Yogyapos.com (YOGYA) - Siswa SMAN 6 Yogyakarta, Prakasa Arka Dewanto, telah kembali ke Yogyakarta setelah setahun mengikuti program Student Exchange Rotary Club. Kini dia mahir Bahasa Portugis, menari tarian Samba, dan olahraga tenis pantai. Arka juga sempat berkunjung ke keluarga legenda sepak bola Brasil, Pele karena kebetulan dekat dengan sekolahnya
BACA JUGA: Kisah Inspiratif Angel, Penyandang Tunanetra yang Sukses Masuk UGM
Banyak sekali program pertukaran pelajar internasional yang bisa diikuti siswa-siswi dari Indonesia. Salah satunya program dari Rotary Club International. Organisasi yang punya misi kemanusiaan dan kebudayaan serta ingin mencetak calon-calon pemimpin muda masa depan di seluruh dunia.
BACA JUGA: Nobar Piala Dunia 2026 di Makorem 072/Pmk Perkuat Kemanunggalan TNI dan Rakyat
Rotary berdiri sejak tahun 1905 dan beranggotakan para pengusaha dan profesional di lebih seratus negara anggota. Organisasi ini didirikan pertama kali di Chicago, Amerika Serikat, oleh Paul Harris yang kemudian menyebarkan programnya ke seluruh dunia.

Di Yogyakarta Rotary Club sudah memulai programnya sejak Agustus 1927 sebelum Indonesia merdeka. Karena dinilai penting dan berdampak sangat positif maka Rotary Club dan program sosial kulturnya dilanjutkan sampai sekarang.
BACA JUGA: ELsa Lucyta Wakili Yogya Tembus Icon Indonesia
Salah satu program berkesinambungan itu adalah mengadakan pertukaran pelajar lintas negara - lintas benua untuk tujuan menciptakan iklim toleransi dan harmoni secara global. Salah satu caranya adalah dengan mendampingi dan mendidik generasi muda untuk dapat saling memahami, menghargai, dan respek terhadap beragamnya budaya yang ada di seluruh dunia.
BACA JUGA: Polisi Tetapkan 14 Tersangka Baru Kekerasan Anak di Daycare Liettle Aresha Yogya
Program Rotary Student Exchange adalah program pertukaran pelajar setingkat SMA yang rutin dibuka setiap tahun. Dalam program ini pelajar dari satu negara akan dikirim dan tinggal di negara lainnya selama satu tahun.
BACA JUGA: Haura Azka Hafidzah Lolos Finalis Bintang Sobat SMP 2026, Adaptif dan Visioner
Selama tinggal di negara tujuan peserta program ini harus masuk ke sekolah lokal untuk mengikuti proses belajar mengajar yang dipilih dan segala kebutuhan hidupnya ditanggung oleh orang tua asuh yang ditunjuk Rotary Club setempat.

Salah satu pelajar yang beruntung mengikuti program tersebut adalah Prakasa Arka Dewanto. Siswa kelas dua SMA Negeri 6 Yogyakarta. Sekolah yang lebih terkenal dengan sebutan SMA Depaster (Depan Pasar Terban), yang merupakan salah satu sekolah SMA favorit di Yogyakarta.
BACA JUGA: Anak-Anak Korban Kekerasan Litle Aresha Masih Jalani Perawatan
Putra sulung Wawan Hari Dewanto dan Fika Puspitasari, yang pengusaha persewaan videotron di Kalasan Yogyakarta dengan bendera RK Studio ini, pada awalnya berharap bisa ditempatkan di salah satu negara Eropa sesuai impiannya. Kalau tidak bisa di Eropa Utara Skandinavia, setidaknya bisa mendapatkan lokasi di salah satu negara Eropa Barat seperti Swiss atau Belanda.
BACA JUGA: Bocah Terseret Ombak Pantai Goa Cemara Ditemukan Meninggal Dunia
"Jujur saja, saat diumumkan, saya agak kecewa. Kok ke Sao Paulo, Brasil bukan Eropa. Tidak menarik. Jauh sekali. Dan bahasanya itu loh kan asing sama sekali. Bahasa Portugis yang aku nggak ngerti sama sekali. Kan jadi kuatir bagaimana nanti komunikasinya selama di sana. Aku hanya bisa Bahasa Inggris. Karena itulah, aku sempat minta pindah negara aja. Tapi, ternyata nggak bisa. Ya, sudahlah berangkat dengan modal yakin aja. Bismillah," ujar Arka saat berbincang dengan yogyapos.com.
BACA JUGA: Obwis Kaliurang Dikunjungi 11.000 Wisatawan Sejak Awal Bulan
Tepat 5 Juli 2026 kemarin Arka sudah mendarat kembali di Bandara Soekarno Hatta. Artinya, sudah sebelas bulan lebih dia hidup di Brasil. Tepatnya di kota Santos, Sao Paulo, sebuah kawasan pedesaan di Brasil selatan dekat pantai. Akhir Agustus tahun lalu dia berangkat juga ke Brasil dengan pesawat yang transit di salah satu bandara Eropa.
BACA JUGA: Sosialisasi 'Sleman Pintar' Menyasar ke Kampus UTY
Apakah rasa kecewa karena ditempatkan di Brasil itu masih ada sekarang? "Nggak! Aku malah bersyukur dilempar ke Brasil. Ternyata bahasa Portugis itu dipakai oleh sepertiga penduduk dunia. Tiga bulan di Brasil saya sudah lancar berkomunikasi dengan warga lokal. Ternyata Bahasa Portugis tidak sulit. Jadi, sekarang aku bisa dua bahasa asing. Inggris dan Portugis. Beruntungnya lagi aku juga mendapatkan orang tua asuh yang sangat baik," ujarnya.

Arka juga merasa bersyukur bisa tinggal lama di negara yang olahraga sepak bolanya sudah seperti agama itu. "Gila memang kalo soal bola. Fanatismenya tinggi. Kebetulan orang tua asuhku itu dekat dengan keluarga Pele. Jadi, beberapa kali ketemu dengan keluarga legenda sepakbola Brasil itu. Kebetulan Sao Paulo kita punya klub-klub bola yang hebat dan disegani," tambahnya.
BACA JUGA: Kirab dan Display Taruna AAU di Malioboro Pukau Masyarakat
Nah, sebagai seorang muslim apakah Arka mendapatkan kesulitan untuk beribadah? Ternyata tidak! "Hanya 10 menit dari rumah ada masjid. Didirikan oleh komunitas muslim Timur Tengah dan Afrika. Makanan halal juga tidak sulit. Hari Jum'at seperti hari raya karena orang Islam kumpul semua di masjid itu. Aku happy karena apa saja yang aku kuatirkan tidak terjadi," jelasnya.
BACA JUGA: Menko Infra AHY: Pembangunan Nasional Harus Bertumpu pada Sejarah dan Kearifan Lokal
Arka juga menyatakan ia tidak menyesal kalau harus tinggal kelas setahun. Teman-teman seangkatannya sudah naik ke kelas tiga, dan dia harus masuk ke kelas dua lagi, satu kelas dengan adik angkatannya.
BACA JUGA: Muhadjir Effendy Apresiasi Kinerja Kemenhaj, Nilai Transisi Penyelenggaraan Haji Berjalan Baik
"Ikut program ini sangat luar biasa buatku. Banyak hal yang tidak mungkin didapat di sekolahan. Wawasan dan pergaulanku jadi luas. Teman-temanku sekarang lintas negara. Itu menyenangkan. Di titik ini aku harus berterima kasih sama Papa Mama yang memaksaku ikut program yang amazing ini. Satu lagi, aku yang dulu merasa introvert dan susah membangun komunikasi dengan orang baru sekarang rasanya tidak ada yang sulit. Bergaul dengan siapa pun sekarang aku pasti bisa," tandasnya di akhir perbincangan. (PW)
