Ketoprak 'Ontran-ontran Dadapan' Penuh Humor Edukatif, Jangan Ambisius Memiliki Hak Orang Lain

share on:
Adegan Klenting Abang, Hijau dan Biru foto bersama pemain dan kru seusai pentas || YP-Agung DP

Yogyapos.com (YOGYA)) – Pergelaran ketoprak lakon ‘Ontran Ontran Dadapan' karya kolaborasi Padepokan Seni Kendhali Roso dan Paguyuban Wirogendhing berlangsung di RTHP RW 03 Gendingan Yogyakarta, Jumat (11/10/2024) malam.

Pertunjukan kesenian tradisional atas Kerjasama Kundha Budaya Yogyakarta ini berlangsung gayeng, penuh humor, menghibur ratusan penonton. Disutradarai Abdon Zennen, penata musik Yono Asmoro dan Produksi Suwarto SSn. Berdurasi sekitar kurang lebih 3 jam, dimainkan anak-anak muda. Pagelaran ketoprak kothekan didukung oleh Kundha Budaya Yogyakarta. 

Abdon Zennen, Penulis Naskah dan Sutradara || YP-Agung DP

Sutradara Abdon Zennen setelah pementasan ditemui yogyapos.com, mengungkapkan memilih mengangkat lakon ‘Ontran-ontran Dadapan’ karena ceritanya merakyat dan lebih mudah bagi para pemain untuk mencari materi humor, mengembangkan alur cerita dengan tampilan variatif.

Seperti yang tampilkan dalam adegan seorang bernma Marga Kusuma mempunyai tiga orang gadis klenting Abang,Klenting Hijau, Klenting Biru dan seorang anak angkat Klenting Kuning. Setelah mendengar ada berita sayembara di desa Dhadapan sorang pemuda bernama Ande-Ande Lumut mencari suami keempat berangkat ikut sayembara.     

Sepeninggalan keempat putrinya Marga Kusuma yang berbadan gemuk kemudian menyusul menuju desa Dadapan juga ingin mengikuti sayembara. Namun sampai tepi sungai yang dijaga Yuyu Kakang tidak mau membantu meyebrangkan. Dengan semangat, ia menyeberang sendiri tanpa dibantu Yuyu Kangkang. Tiba di Desa Dhadapan, ia memenuhi Mbok Dadapan melamar Ande Ande Lumut. Dan tidak menyangka lamaran Marga Kusuma diterima oleh Ande Ande Lumut, mengalahkan keempat anaknya semua mempunyai wajah cantik, dan setelah ditelusuri yang menjadi seorang abdi bernama Doyok menyamar menjadi Ande Ande Lumut.                                   

“Lho yang diterima lamaran bukan Klenting Kuning, dan jadi Ande Ande Lumut adalah Doyok,” kata penonton dengan nada protes.     

Disinilah kecerdasan serta kreativitas penulis naskah juga sutradara mengemas alur cerita dari aslinya, membuat kejutan dan emosi penonton menunggu ending cerita "Ontran Ontran Dadapan" tidak beranjak dari tempat duduknya hingga usai.       

“Cerita ini memang berbeda karena hanya mengambil pokok cerita dari Ande Ande Lumut,” ungkap Abdon Zennen.                 

Abdon mengungkapkan, ketoprak kothekan ini lebih cenderung menampilkan guyon maton, ada seni gojeknya. Cerita tersebut bukan tidak ada maknanya, namun diisi edukasi yang luar biasa.     

“Kalau diperhartikan naskahnya itu, memang (maaf) dibelokkan. Memberikan ruang bagi masyarakat jangan punya ambisius memiliki hak milik orang lain,” ujarnya.   

Ia juga mengungkapkan, merasa bangga dan senang ternyata generasi muda masih menyukai gejok lesung. Disamping itu pelaku ketoprak kothekan maupun musiknya ini lima puluh persen anak muda. Perkembangan seni budaya kedepannya dipegang anak muda. (Agung DP)                       

 

 

 


share on: