Fakultas Sastra Inggris UNY Pelatihan Public Relations di Benteng Vredeburg

share on:

Yogyapos.com (YOGYA) -  Setiap individu di lingkungan museum memiliki peran strategis dalam membangun citra institusi, tanpa memandang posisi.

BACA JUGA: Dunia Kerja Tak Hanya Lihat Ijazah, tapi juga Kompetensi

Pernyataan tersebut disampaikan penanggung jawab Museum Benteng Vredeburg, Agus Sulistya saat membuka program pengabdian kepada masyarakat yang diinisiasi oleh Program Studi Sastra Inggris, FBSB, Universitas Negeri Yogyakarta dengan tajuk “Pelatihan Public Relations bagi Pegawai Museum Benteng Vredeburg", yang berlangsung pada Kamis (23/4/2026).

BACA JUGA: Hakim Tipikor Yogyakarta Urung Bacakan Vonis Sri Purnomo, Sidang Ditunda 27 April

Agus menekankan pentingnya peningkatan kapasitas sumber daya manusia museum, tidak hanya dalam penguasaan sejarah, tetapi juga dalam cara menyampaikan nilai-nilai tersebut kepada pengunjung.

“Benteng ini bukan hanya tentang masa lalu, tetapi juga tentang bagaimana kita menceritakan masa lalu itu kepada generasi hari ini,” ujar Agus.

BACa JUGA: UAJY Terima Kunjungan Siswa SMA Maitreyawira Jakarta

Disebutkan,  esensi dari pelatihan ini, bahwa setiap individu di lingkungan museum, tanpa memandang posisi, memiliki peran strategis dalam membangun citra institusi. Public relations bukan hanya tugas humas, melainkan praktik kolektif yang hidup dalam setiap interaksi

BACA JUGA: Subuh Tadi, 354 Calon Haji Sleman Diberangkatkan dari Masjid Wahidin Soedirohoesodo

“Saya jadi paham bahwa tugas security itu juga menjaga citra positif benteng. Dan saya lebih tahu cara komunikasi yang bisa membuat benteng ini dianggap lebih baik,” tuturnya.

Sementara itu, Ketua Tim pengabdi, Rachmat Nurcahyo, menyebutkan, kegiatan ini menjadi salah satu wujud nyata kontribusi akademisi dalam mendiseminasikan pengetahuan dan keterampilan ke masyarakat luas, khususnya dalam bidang komunikasi publik.

BACA JUGA: Danrem 072/Pmk Terima Audiensi PWI DIY, Ini yang Dibicarakan

Melalui kegiatan Program Studi Sastra Inggris berharap dapat terus memperluas jangkauan pengabdian, menjembatani dunia akademik dengan kebutuhan nyata di lapangan. 

"Di tengah meningkatnya tuntutan terhadap institusi publik untuk lebih komunikatif dan responsif, pelatihan semacam ini menjadi langkah kecil namun signifikan dalam membangun institusi yang tidak hanya informatif, tetapi juga inspiratif," tuturnya.

BACA JUGA: BPJPH Sidak Pusat Perbelanjaan, Tegaskan Pemisahan Produk Halan dan Non Halal

Suasana ruang audiovisual Benteng Vredeburg tampak berbeda dari biasanya. Bukan sekadar ruang pemutaran dokumentasi sejarah, ruangan itu pagi ini menjadi ruang belajar yang hidup. Sebanyak 20 pegawai museum, dari berbagai divisi, duduk melingkar, terlibat dalam diskusi aktif, simulasi komunikasi, hingga praktik membangun narasi. Mereka bertekad memperkuat peran mereka sebagai wajah museum di mata publik

BACA JUGA: TMMD Sengkuyung Tahap II 2026 Resmi Dibuka di Sendangrejo Sleman

Sepanjang hari, peserta mengikuti pelatihan yang mencakup tiga materi utama: dasar-dasar public relations, komunikasi sebagai praktik PR, serta storytelling sebagai strategi membangun citra. Namun, yang membuat pelatihan ini berbeda adalah pendekatannya: alih-alih ceramah satu arah, kegiatan didominasi oleh diskusi interaktif dan praktik langsung.

BACA JUGA: Dibuka KPH Yudanegara, 11 Lurah di Sleman Lakukan Pertemuan Strategis

Peserta diajak untuk memerankan berbagai situasi komunikasi, mulai dari menyambut pengunjung hingga menangani pertanyaan kritis. Dalam sesi storytelling, peserta bukan saja diminta membuat narasi singkat tentang koleksi secara menarik,bahkan diminta menanggapi berbagai potensi komplain terkait benteng, dan disampaikan kepada publik secara menarik dan berterima.

BACA JUGA: Tok! Penantian 22 Tahun, Pekerja Rumah Tangga Kini Dilindungi UU

Antusiasme peserta terlihat jelas sepanjang kegiatan. Salah satu peserta mengungkapkan perubahan perspektif yang ia rasakan setelah mengikuti pelatihan ini. (*/Opo)

 

 

 


share on: