Jambore Peningkatan Kapasitas Relawan Tempel, BPBD Ingatkan Masyarakat Antisipasi Pancaroba

share on:
Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sleman, Ismardiyanto (kiri) saat memberikan keterangan kepada wartawan || YP-Eko purwono

Yogyapos.com (SLEMAN) - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sleman mengimbau masyarakat untuk mulai mengantisipasi bencana yang mungkin terjadi saat memasuki musim pancaroba tahun 2024.

Hal itu dikatakan Staf Bidang Pencegahan dan Kesiapsiagaan Bencana BPBD Sleman, Ismardiyanto disela menjadi narasumber pada ‘Jambore Peningkatan Kapasitas Relawan Kapanewon Tempel’ di Taman Embung Mororejo, Sabtu (28/9/2024) malam. Kegiatan dibuka secara resmi oleh Penewu Tempel, Agung Dwi Maryoto SH MSi. 

Ismardiyanto menyebutkan, saat ini telah memasuki musim penghujan sehingga ada potensi bencana klimatologi yaitu bencana alam yang terjadi karena akibat perubahan iklim yang ekstrim.

“Bencana yang mungkin datang saat musim penghujan ini, kemungkinan ada bencana klimatologi,  bisa angin kencang, hujan lebar dan sebagainya sehingga perlu kita waspadai,” ujarnya.

Menurut dia, keberadaan unsur relawan di Kapanewon Tempel yang tergabung dalam Rekat (Relawan Kemanusiaan Tempel) sangat dibutuhkan, bahwa penanggulangan bencana adalah tanggungjawab bersama. Pihaknya berharap para relawan lebih peka terhadap dinamika iklim di wilayah masing-masing. 

Para relawan peserta Jambore || YP-Eko Purwono

“Karena keterbatasan personel BPBD, maka peran relawan dan masyarakat sangat dibutuhkan, selama ini kami telah bekerjasama dengan relawan dan komunitas di kapanewon, termasuk dengan Rekat,” ungkapnya.

Penewu Tempel Agung Dwi Maryoto menyatakan apresiasi atas terselenggaranya Jambore Peningkatan Kapasitas Relawan Kapanewon Tempel. 

“Apresiasi kami sampaikan kepada seluruh relawan yang tergabung dalam Rekat, semoga ke depan selalu berkontribusi positif bagi masyarakat,” tutur Agung. 

Sedangkan Ketua Jambore, Daryanto menjelaskan melalui kegiatan jambore diharapkan dapat terjalin komunikasi antar relawan termasuk dengan unsur Forkopimcam sehingga deteksi dini dan langkah mitigasi dan penanganan bencana alam dapat dilakukan dengan baik. Langkah mitigasi dilakukan salah satunya dengan penebangan pohon yang diindikasi membahayakan. 

“Di relawan Rekat jumlah personel ada sekitar 70 orang, sedangkan di tiap kalurahan ada kaltana, intinya kita selalu berkoordinasi dengan semua unsur dalam mitigasi bencana alam,” jelas Daryanto. 

Daryanto menambahkan, untuk meningkatkan kapasitas dan pengetahuan anggota relawan, pihaknya mengundang sejumlah narasumber, antara lain Ketua Forum Komunikasi Komunitas Relawan Sleman (FKKRS) Yoga Nugroho Utomo SE dan BPBD Sleman yang diwakili oleh Ismardiyanto. 

“Sebenarnya kita juga mengundang narasumber dari BMKG untuk kami minta pemaparan soal potensi bencana megathrust,” ungkapnya. 

Kegiatan turut dihadiri Kapolsek Tempel AKP Gunawan Setiabudi SH MM, Danramil 4/Tempel Kapten Inf Sujana, Kepala Jawatan Keamanan Kapanewon Tempel Supardi S Pd, Lurah Mororejo Jaka Ristanta, Babinsa Mororejo dan Bhabinkamtibmas Mororejo. (Opo) 

 

 

 

 


share on: