Yogyapos.com (YOGYA) - Kerja secara segmentasi dengan tujuan menunjukkan dominasi dan keunggulan program studi atau fakultas tertentu, dengan menafikkan lembaga lain, bias menghambat dan mengganjal kemajuan perguruantinggi (PT).
Rektor Universitas Widya Mataram (UWM) Prof Dr Edy Suandi Hamid menyatakan, kompetisi antar program studi sah-sah saja, tetapi antar program studi berusaha untuk mengganjal kemajuan program studi lain itu membuat kondisi akademik tidak sehat.
“Kita bekerja ya jangan segmentasi polanya, jangan sekterian. Universitas itu bermakna union atau gabungan antar program studi dan fakultas. Semua elemen saling membantu, saling menguatkan,” kata dia saat menyampaikan sambutan pembukaan temu keluarga besar Fakultas Ilmu Sosial dan Politik (Fisipol) UWM menjelang buka puasa di Yogyakarta, Selasa (13/4/2022).
Setiap program studi bersama fakultasnya memiliki potensi untuk mencapai kemajuan. Sebagai contoh, program studi sosiologi Fisipil UWM, terdapat 7 dosen tetap dan tidak tetap, dengan komposisi 3 doktor, 3 kandidat doktor. Ini menunjukkan ada kualitas level pendidikandosen. Begitu juga dengan ilmu komunikasi dan administrasi publik, terdapat dosen-dosen muda yang potensial dan energik.
“Fakultas Ilmu Sosial dan Politik UWM ini potensinya tinggi. Ibarat batang terendam air harus diapungkan agar batang menjadi manfaat. Semua program studi perlu membaca potensi yang dimiliki, dan kemudian tunjukkan kemampuannya kepada masyarakat, jangan sampai merasa rendah diri, minder. Kemajuan itu bisa dicapai dengan mengetahui potensi yang terdapat di dalam fakultas ini,” ujar dia.
Kerja ibadah
Sebagai bagian dari pimpinan Majelis Pendidikan Tinggi Muhammadiyah, Prof Edy Suandi Hamid mengingatkan, para pengelola dan dosen UWM perlu menengok lembaga pendidikan Muhammadiyah. Lembaga sosial keagamaan itu, saatini memiliki 176 perguruan tinggi.
Dalam memajukan universitas dan insititut bertumpu pada ajaran pendiri Muhammadiyah, KH Ahmad Dahlan, “Hidupi Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah.” Ideologi pengabdian di Muhammadiyah tersebut mengajarkan setiap elemen yang menjadi bagian dari lembaga apapun harus berpikir pengabdian dalam memajukan pendidikan itu bernilai ibadah, tidak selalu diukur dengan nilai materi atau finansial.
“Kita hidup di lingkungan Universitas Widya Mataram, nilai-nilai tentang pengabdian sebagai ibadah perlu menjadi bagian dalam memajukan universitas ini. Dengan demikian kita tidak mengeluh dengan persoalan finansial. Kita harus meyakini rezeki bisa dapat dari mana saja, sementara memajukan pendidikan adalah bagian dari ibadah.”
Dekan Fisipol Dr As Martadani Noor MA menyatakan, temu keluarga fakultas yang melibatkan dosen dan tenaga dari tiga program studi di fakultasnya dalam forum santai semacam buka bersama menjadi bagian dari edukasi untuk meningkatkan sinergi antar elemen di fakultasnya.
Menurut dia, komunikasi di luar kampus dalam acara informal biasanya mendorong situasi yang cair antar dosen maupun tenaga kependidikan karena suasana kekeluargaan itu menghilangkan sekat jabatan dan perbedaan status dalam struktur kepegawaian.
Dia menyatakan sangat memahami potensi besar dari segi sumberdaya manusia dosen maupun tenaga kependidikan di fakultasnya. Karena itu fakultas akan mengoptimalkan peran semua sumberdaya di dalamdan di luar kampus. (Mkb)
