Yogyapos.com (SLEMAN) - Sebagai upaya membangkitkan kreativitas dalam hal keterampilan menulis, Yayasan Sahabat Manusia Pembutuh Cinta (Yayasan Hamba) Pakem, menggelar kegiatan bertema ‘Gemar Menulis’ menghadirkan tentor Dr H Muhsin Kalida SAg MA, trainer psychowriter dan penulis buku. Kegiatan diikkuti anak dampingan dan seluruh pengasuh yayasan, di Kantor Sekretariat Yayasan Hamba di Dusun Katen, Kalurahan Harjobinangun, Kapanewon Pakem, Sleman, Sabtu (11/12/2021).
“Di sini saya memang menginisiasi untuk membuat buku Bunga Rampai keluarga besar Yayasan Hamba, jadi seluruh komponen dari mulai anak-anak dampingan, pengasuh atau pendamping, pengurus yayasan bahkan pembina kami harap bisa menulis dalam satu buku ini,” terang Ketua Yayasan Hamba, Nyadi Kasmoredjo kepada yogyapos.com disela acara.
Menurutnya, pada kesempatan ini pihaknya menggandeng Dr Muhsin Kalida dengan harapan agar dapat memberikan dorongan dalam menulis sehingga akan muncul suatu kreatifitas menulis untuk dituangkan dalam bentuk buku. Pihaknya berharap dan optimis penulisan bungai rampai yayasan ini dapat diterbitkan pada akhir Februari 2022 sekaligus dilaunching pada awal Maret 2022.
“Beliau ( Dr Muhsin Kalida-red) memang sudah banyak karya-karya nyatanya yang diakui secara nasional dan pernah mendapatkan penghargaan dari Wakil Presiden pada saat Pak Yusuf Kalla, maka kami undang beliau di sini untuk memberikan motivasi agar muncul gagasan untuk gemar menulis,” ungkapnya.
Dr Muhsin Kalida dalam kesempatan tersebut menyebutkan bahwa psychowriter merupakan kaitan antara psikologi dan program menulis, sebenarnya setiap orang punya kemampuan dalam bidang menulis.
Lebih jauh, beber Dosen UIN Sunan Kalijaga ini, ada tiga hal yang paling utama untuk menulis diantaranya bagaimana untuk mengadirkan ide dengan cepat, tepat, menyenangkan dan sesuai hati nurani.
“Kemudian yang ke dua yakni menciptakan mood, kalau menunggu terus ngak akan datang mood itu maka kita harus menciptakan mood, kemudian yang ke tiga harus ada action, seperti yang dinamakan learning by doing. Maka syarat menulis itu hanya satu kata yaitu tulis pakai tanda pentung supaya ini menjadi sebuah perintah, menulis itu tidak sulit namun menyenangkan,” bebernya.
Sejauh ini, ungkap dia, dari proses pendampingan terdapat sekitar 170 karya buku yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia.
"Saya sebagai seorang muslim bahwa ayat pertama yang turun ke bumi adalah perintah membaca, lalu ayat selanjutnya menyebutkan berpikirlah dengan pena dan kertas, ini artinya bahwa membaca dan menulis itu adalah perintah agama, kedua kita harus punya ambisi bahwa untuk mendapatkan amal Sholih yang tidak akan pernah putus amalnya itu adalah ketika ilmu pengetahuan itu dalam bentuk tulisan,” tuturnya.
Ica, salah satu anak dampingan wanita, mengaku senang bisa menuangkan kisah ke dalam bentuk tulisan. “Suka sih, bisa mengeluarkan apa yang pernah dialami kedalam tulisan, ini saya tulis tentang bagaimana perasaan pada saat ujian sekolah,” ucapnya. (Opo)
