Kasus Bawang Merah Nawungan, Terlapor Nyatakan Hanya Ambil Alih Tanggung Jawab

share on:
Sgt (ketiga dari kiri) bersama Tim Kuasa Hukumnya menunjukkan bukti-bukti foto pertemuan dengan pihak terkait || YP-Ismet NM Haris

Yogyapos.com (BANTUL) - Sgt (58) yang dilaporkan ke Polres Bantul atas dugaan penipuan pembelian bawang merah milik 27 petani Nawungan Imogiri akhirnya buka suara. Ia menyatakan sama sekali tidak melakukan penipuan atau pun ngemplang uang penjualan bawang merah milik petani sebagaimana dialamatkan kepadanya selama ini.

“Saya ini hanya pelaksana, mengambil alih tanggung jawab orang lain. Tidak ngemplang. Sejak awal beritikad baik akan bertanggung jawab membayar bawang merah. Tapi belum terlaksana karena klarifikasi itung-itungannya belum terpenuhi,” katanya kepada sejumlah wartawan di Bantul, Jumat (15/10/2021).

Warga asal Bantul yang beralamat di Jakarta ini saat memberikan keterangan pers didampingi tim pengacaranya R anwar Ary Widodo SH, Hamzal Wahyudin SH dan Wanda Satria Atmaja SH, menegaskan sampai sekarang belum mendapat panggilan dari kepolisian.

“Pasti akan kooperatif jika ada panggilan pemeriksaan,” sela Wanda Atmaja yang mengaku sudah memberitahu lisan ke kepolisian perihal keberadaan kliennya yang lebih sering tinggal di Jakarta.

Sgt kembali mengungkapkan kronologi dirinya terlibat dalam pembelian hasil bawang merah milik petani, pada pertengahan tahun 2020 dihubungi dan diajak tim yang dikoordinasi seseorang berinisial CS. Inti pertemuan tim tersebut diminta membantu kerjasamaa pemasaran hasil panen bawang milik petani oleh Kepala Dinas Pertanian Bantul.

Tinjauan ke lokasi kemudian dilakukannya. Dirinya mengaku hanya pelaksana kerjasama, sedangkan Tim CS sudah memiliki investor berinisial H yang nantinya akan membayar semua hasil panen petani, serta sudah ke notaris untuk mendirikan koperasi yang akan dijadikan benderanya saat itu maupun untuk masa yang akan datang. Tapi di tengah perjalanan  kerja tersebut H dikabarkan oleh C tidak mau melanjutkan rencananya. Padahal Sgt sudah melakukan penimbangan bawang merah dari petani atas anjuran Kepala Dusun setempat.

“Saya sempat mengatakan uangnya belum ada. Tapi Pak Dusun menyatakan tidak apa-apa, yang penting ditimbang dulu. Terus terang saya kaget ketika itu. Tapi karena sudah terlanjur, bahkan petani juga sepakat soal pelunasan pembayarannya belakangan maka pembelian bawang merah diteruskan dan disimpan di gudang.

Total bawang dari petani sebanyak 32,159 ton. Sebanyak 7 ton dijual ke Bojonegoro, 7 ton lainnya dibeli orang Brebes. Terjadi juga penyusutan dan busuk. “Dari total bawang merah yang ternyata telah terjadi penyusutan, saya sudah membayar ke petani Rp 178.830.000,” jelasnya.

Terkait pelaporan petani ke kepolisian, tim kuasa hukum menyatakan salah alamat jika ditujukan kepada kliennya. Sebab kasus ini harus dikaitkan dengan dua institusi sebagai insisiator kerjasama, yang tentu saja juga bukan ranah pidana melainkan keperdataan hubungan jual beli.

“Kalau mau fair terlapornya bukan cuma klien kami. Dan perlu ditegaskan bahwa ini kasus kerjasama jual beli yang sebagian uangnya juga sudah dibayarkan oleh klien kami, walau sebenarnya dia hanya pelaksana,” tegas timpal Hamzal. (Met)  


share on: