Yogyapos.com (SLEMAN) - Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tidak akan merombak kurukulum pendidikan yang selama ini sudah diterapkan di semua jenjang sekolah. Tetapi dilakukan perbaikan dengan cara terobosan dan inovasi menuju terciptanya SDM unggul seperti yang menjadi visi pemerintah di bawah kepemimpinan presiden Joko Widodo.
“Kaitannya dengan kurikulum, kita terus melakukan inovasi atau continuous improvement. Tentunya yang sudah baik, tetap kita pertahankan. Bukan hanya di kurikulum, tapi dalam hal-hal lain seperti yang menjadi semangat Presiden Jokowi sekarang yang menginginkan SDM unggul. Kita harus melakukan inovasi-inovasi di semua lini. Mengubah mindset kita, mindset yang lebih inovatif,” ungkap Staf Khusus Mendikbud Bidang Pendidikan dan Pengembangan Profesi Guru, Dr Iwan Syahrir PhD saat berkunjung ke Pusat Pengembangan dan Pemberdayaan Pendidik dan Tenaga Kependidikan (PPPPTK) Seni dan Budaya Jalan Kaliurang, Besi, Sleman, Jumat (8/11).
Dalam kunjungan tersebut, Iwan menjaring masukan melalui diskusi dengan Kepala PPPPTK Seni dan Budaya Dr Sarjilah MPd, pejabat struktural, Widyaiswara dan Pengembang Teknologi Pembelajaran (PTP).
Iwan juga meninjaui ke beberapa studio yang ada di lingkungan PPPPTK Seni dan Budaya. Menyempatkan diri menyaksikan hasil karya para guru dan widyaiswara.
Menurut Iwan, pendidik adalah garda terdepan perubahan dalam dunia kehidupan. Sehingga pihaknya sangat setuju dilakukan peningkatkan kesejahteraan guru yang dibarengi peningkatan kualitas.
"Termasuk terkait isu-isu guru tentunya. Soal nasib guru honorer, perlu kajian lebih dalam, perlu diskusi dengan banyak pihak. Yang jelas, kita ingin mamajukan profesi guru dan ini tentunya menjadi tekad semu orang,” tandasnya.
Dikesempatan yang sama Staf Khusus Mendikbud ini juga menegaskan pentingnya memajukan pendidikan seni budaya karena menjadi salah satu ketrampilan abad 21 yang harus tetap dihidupkan dan masuk hal yang utama.
Dalam revolusi industri 4.0, dimana semuanya sangat robotic, internet of thing dan artificial intelligence, esensi manusia, baik emosi, estetika, imajinasi dan kreativitas itu menjadi hal yang sangat mahal harganya. Pendidikan seni budaya harus memerankan diri di posisi ini, karena memang sangat penting dan tidak bisa dipisahkan dengan Mapel lain. “Ya harus terintegrasi dengan Mapel lain,” jelasnya seraya menandaskan bahwa pendidikan seni budaya tidak boleh termarginalkan. Ini sesuai dengan filosofi Ki Hadjar Dewantara, yakni esensi yang perlu disasar dari pendidikan itu budi pekerti yaitu: cipta, rasa, karya. (Akhir Lusono)
