Yogyapos.com (YOGYA) - Di era digital seperti sekarang ini perpustakaan harus menyesuaikan perkembangan atau tren. Sebagaimana diketahui bahwa masyarakat, terutama generasi mudanya sangat akrab dengan perangkat gadget tehubung internet. Di Indonesia sendiri diperkirakan 338,2 juta perangkat terhubung internet digunakan masyarakat atau mencapai 124% dari jumlah penduduk.
Hal itu disampaikan Ida Fajar Priyanto MA PhD dalam Forum Diskusi Pustakawan bertema ‘Tantangan Pengelolaan Perpustakaan di Era Digital yang berlangsung di Gedung Heritage Bank Indonesia (BI), Jalan Panembahan Senopati Yogyakarta, Sabtu (07/03/2020). Forum dihadiri para pustakawan berbagai instansi pemerintah/non pemerintah di DIY dan 170 orang personil Generasi Indonesia Baru (Genbi) pendamping BI Corner. Sedangkan pemandu diskusi Pustakawan Universitas Brawijaya Malang, Dwi Fitrini Cahyaningtyas.
Ida menunjukkan sejumlah riset diantaranya 96% masyarakat menggunakan gadget untuk mengakses aplikasi chat seperti whatsapp, line, telegram, serta media sosial Facebook, Twitter, dan Instagram. Fenomena demikian dapat diartikan telah terjadi perubahan perilaku masyarakat pada kondisi serba digital mengandalkan perkembangan teknologi.
“Karena itu perpustakaan juga turut berubah mengikuti tren tersebut. Baik dari sisi desain bangunan, interior, sarana ,maupun fasilitas berbasis teknologi informasi bagi pemustaka,” ungkapnya.
Perubahan ini, paparnya, akan menggantikan kebiasaaan lama. Perubahan perpustakaan awalnya hanya fokus pada software. Kemudian sumber digital hingga mengubahnya menjadi perpustakaan digital. Selanjutnya berkembang menjadi komputerisasi, automasi perpustakaan melalui penyediaan wifi, listrik, fungsi ruang, sampai pada perubahan pola pikir pustakawan.
“Namun semua perubahan tersebut masih disikapi dan disajikan oleh sebagian besar perpustakaan dengan gaya lama (in the old ways),” kata Dosen Manajemen Informasi dan Perpustakaan (MIP), Sekolah Pasca Sarjana UGM.
Demikian pula pustakawan, mestinya berperan sebagai information provider yang membantu memudahkan pengambilan keputusan secara cerdas. Perpustakaan tetap hadir sebagai media untuk membangun pengetahuan individu. Pustakawan selalu berusaha menggali berbagai hal berkaitan sumber-sumber informasi, layanan, dan strategi menyenangkan serta memuaskan para pemustakanya.
“Tentu hal ini bisa dicapai apabila pustakawannya kreatif inovatif. Misalnya pustakawan menyampaikan informasi kepada publik melalui media semacam film dan gambar bergerak lainnya. Dalam hal ini pustakawan harus punya keterampilan merekam,” jelasnya.
Ida juga menerangkan, sudah saatnya perpustakaan menyediakan sarana fasilitas dengan desain khusus. Misalnya saja desain katalog online (OPAC), ruang display, ruang diskusi, bahkan penyediaan sarana belajar yang dapat digunakan sambil tiduran. Ada beberapa perpustakaan sudah dilengkapi fasilitas kafe, gym, area permainan, studio, sampai ruang belajar mandiri yang didesain spesial.
“Perpustakaan disesuaikan gaya generasi milenial, termasuk perubahan gaya pustakawan melayani berbagai kebutuhan pemustaka,” ujar Ida.
Pada kesempatan kedua, Pustakawan Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Riah Wiratningsih SS MSi, menceritakan beberapa pengalaman dirinya sebagai pustakawan. Menurutnya, perubahan pustakawan dilakukan menyesuaikan kebutuhan pemustaka yang setiap saat berubah pula. Apalagi di perguruan tinggi, akses informasi tidak hanya bisa diperoleh melalui koleksi perpustakaan. Tetapi dari sumber-sumber informasi lain terkoneksi internet.
‘Kita perlu memahaminya, maka kewajiban kita sebagai pustakawan adalah mengetahui dan mampu mengakses sumber informasi tersebut guna membantu pemustaka yang membutuhkan agar memperoleh informasi secara benar akurat,” ujar perempuan bergaya milenial asal Boyolali ini.
Di perguruan tinggi, kebutuhan mahasiswa lebih cenderung pada bagaimana membuat karya akademik (ilmiah) sehingga pustakawan pun dituntut menguasai keterampilan itu untuk membimbing sekaligus mendampingi pemustaka. Selain itu mengarahkan referensi berbasis internet dari jurnal atau web yang dapat dipertanggungjawabkan. Banyak sumber referensi digital mudah diakses, contohnya Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), E-resources Perpusnas, Ipusnas, Ruang Guru, Rumah Belajar Kementerian Pendidikan, hingga publikasi/jurnal ilmiah nasional maupun internasional.
“Menghadapi tantangan era digital ini, pustakawan perlu membekali diri dengan kemampuan mengelola informasi. Juga memiliki strategi agar perpustakaan selalu berkembang dan diminati pemustaka. Di samping itu, meningkatkan keterampilan menulis ilmiah terutama bagi pustakawan perguruan tinggi,” pungkasnya. (Muf)
