Fachry Ali: Cetakan Terakhir 'Republika', Sebuah Refleksi

share on:
Fachry Ali, Cendekiawan Muslim || YP-Dok.Redaksi

APA yang saya ingat tentang koran ini? Salah satunya adalah kedatangan saya pada suatu hari, mungkin akhir 1994 atau awal 1995. Duduk di warung kopi di samping gedung Republika, saya meminta Herdi atau Sugeng SP atau Fadillah mengontak Hamid Basyaib dan AE Priyono untuk turun. Tetapi yang menjumpai saya bukan hanya mereka berdua. Melainkan juga Ade Armando. Apa tema obrolan kami waktu itu tak lagi tersimpan di benak. Kecuali komentar Hamid Basyaib atas pengantar saya pada  buku ‘Kemelut Demokrasi Liberal’. Hamid memang penerjemah karya Boyd Compton itu yang diterbitkan LP3ES pada 1993 (?).

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-ambarketawang-saat-pangeran-mangkubumi-mencium-keharuman-di-cakrawala--9332

Bagi saya, keberadaan Hamid Basyaib, Ade Armando dan AE Priyono di Republika mengindikasikan sesuatu. Walau tegak pada garis yang terputus-putus, bagi saya, ketiganya adalah kelanjutan harian Abadi. Jejak aktivitas mereka dalam dunia pergerakan ‘Islam Kota’ terpatri di dalam ingatan saya. Ini, dalam catatan saya, berbeda dengan Parni Hadi. Walau muncul sebagai Pemimpin Redaksi Republika pada waktu itu, saya gagal mengingat nama itu di dalam struktur arsip kenangan saya.

BACA JUGA: https://yogyapos.com/berita-dr-h-syahganda-nainggolan--pemuda-bangkit-melawan-atau-mati-kelaparan-8649

Maka, dilihat dari konteks Hamid Basyaib dan kawan-kawannya di atas, Republika adalah alat penyedotan baru kalangan terpelajar ‘Islam kota’ dalam wujud media sosial, khususnya suratkabar, setelah Harian Abadi menghilang dari peredaran pada 1960-an. Memang benar, media sosial dalam wujud majalah produk ‘Islam kota’ masih berusaha bertahan pada masa itu. Antara lain, Panji Masyarakat dan Kiblat. Akan tetapi, Republika, sebagai koran, lebih memperlihatkan kesinambungannya dengan Harian Abadi. Ini terutama saya tekankan sejauh menyangkut awak yang mengisi darah yang menggerakkan jantung kedua koran itu.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-polisi-tembak-polisi-di-rumdis-polisi-cctv-tuhan-tak-mati-7760

Dari segi point of view, Republika tampil tanpa ideologi politik. Maka, ini berbeda dengan Harian Abadi. Kehadiran Republika, dengan demikian, adalah usaha merayakan keterlepasan, atau lebih tepat, ‘kemerdekaan’ berartikulasi ‘Islam Kota’ dari beban ideologis masa lalu. Jika dilihat secara lebih dramatis, Republika adalah realisasi slogan Nurcholish Madjid pada pertengahan 1960-an: ‘Islam Yes, Partai Islam No.’

Apa yang bisa direfleksikan atas fenomena ini?

Salah satunya adalah sifat non-ideologis Republika secara struktural tegak pada transformasi kelas menengah ‘Islam kota’. Berkat pembangunan ekonomi Orde Baru selama lebih dari dua dekade —jika diukur dari kelahiran Republika pada 1993— masyarakat Islam mengalami mobilitas vertikal secara massif.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-partai-ummat-lolos-verifikasi-berhak-ikut-pemilu-2024-9318

Berbeda dengan masa kelahiran Harian Abadi, Republika secara teoretis lebih diuntungkan. Alasannya sederhana. Yaitu jumlah kaum terpelajar Islam telah tumbuh berlipat-lipat dibandingkan dengan masa Harian Abadi. Kaum terdidik Muslim yang kian membesar itu, sekali lagi secara teoretis, bukan saja memerlukan bahan bacaan harian, melainkan juga menelorkan para penulis dalam jumlah lebih dari memadai. Dengan demikian, di samping sebagai sumberdaya manusia mumpuni, perkembangan kelas menengah ‘Islam kota’ ini sekaligus juga pasar luas bagi Republika. Sifat non-ideologis Republika memperkuat asumsi teoretis ini. Bukankah pada umumnya kelas menengah di manapun cenderung mengabaikan aspek ideologis?

Tetapi, mengapa Republika ‘tidak berkembang’ —seperti postulasi teoretis di atas— dan pada akhirnya berhenti terbit dalam bentuk cetakan esok, 2 Januari 2023?

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-2023-banjir-melanda-sejumlah-wilayah-di-pantura-jateng-9331

Selain karena terdesak perkembangan teknologi digital, ada dua hipotesa di sini. Pertama adalah bahwa transformasi kelas menengah Islam kota justru menciptakan dilema bagi surat kabar seperti Republika. Benar bahwa mereka membutuhkan bahan bacaan harian. Kendatipun demikian, keterpelajaran yang dimiliki membuat mereka lebih leluasa (untuk menghindari kata ‘lebih selektif’) memperoleh informasi dari sumber-sumber lain baik dalam maupun luar negeri. Dalam konteks ini, kita bisa mengajukan ‘sub-hipotesa’ tambahan. Misalnya, kekosongan bahan  bacaan berkualitas bagi kelas menegah ‘Islam Kota’ telah diisi oleh Harian Kompas dan Majalah Tempo, The Jakarta Post misalnya, sepanjang kurun awal Orde Baru hingga terbitnya Republika pada 1993. Dan pada saat yang sama, terbitan-terbitan luar negeri juga telah membanjiri Indonesia. Siapapun yang melek pada 1980-an, tak akan melupakan kehadiran Far Eastern Economic Review, The Asial Wall Street Journal —di samping Times dan Newsweek, serta Financial Times dan The Economist.

Dengan demikian, sebelum kelahiran Republika, kelas menengah ‘Islam Kota’ telah tersajikan dengan alternatif bacaan beragam dari dalam maupun luar negeri.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-gadis-madura-yang-menjelajah-inggris-berkat-beasiswa-9296

Kedua, dan mungkin yang paling crucial. Perkembangan ‘pesat’ pertumbuhan kelas menengah ‘Islam Kota’ terhenti hanya sebatas kekuatan sosial-budaya. Selebihnya, jalannya sejarah ini tak berlanjut kepada perkembangan kelas kapitalis. Yang terakhir ini, sebagaimana telah menjadi kebijakan politik-ekonomi Orde Baru, dilakoni hampir secara ‘eksklusif’ oleh aktor-aktor Tionghoa. Maka, secara sederhana, kendatipun kehadiran Republika tegak pada pertumbuhan kelas menengah kota yang kian meluas, suratkabar ini tak mempunyai basis material-finansial. Tak terlalu ‘akrab’ dengan media-media ‘Islam’, kaum kapitalis ini cenderung mempercayakan iklan-iklan perusahaan mereka kepada media-media massa lain.

BACA JUGA: https://www.yogyapos.com/berita-bnnp-diy-lanjutkan-program-desa-bersinar-penanggulangan-penyalahgunaan-narkoba-9306

Hampanya basis material inilah yang secara struktural berkaitan dengan absennya Republika dalam bentuk cetak datang ke rumah saya esok hari —2 Januari 2023. (Maka, langganan koran cetak saya tinggal Kompas dan The Jakarta Post). Saya harap, keduanya bisa langgeng dalam bentuk cetak. (Fachry Ali, Cendekiawan Muslim)

 


share on: