Yogyapos.com (YOGYA) - Ketika banyak aktivis yang teperdaya kekuasaan karena mereka kemudian beroleh jabatan maupun privilage menggelembungkan dapur perekonomiannya, Agus Bintoro SIP tetap konsisten berada di luarnya. Ia tetap memilih menjadi pendamping dan pembela wong cilik.
Keberadaannya di luar kekuasaan bukan berarti anti pemerintah. Ia tak segan mendukung kebijakan-kebijakan pemerintah yang benar-benar pro rakyat.
Hari-harinya disibukan dan berkelindan dengan pergerakan maupun pemikiran tentang upaya pemberdayaan kehidupan kaum yang termarjinalkan. Hingga akhir hayatnya, sosok kalem dan populis ini melakukan semua itu melalui Posko Perjuangan Rakyat (Pospera) yang dipimpinnya.
Sekelumit kesan atau kesimpulan tersebut meruak, disampaikan oleh sejumlah aktivis maupun warga yang pernah dibelanya dalam acara ‘Malam Doa Bersama dan Mengenang Agus Bintoro’ di Pelataran Kantor LKBH Pandawa Jalan Sultan Agung Yogyakarta, Sabtu (8/2/2020) malam.
Doa bersama dipimpin KH Widodo. Dihadiri para aktivis dari Yogyakarta dan sejumlah kota. Berlangsung khidmat, diisi pula rangkaian testimoni hadirin tentang kiprah kemanusiaan dan sosial almarhum yang tiada pernah lelah ketika masih hidup di Yogyakarta.
Agus Bintoro yang akrab disapa Bung Ago memang bukan sosok asing dalam sejarah pergerakan anak muda/mahasiswa Yogyakara. Tingkat kecintaannya pada wong cilik, melakukan upaya-upaya pemberdayaan atas dasar prinsip keadilan membuatnya tak jarang bersinggungan keras dengan pemerintah dan aparat keamanan. Dia bahkan salah satu aktivis yang rela merasakan dinginnya dinding penjara sebagai buntut dari aksi unjuk rasa menentang kenaikan harga BBM.
“Beliau bukan saja sebagai kakak. Tetapi juga sahabat, lawan diskusi dan motivator yang baik bagi saya,” ujar Soegiarto SH MH, adik kandung almarhum.
Soegiarto mengungkapkan, 19 Januari 2020 merupakan hari yang berselimut kabut duka cita. Pasalnya, sekitar pukul 10:10 WIB, sang kakak yang sangat dicintainya itu telah berpulang ke Rahmatullah setelah menjalani rawat inap selama 3 hari di Rumah Sakit Purwokerto.
Kepergiannya membawa duka yang mendalam, bukan saja bagi Soegiarto, tetapi juga sesama aktivis pejuang rakyat miskin. Betapa tidak, Bung Ago adalah sosok aktivis gerakan sosial yang progresif dan revolusioner. Almarhum selalu konsisten memperjuangakan hak-hak rakyat miskin dan marginal. Ia selalu berada di garis depan massa rakyat, bersuara lantang membela kepentingan rakyat tertindas oleh kekuasaan yang sewenang-wenang.
“Terbukti melalui kegigihan dan kesabarannya berjuang dibasis massa rakyat, maka terbentuklah organisasi tani bernama Himpunan Tani Masyarakat Banjarnegara (HITAMBARA). Organisasi rakyat yang berjuang untuk mendapatkan akses hak atas tanah seluas 76,611 Ha, yang dikuasai oleh PT Pakisaji Banyumas melalui Hak Guna Usaha yang telah berakhir pada tanggal 31 Desember 2011,” kenangnya.
Soegiarto menyatakan, berkat kerja-kerja pengorganisasian pada masyarakat miskin dan marginal yang almarhum lakukan, masyarakat Banjarnegara kini dapat menikmati atau mengelola tanah eks PT Pakisaji Banyumas tersebut. “Bahkan tanah tersebut menjadi Tanah Obyek Reforma Agraria dan berhasil dimiliki oleh masyarakat yang dalam waktu dekat akan menerima SHM. Tidak hanya itu saja, konsistensi almarhum dalam berjuang digaris massa juga terlihat ketika membela masyarakat petani Kulon Progo yang akan terdampak proyek pembangunan bandara baru di Kulon Progo,” timpal Mohammad Novweni SH yang diamini Thomas Edi SH dari LKBH Pandawa Yogyakarta.
Novweni bahkan bersaksi, kelahiran LKBH Pandawa juga tak lepas dari pengaruh ‘gesekan’ pemikiran almarhum. “Almarhum salah satu inspirator bagi kami selain senior advokat dan senior jurnalis, sehingga mendirikan LKBH Pandawa yang untuk pertama kali diketuai oleh Mas Soegiarto,” aku Weni.
Testimoni tentang almarhum sangatlah panjang jika dirangkai. Sehingga terbetik pula dorongan bagi kawan-kawan malam itu untuk mengumpulkannya dan dijadikan sebuah buku ‘Inmemoriam Agus Bintoro’ yang diharapkan bisa menginspirasi generasi berikutnya dalam konteks pemberdayaan rakyat miskin.
Almarhum, sebagaimana terungkap dalam testimoni rekan-rekannya, juga getol mengawal keutuhan NKRI disaat keberagaman kehidupan berbangsa dan bernegara mulai dirongong oleh kelompok-kelompok radikalisme yang anti terhadap Pancasila. Ia gigih untuk menjaga keutuhan kehidupan berbangsa dan bernegara dengan bekerjasama mengajak seluruh elemen masyarakat untuk deklarasi kebangsaan melibatkan 20.000an Mahasiswa dari seluruh Perguruan Tinggi Yogyakarta dan masyarakat.
Gerak dan pemikiran almarhum masih dibutuhkan. Ia sangat dipastikan masih akan melakukan semua upaya pemberdayaan rakyat miskin jika saja usianya dipanjangkan. Tapi rupanya Sang Maha Kuasa berkehendak lain, almarhum harus menghadapNya pada 19 Januari 2020, di Purbalingga, meninggalkan istri yang tengah hamil muda. “Indonesia sangat berduka sedalam-dalamnya karena telah kehilangan sosok pejuang agraria yang gigih dan pantang menyerah untuk selalu membela petani mempertahankan atau mendapatkan tanah yang menjadi haknya,” ujar Direktur LKBH Pandawa, Thomas Nur Edi Dharma SH. (Met)
