Yogyapos.com (BANTUL) - Sejumlah anggota Komisi X DPR RI mengunjungi Perpustakaan Daerah (Perpusda) Bantul dalam Reses Masa Persidangan II TahunSidang 2019-2020. Kunjungan kerja yang dipimpin KetuaKomisi X, H Syaiful Hudaini meninjau secara langsung perkembangan perpustakaan, kebijakan Pemerintah Kabupaten Bantul, serta implementasi peraturan perundang-undangan terkait perpustakaan. Di samping itu menjaring masukan,bagaimana evaluasi penyelenggaraan pengelolaan perpustakaan di daerah, permasalahan apa saja yang muncul, dan bagaimana mengatasi permasalahannya.
Kunjungan kerja diterima Kepala Dinas Perpustakaandan Kearsipan (Dispusip)Bantul, Drs Eddy Susanto didampingi pejabat struktural beserta pejabat fungsional setempat, Jumat (28/02/2020). Nampak hadirKepalaDinas Perpustakaandan Arsip Daerah (DPAD) DIY, Kepala Dikpora DIY dan Dikpora Bantul, jajaran sekretariat dan tenaga ahli Komisi X DPR RI.
Anggota Komisi X DPR RI dari Fraksi PDI Perjuangan Daerah Pemilihan DI Yogyakarta, My Esti Wijayati, dalam perbincangannya dengan Kepala Dispusip di ruang terbuka perpustakaan mengapresiasi perkembangan Perpusda Bantul. Diamengatakan, perpustakaan sangat menunjang bidang pendidikan yang merupakan ruang lingkup Komisi X, sedangkan Perpustakaan Nasional menjadi pasangan atau mitra kerjanya.
Wakil rakyat berasal dari Sleman DIY ini berpesan agar aspirasi maupun kebutuhan masyarakat Bantul, terutama yang berkaitan dengan perpustakaan disampaikan ke pihaknya. Komisi X DPR RI bersama mitra kerja di tingkat pusat siap membantu.
“Silahkan diidentifikasi kemudian disampaikan. Tugas saya sebagai perwakilan dari daerah meneruskan dan memperjuangkan aspirasi itu hingga dapat dibahas nantinya,” ujar Esti kepada Kepala Dispusip.
Di tempat terpisah, Deputi Bidang Pengembangan Bahan Pustaka dan Jasa Informasi, Perpustakaan Nasional, Dra Ofy Sofiana MHum yang mendampingi anggota Komisi X turut memberikan apresiasi pada Perpusda Bantul. Koleksi Perpusda Bantul saat ini menurut informasi disampaikan pustakawan ada 39.565 judul 113.911 eksemplar. Pengelolaan koleksi dan pelayanannya sudah berbasis teknologi informasi (TI).
Setelah menyempatkan diri mengisi buku pengunjung berbasis TI di konter pelayanan, dia meninjau ruang baca, ruang koleksi umum dan anak, koleksi braille, hingga koleksi karya akademik (skripsi) di lantai 2 didampingi Kabid Pelayanan, Kasi Pelayanan Perpustakaan, dan pustakawan. Menurut Ofy, skripsi cukup banyakd i lantai II memerlukan penataan lebih lanjut, karena ruangannya kurang memadai. Dia menyarankan kedepan agar menyimpan skripsi berwujud softcopy.
“Tentu akan memudahkan pemustaka mengakses informasi apabila aplikasi perpustakaan sudah dipergunakan. Masyarakat bisa membacanya secara online,” katanya.
Sementara terkait penanganan skripsi,Perpusda dapat melakukan pengelolaan informasinya sehingga tetap bisa diakses oleh pemustaka meski hanya sekilas. Salah satunya menyertakan abstrak saat melakukan pengolahan atau entri data melalui aplikasi. Skripsinya bisa dipasang beberapa tahun terbaru saja, misalnya lima tahun ke belakang. Lainnya boleh disimpan supaya lebih menghemat ruang.
“Tetapi apabila ingin menghapus skripsi-skripsi lama, sebaiknya meminta izin dulu ke Bappeda sebagai lembaga yang menghibahkan skripsi,” pesannya.
Selain meninjau ruang dalam gedung perpustakaan, anggota Komisi X juga berkenan melihat secara langsung pengembangan ruang terbuka Perpusda yang sudah dilengkapi gazebo serta beberapa alat permainan. Sejumlah anggota dewan nampak berinteraksi dengan pengunjung di area tersebut. Usai mengunjungi Perpusda, para wakil rakyat tingkat pusat itu melanjutkan tugasnya menuju ISI Yogyakarta dan diterima Bupati Bantul. (Muf)
