Gadaimu, Pegadaian Swasta Siap Menjawab Kebutuhan Anda

share on:
Kantor Gadaimu di Jalan Parangtritis, Bantul || YP-Gigin

BAGI yang memiliki problem keuangan mendadak, menggadaikan barang adalah salah satu solusi tepat. Diluar pegadaian resmi milik pemerintah, kini mulai bermunculan pegadaian dikelola swasta. Konsumen tinggal memilih perusahaan jasa keuangan yang sesuai keinginan.

Salah satu jasa pegadaian barang yang kini mulai banyak dilirik masyarakat adalah Gadaimu. Perusahaan yang dimiliki PT Pegadaian Dana Sentosa ini, cukup kreatif dalam menarik nasabah. Selain memiliki ijin resmi dari OJK, Gadaimu mendesain kantor layanan yang dibuat senyaman mungkin untuk nasabah dan petugas dengan ruangan ber AC.

Satu hal yang tidak dilakukan kompetitor, Gadaimu memberikan layanan Pickup service, yakni layanan jemput bola ke rumah calon nasabah. Layanan ini diberikan untuk nasabah yang tidak bisa membawa barang yang digadaikan ke kantor. Barang akan langsung ditaksir dan uang langsung diterima nasabah.

Direktur Gadaimu, Stephanus Susilo Aji

“Kami akan jembut bola ke rumah atau dimana objek yang akan digadaikan berada,” kata Direktur Gadaimu, Stephanus Susilo Aji, Jumat (15/7/2022).

Strategi lain yang ternyata efektif untuk memikat konsumen adalah program GABE (Gadai Berhadiah). Nasabah yang melakukan trasaksasi gadai dengan jumlah minimal tertentu akan mendapatkan kupon hadiah yang akan diundi. Hadiahnya barang-barang elektronik yang bisa dimanfaatkan di rumah seperti, kipas angina, kompor gas, dispenser, magicom, dll.

Program undian itu, sudah berlangsung untuk periode kedua.Tahun lalu untuk mendapatkan kulon minimal transaksi mencapai Rp 1 juta berlaku kelipatannya. Untuk tahun ini sengaja diturunkan menjadi Rp 500 ribu untuk dapat satu kupon. “Animo masyarakat untuk ikut GABE sangat bagus, ini bisa dilihat dari jumlah kupan dan peningkatan transakinya,” ujar direktur yang akrab disapa Aji tersebut.

Menurut Aji, program GABE ternyata memang efektif untuk menarik nasabah. Bahkan tidak sedikit nasabah yang sengaja menggadaikan barang hanya untuk mendapatkan kupon hadiah. Karena respon masyarakat yang bagus, tiap tahun akan ditingkatkan jumlah hadiah yang dberikan. Bahkan tahun depan nilai transaksi untuk mendapatkan kupon hadiah akan diturunkan menjadi Rp 100 ribu.

“Saya optimistis akan lebih banyak lagi yang tertarik ikut,” tandas Aji.

Masih menurut Aji, pelaksaan undian bukan hanya di kantor pusat Gadaimu yang ada di Perempatan Ringrod Druwo Sewon, Bantul saja tapi juga di kantor cabang lainnya. “Semua cabang akan mengadakan undian sendiri dengan hadiah yang sama,” ungkapnya.

Seperti diungkapkan Aji sejak dikenal tiga tahun lalu, Gadaimu mengalami perkembangan yang sangat bagus.Bila dilihat dari jumlah nasabah, kini sudah mencapai ribuan.Saat ini, Gadaimu menerima berbagai barang elektrik, maupun kendaraan bermotor roda dua dan empat.

Peningkatan perkembangan nasabah yang cepat tersebut, karena Gadaimu menerapkan aturan yang lunak untuk barang yang digadaikan.Sebagai gambaran, saat ini Gadaimu banyak menerima nasabah yang tidak bankable. Kendaraan yang tidak bisa dijadikan jaminan di bank, bisa diterima di Gadaimu.

“Kami menerima motor dan mobil yang sudah tua yang sudah tidak laku jadi jaminan kredit bank,” tandas Aji.

Untuk iformasi saja, Gadaimu hadir di tengah masyarakat ternyata tidak lepas dari tangan dingin Rachmad Ali. PT Pegadaian Dana Sentosa merupakan bagian dari Danagung Grup. Di perusahaan ini, Rachmad Ali duduk sebagai Komisaris Utama.

PT Pegadaian Dana Sentosa merupakan hasil take over. Ketika mendapatkan tawaran untuk take over perusahaan pegadaian tesebut, Pak Ali tidak perlu berpikir panjang. Cara berpikirnya simple saja.Begitu tahu, perusahaan yang ditawarkan tersebut fokus menggarap pasar pegadaian, insting bisnisnya langsung merespon positif. Ia melihat bahwa pasar pegadaian masih memiliki pangsa pasar yang besar.

Sebagai praktisi bisnis perbankan yang berpengalaman, Pak Ali tentu paham kondisi di lapangan. Tak bisa dipungkiri, saat ini masih banyak warga masyarakat yang  rentan secara ekonomi. Istilah populernya ekonomi lemah.Ini terjadi karena ketidakseimbangan antara pengeluaran dan pemasukan. Istilahnya Jawanya, Kokehan empyak kurang cagak. Sehingga bila ada kebutuhan mendadak, mereka dipastikan akan kelabakan.

Kondisi seperti itu, bisa menimpa siapa saja tak kenal strata sosial, baik yang berstatus sebagai pekerja maupun juragan. Bahkan yang berstatus pegawai negri sekalipun. Apalagi mereka yang berstatus sebagai tuna karya, pasti lebih pusing tujuh keliling lagi. Nah ketika ada kebutuhan dana mendesak dan tak ada lagi tabungan yang bisa dikuras, solusinya pasti akan cari pinjaman kesana kemari. Bisa jadi ke sanak family atau sahabat baik yang bisa membantu.

Namun bila merasa menghadapi jalan buntu, karena tak ada lagi siapapun yang bisa membantu, biasanya baru alternatif cari pinjaman bank. Tapi karena sifatnya yang darurat tentu tidak mudah mengakses dana kredit. Hal ini terkait dengan administrasi yang butuh proses bisa jadi berhari-hari. Maka solusi yang paling cepat hanyalah menggadaikan barang berharga yang dimiliki.

Saat ini, ada beberapa alternative pegadaian.Baik yang konvensional maupun syariah.Dan yang sudah tidak asing lagi adalah PT. Pegadaian Persero. Pegadaian plat merah yang berslogan mengatasi masalah tanpa masalah tersebut, memiliki outlet yang bertebaran di mana-mana. Meskipun demikian, masih banyak calon nasabah potensial yang tak terlayani. Merekapun akhirnya banyak yang terpaksa lari ke rentenir.

Mereka itulah yang menjadi target market menggiurkan bagi pegadaian swasta. Potensi market mereka cukup besar. Dan ini dibuktikan oleh PT Pegadaian Dana Sentosa yang meluncurkan brand Gadaimu. Sejak diluncurkan tiga tahun lalu, Gadaimu  terbuktimengalami pertumbuhan yang terbilang cepat.

Saat pertama dilaunching, Aji mengaku hanya diberikan modal kerja Rp 300 juta.Dalam perjalanan tiga tahun, kini perputaran modalnya sudah di atas Rp 1 miliar. Sementara jumlah nasabah yang tercatat diatas angka 600 lebih. “Kami patut bersyukur,Gadaimu bisa berkembang dengan menakjubkan,” tandas Stephanus.

Sebagaimana dijelaskan Stephanus Susilo Aji, Gadaimu merupakan perusahaan pegadaian swasta pertama di DIY yang memiliki ijin operasional resmi dari OJK. Dengan ijin dari Otoritas Jasa Keuangan No KEP-20/NB-1/2018 tersebut membuat nasabah menjadi yakin bahwa barang yang digadaikannya akan aman.

Gadaimu menerima jasa gadari mulai emas, barang elektronik seperti laptop, kamera, mesin cuci, kulkasm, televisi, playsation, serta kendaraan roda dan empat. Nilai gadai yang diberikan berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 70 juta, dengan jasa bunga 5 % per 15 hari.

Menurut pria yang akrab disapa Aji tersebut, sejak awal Gadaimu sudah memiliki ijin resmi. Hanya saja, pemilik pertama merasa ragu ketika akan  menjalankan bisnisnya lebih lanjut. Sebab ketika beberapa bulan dibuka, respon market kurang bagus.

“Karena itulah kemudian ditawarkan ke Pak Ali untuk diambil alih,” ujar Aji.

 

Tak sekedar bisnis

Ditangan Aji, Gadaimu dipoles sedemikian rupa dengan tampilan kantor layanan yang menarik. Selain menempatkan petugas front office yang berpenampilan ramah dan menarik, ruangan juga didesain dengan suasana yang nyaman ber-AC.

Satu hal yang  menarik, ternyata Gadaimu tak sekedar menjalankan misi  bisnis semata. Tapi ada misi sosial  karena melayani mereka yang tak terlayani di  pegadaian yang bersemboyan mengatasi masalah tanpa masalah. Itu karena nilai barang gadai tidak masuk kriteria.

Aji mengaku, ketika pertama kali dipercaya memegang Gadaimu, mendapat pesan khusus dari Pak Ali agar tidak tebang pilih dalam melayani nasabah.Siapa pun yang datang wajib dilayani dengan baik dan jangan sampai mengecewakan mereka.

Siapapun yang tidak terlayani di pegadaian yang ada, harus bisa dilayani di Gadaimu.Karena itulah, sering beberapa kali ada nasabah yang datang dengan membawa barang yang nilainya jauh dari ketentuan.

Yang membuat perasaan melas, suatu ketika ada seorang ibu, yang datang membawa sepeda mini yang sudah lusuh sambil mengendong anak kecil. Sepeda yang biasanya digunakan cucunya tersebut, terpaksa digadaikan karena untuk sangu sekolah cucunya yang lain.

“Sebenarnya sudah tidak ada nilai secara gadai tapi kami tetap berikan pinjaman 15 ribu rupiah, dam keesokan harinya sepeda itu langsung ditebus lagi,” pungkas Aji.

Masih banyak kisah wong cilik yang merasa tertolong karena bisa menggadaikan barangnya walau tidak seberapa nialainya di Gadaimu. Dan mereka nasabah yang baik karena pasti mengambil barangnya sebelum jatuh tempo.

Gadaimu yang berkantor di kawasan Jalan Parangtritis, Bantul, dan memiliki beberapa gerai ini, kini tidak hanya melayani nasabah yang datang.Tapi juga melayani Pickup servise atau jemput bola. Barang gadai yang tidak bisa dibawa ke kantor akan ditaksir langsung dibayar di lokasi. (Ggn)

 

 


share on: