Yogyapos.com (BANTUL) - Duo musisi jazz asal Belanda, Inneke Vandoorn dan Marc Van Vugt tampil konstan saat menyodorkan sejumlah komposisi lagu. Permainan gitar akustik Marc sangat rapat dengan kord-kord yang tak lazim. Olah suara Inneke pun stabil. Jemarinya juga lincah saat menari di tuts piano. Sesekali diselipi sketch singing yang menambah hangat suasana malam itu, Selasa (10/12) di Pendopo Tembi Rumah Budaya Bantul.
Audiens dibuat terperangah saat duo ini menyuguhkan lagu lawas ‘Angin Malam’ milik mendiang Broery Marantika dengan versi smooth jazz. Segar, riang dan penuh esensi. Kendati artikulasinya Inneke terbata-bata, namun tak memudarkan roh lagu legendaris Angin Malam.
Keduanya juga berkolaborasi dengan musisi gamelan dari Kua Etnika, Purwanto dan Sukoco. Gairah membuncah. Alunan semakin ritmik, beat yang disodorkan juga dinamis. Purwanto dan Sukoco adalah pentolan Kua Etnika yang bergelut dengan musik tradisional bersama mendiang Djaduk Ferianto.
Helatan musik ini dalam rangkaian tur lawatan dunia Inneke dan Marc. Di Indonesia mereka singgah ke Erasmus Huis Jakarta pada 7 Desember. Tembi Rumah Budaya pada 10 Desember. Serta, Wisma Chandra di Lampung pada 13 Desember.
Inneke merupakan penyanyi yang acapkali melakukan eksplorasi vocal. Basic dasarnya adalah music opera. Sementara Marc adalah gitasi dan composer yang penuh improvisasi. Kejutan-kejutan sering kali dihadirkan, hingga menembus batas emosi melodi sebuah lagu. Untuk komposisi music lebih condong ke aliran choco Brazil, dengan balutan dongeng khas Skandinavia. Danke Dames en Heren. (Dol)
