PADA 25 Desember 2025, sebuah momen penting terjadi dalam sejarah organisasi Islam terbesar di Indonesia: Islah antara Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf dan Rois Aam KH Miftachul Akhyar. Di tengah dinamika internal yang sempat memanas, peristiwa ini menjadi penanda bahwa kesadaran kolektif dan semangat pengabdian masih menjadi ruh utama dalam tubuh Nahdlatul Ulama.
BACA JUGA: Ibu-ibu KWT Pandan Wangi Tirtoadi Memanen Cabe di Cerah Pagi
Islah ini bukan sekadar rekonsiliasi dua tokoh, melainkan simbol kematangan organisasi. Ketika banyak ormas atau lembaga terjebak dalam konflik berkepanjangan karena ego dan ambisi, PBNU justru menunjukkan bahwa perbedaan bisa dijembatani dengan musyawarah dan keikhlasan.
BACA JUGA: 656 Peserta 'BARATA' ke-40 Jelajah Bhumi Medang, Bergerak dari Lapangan Pemda Sleman
Jabatan Bukan Tujuan, Tapi Amanah
Salah satu pelajaran penting dari peristiwa ini adalah bahwa jabatan dalam ormas bukanlah alat kekuasaan, melainkan ladang pengabdian. Ketika jabatan diperebutkan dengan nafsu, maka organisasi akan terpecah. Namun ketika jabatan dipandang sebagai amanah, maka perbedaan akan didekati dengan kepala dingin dan hati yang lapang.
BACA JUGA: Mensesneg Minta BMKG Perketat Pemantauan Cuaca Jelang Pergantian Tahun
Kesepakatan untuk menyelenggarakan Muktamar bersama adalah bukti bahwa PBNU tidak ingin terjebak dalam konflik internal yang melelahkan umat. Sebaliknya, mereka memilih jalan damai demi kemaslahatan yang lebih besar.
BACA JUGA: Kesiapan Pemkot Hadapi Malam Pergantian Tahun, Dari Pos Kesehatan Hingga Alat Kejut Jantung
Islah
Kematangan yang Menyejukkan
Islah ini juga menjadi pelajaran bagi organisasi lain, baik keagamaan maupun kemasyarakatan. Bahwa konflik bukan untuk dipelihara, tapi untuk diselesaikan. Dan penyelesaiannya bukan dengan saling menjatuhkan, melainkan dengan saling memahami.
“Barangsiapa menolong orang dalam kesulitan, Allah akan menolongnya.” (HR. Tirmidzi)
BACA JUGA: SMA Muhi Yogya Raih Peringkat 3 Hasil TKA 2025 Nasional
Dalam konteks ini, menolong organisasi keluar dari konflik adalah bentuk pertolongan yang mulia. Dan mereka yang terlibat dalam islah ini telah menunjukkan bahwa kesatuan dan persatuan lebih utama daripada kemenangan pribadi.
BACA JUGA: Dr Ter Hilmi Rahman: Perencanaan dan Tata Kelola Kunci Efektivitas PMN BUMN
Islah PBNU pada 25 Desember 2025 adalah cermin kejernihan hati dan kedewasaan berpikir. Ia mengingatkan kita bahwa dalam organisasi, terutama yang membawa nama umat, pengabdian harus lebih tinggi dari ambisi. Semoga semangat ini terus terjaga, dan menjadi inspirasi bagi semua elemen bangsa. (Samsuri, Jurnalis dan Pemerhati, tinggal di Kotagede Yogya)
