Ketua Gema Handayani Pesimis Pembelian Kapal Selam terealisir, Jazir Nyatakan Tetap Lanjut

share on:
Ketua LSM Gema Handayani Gunungkidul, Subandriono || YP-Sulistyawan Ds

Yogyapos.com (GUNUNGKIDUL) - LSM Gema Handayani Gunung Kidul melontarkan kritik terhadap gerakan donasi pembelian Kapal Selam yang diinisiasi oleh Masjid Jogokaryan. Ormas ini bahkan pesimis jumlah donasi yang ditargetkan akan tercapai dan pembelian kapal selam itu bisa terealisasi. 

Ketua LSM Gema Handayani, Subardiono, mengatakan penarikan donasi kapal selam itu ibarat orang yang baru belajar berenang tetapi mengajak orang lain untuk menyeberangi Selat Sunda, karena itu pihaknya mempertanyakan soal kelaziman gagasan  tersebut. 

“Ini lazim atau tidak? Kalau Lazim ya sudah. Kita tahu sama tahu saja bahwa hal itu mustahil akan tercapai. Sulit untuk terealisasi,” ujar Subardiono ketika dihubungi yogyapos.com via telepon seluler, (30/4/2021).

Selanjutnya, Subardiono menegaskan bahwa selama ini Masjid Jogokaryan belum pernah melakukan penggalangan dana yang nilainya mencapai trilyunan, sehingga Masjid Jogokaryan ini dinilai belum punya kapasitas untuk itu. Bahkan dalam status facebooknya, pihaknya menulis agar gerakan donasi yang melibatkan ummat itu tidak dipakai sebagai bahan bercanda meskipun niatnya baik. Niatnya sih baik, tapi mbok jangan guyon /kemethak. Diketawain orang yang faham nanti, demikian tulisnya.

“Kalau dalam salah satu status saya sebut dengan istilah kemethak itu adalah bentuk kasih sayang saya kepada panjenengan semua,” tandas Subardiono.

Subardiono khawatir, jika nantinya donasi itu tidak tercapai hal itu justru menimbulkan bumerang serta menimbulkan ketidak percayaan publik. Karena selama ini banyak program penggalangan dana ummat tidak tereleasisasi dengan baik. Selain itu, pihaknya juga khawatir momentum penggalangan dana ini nantinya akan dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu atau justru pemerintah yang saat ini masih membutuhkan banyak biaya.

“Katakanlah nanti sudah tercapai  dana 500 milyar, tetapi kemudian ada yang mempermasalahkan ijinnya lalu dana tersebut disita. Jika ini terjadi lalu pertanggung jawabannya bagaimana? Banyak sekali celah- celah yang bisa dimanfaatkan pihak-pihak tertentu,” tandas Subardiono.

Menurut Subardiono penggalangan dana ummat lebih utama dilakukan untuk hal-hal yang lebih strategis seperti pembelian pulau, pembangunan pesantren dan lain-lain. Oleh karena itu, terhadap dana donasi yang telah terkumpul lebih dari Rp 800 juta tersebut, pihaknya mempertanyakan kepada jajaran Pimpinan Masjid Jogokaryan apakah dana tersebut tetap akan dipakai untuk pembelian kapal selam atau justru untuk membantu ummat muslim yang lebih membutuhkannya seperti misalnya ummat muslim Gunung Kidul yang kondisinya disebutnya sebagai “mati enggan hidup tak mau”.

“Dana tidak harus diserahkan kepada saya. Tapi saya punya banyak referensi yang bisa saya tunjukkan,”  tandas Subardiono.

 

Tetap Lanjut

Terpisah, Ketua Dewan Syuro Masjid Jogokaryan Ustadz M Jazir Asp saat dikonfirmasi via ponselnya mengatakan bahwa dirinya sedang dalam perjalanan menuju PT PAL Surabaya. Terhadap kritikan yang dilontarkan Gema Handayani, pihaknya mengatakan bahwa mengenai hal tersebut sudah menjawabnya di banyak media.

“Sudah saya jawab di banyak media. silahkan kutip saja,” ujar ustadz Jazir singkat.

M Jazir menyatakan tak akan berhenti menginisasi Gerakan ini sampai target tercapai. Sampai berita ini diturunkan, donasi yang terkumpul untuk pembelian kapal selam tersebut sudah terkumpul sebesar Rp.1,2 M. dan menurut rencana, penggalangan dana akan berlangsung selama 1 bulan. Namun, jika nanti dirasa masih kurang akan dibuka  penggalangan tahap selanjutnya.

“Kalau masih kurang saya akan mendorong anak-anak masjid untuk menggalang dana lagi, sehingga bisa tercapai (untuk membeli kapal selam “ ujar M Jazir seperti dilansir Republika, Jumat (30/4/2021).

Selanjutnya Jazir mengungkapkah, terhadap gagasan pembelian kapal sela mini pihaknya sudah berkoordinasi dengan pemerintah  seperti Kementrian sosial dan OJK sehingga  penggalangan dana yang dilakukan menjadi transparan dan dapat dipertanggung jawabkan.

“Kami mengurus ijin ke Kemensos dan mohon pengawasan dari OJK. ‘ ujar Jazir.

Sementara itu, kepada Kumparan, Jazir mengatakan rekening atas nama masjid. Maka nantinya Dana terkumpul berapa pun kalau bisa mencapai pembelian akan di berikan. Kalau tidak akan di serahkan kepada KSAL untuk bisa diteruskan untuk ditambahkan kedalam anggaran angkatan laut sendiri, sehingga dapat dipakai untuk tambahan  dana  beli kapal selam.

Jazir mengatakan bahwa informasi yang dia terima harga satu kapal selam buatan Korea Selatan adalah Rp 4,7 triliun, sementara kalau buatan dalam negeri dari PT PAL Rp 1,7 triliun. Sejauh ini dalam sehari dibuka, donasi telah terkumpul Rp 300 juta.

"Konon kalau membuat kapal selam sekelas itu Rp 1,7 T. Kalau membeli buatan Korea Rp 4,7 T,” ujarnya.  (*/sds) 

 

 

 

 

 

 


share on: