)
