Yogyapos.com (SLEMAN) - Kepala Humas, Sekretariat dan Protokol UAJY Rebekka Rismayanti sejumlah dosen UAJY yang memperoleh dana Kedaireka antara lain Yohanes Priadi Wibisono ST, Prof Djoko Budiyanto, Clara Hetty Primasari, Mutiara Cininta, dan Thomas Adi Purnomo Sidhi ST.
“Bersama dengan dosen Institut Seni Indonesia, Yogyakarta Dr. Yohana Ari Ratnaningtyas dan Setya Rahdiyatmi Kurnia Jatilinuar memperoleh pendanaan Kedaireka yang merupakan program Matching Fund yang diselenggarakan oleh Kemdikbudristek RI,” jelas Rebekka dalam pers rillisnya, Jumat (29/7/2022).
Menurutnya, dalam mengikuti program ini, awalnya tim mengajukan proposal melalui website Kedaireka untuk kemudian masuk ke proses seleksi. “Setelah proses seleksi, apabila pihak universitas dinyatakan lolos maka akan dikontak dan selanjutnya akan masuk ke proses administrasi seperti pembuatan RAB,” ungkap dia.
Salah satu dosen UAJY Priadi Wibisono mengatakan, dirinya bersama tim dalam program ini melakukan pengembangan produk digital ‘Metaverse Gamelan’ sebagai upaya untuk pelestarian budaya seni musik gamelan. Hal ini dilatarbelakangi dimana semua orang mengetahui bahwa gamelan merupakan salah satu aset asli Bangsa Indonesia namun tidak semua orang pernah memainkan alat gamelan tersebut karena keterbatasan alat dan gamelan tidak mudah untuk di bawa ke mana-mana.
“Tim memikirkan bagaimana cara untuk melestarikan gamelan digabungkan dengan trend yang ada saat ini dengan membuat metaverse gamelan. Yang lagi happening saat ini kan metaverse, makanya kita membentuk gamelan ke dalam bentuk virtual atau metaverse tersebut. Melestarikannya dapat, trendnya juga dapat,” ujar Priadi.
Lebih lanjut katanya, penggunaan dana dibagi untuk produksi kerja sama dengan mitra yaitu Arutala. Selain itu penggunaan dana juga dilakukan untuk transfer knowledge kepada sejumlah 45 mahasiswa yang terdiri dari Mahasiswa UAJY dan juga Mahasiswa ISI.
“Transfer knowledge dilakukan secara lintas program studi seperti program studi Sistem Informasi, Teknik Informatika, Akuntansi, dan Arsitek dari mahasiswa UAJY serta program studi Karawitan dan Manajemen Seni dari Mahasiswa ISI. Transfer knowledge dilakukan dengan membuat berbagai rangkaian workshop dengan pembicara dari berbagai pakar, publikasi dengan pembuatan modul ajar agar generasi selanjutnya bisa belajar secara mandiri, dan publikasi internasional. Dana juga digunakan untuk pembuatan produk jadi dan mempatenkan produk tersebut melalui HAKI,” imbuh dia.
Setelah ini, tim akan mengembangkan terus metaverse gamelan ini karena gamelan dari setiap daerah berbeda ragamnya seperti gamelan Jogja, Solo, Bali, dan sebagainya.
“Project terdekat baru memfokuskan ke gamelan Jogja, setelah ini tentunya akan memperbanyak jenis gamelan di Metaverse Gamelan tersebut,” pungkasnya. (*)
