Yogyapos.com (SLEMAN) – Sedikit ketua partai politik yang tidak tergiur mencalonan diri menjadi anggota legislatif. Dari yang sedikit itu Sukardi (70) adalah salah satunya. Ketua DPC Partai Berkarya ini memilih suntuk mengurus dan membesarkan partai yang dipimpinnya.
“Menjadi anggota legislatif bukan tujuan saya ketika dipercaya menjadi Ketua DPC Partai Berkarya. Saya lebih fokus pada bagaimana Partai Berkarya bisa eksis, berkembang dan berkualitas,” ujar Sukardi kepada yogyapos.com, di rumahnya di bilangan Harjobinangun, Pakem, Sleman, baru-baru ini.
Sukardi tipe pucuk pimpinan parpol yang low profile, tidak banyak bicara namun tegas. Ia lebih suka mengimplementasikan program-program melalui tindakan nyata, terutama dalam menyongsong Pileg dan Pilpres 2019.
Walau terbilang baru berkiprah di dunia politik, tapi ia terbilang konseptual dan cekatan menerjemahkan kebijakan-kebijakan Pimpinan Pusat Partai Berkarya. Ini dibuktikan antara lain dengan terpenuhinya kepengurusan partai di tiap kecamatan, bahkan kelurahan. Disusul dengan rekruitmen caleg yang menyeluruh di semua Dapil, hingga memenuhi jumlah yang ditargetkan sebanyak 30 Caleg.
Sebagai partai baru, papar dia, pihaknya melakukan sosialisasi secara maksimal dan sistematis. Sebelum deklarasi, dilakukan observasi lapangan hingga ke desa-desa. Respon masyarakat ternyata bagus, mereka kebanyakan merindukan zaman dimana harga-harga sembako murah, pendidikan sangat diperhatikan, dan penanganan gejolak sosial cepat teratasi.

Kantor DPC Partai Berkarya Sleman | YP/Agung DP
Respon demikian dinilai sangat cocok dengan apa yang menjadi visi maupun misi Partai Berkarya. Sehingga ketika deklarasi dilakukan, maka sambutannya lumayan bagus. “Hasil pengamatan kami, sekarang banyak yang merindukan kehidupan di zaman Pak Harto. Tentu saja ini pas dengan Partai Berkarya yang memang hendak melanjutkan program-program berbasis kebutuhan riil masyarakat bawah,” terang Sukardi yang pernah menjabat Kades selama 2 (dua) periode.
Menurut dia, untuk dapat menyalurkan aspirasi konstituen tentu saja harus melalui jalan politik. Itu sebabnya penjaringan caleg pun dilakukan melalui proses yang matang. Selain menargetkan terpenuhinya jumlah caleg di tingkat kabupaten, pihaknya juga menggenjot caleh untuk DPRD Provinsi. “Ada 9 orang Caleg untuk DPRD DIY. Semuanya berkualitas dan peduli dengan aspirasi masyarakat bawah," terangnya.
Satu hal penting, dirinya tidak ikut menjadi caleg, karena pula secara psikologis agar bisa lebih netral dalam proses penjaringan dan penetapan para caleg. Sehingga tidak terjadi vested of interest, selain daripada membesarkan partai.
“Sisa umur saya ingin tetap berkarya untuk bangsa ini melalui politik, walau pun tidak harus menjadi anggota dewan,” tegasnya. (Agung DP/Met)
