Kisah Yusmar, Pemuda Asal Sabu Raijua Lolos Tanpa Tes dan Kuliah Gratis di UGM

share on:
Julian Yusmar Dima Huda (18), pemuda asal NTT yang kuliah gratis di UGM || YP-Ist

Yogyapos.com (SLEMAN) - Menapaki bangku kuliah bukan sekadar angan-angan bagi Julian Yusmar Dima Huda (18). Dengan tekad yang kuat dii tengah segala keterbatasannya, pemuda yang akrab disapa Yusmar itu resmi menjadi mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui jalur beasiswa penuh.

BACA JUGA: Milad ke-25, Majelis Taklim Ajimat Arrahmah Selenggarakan Pengajian dan Jalan Sehat

Dia diterima melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP), Yusmar resmi menjadi mahasiswa program studi Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Fisipol) UGM. Dia juga menerima beasiswa UKT pendidikan unggul bersubsidi 100 persen atau kuliah gratis di UGM. 

BACA JUGA: Dari Gunungkidul ke Panggung Nasional, Haura Raih Peserta Teraktif I BSS 2026

Kisah Yusmar dimulai dari rumah panggung berdinding anyaman bambu dengan tiang berbahan kayu lontar di Desa Raenalulu, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur. Yusmar kecil dan tumbuh dalam asuhan kakek, Rehabeam Wadu Dima (75), dan neneknya, Welmintje Wila Magga (67).

BACA JUGA: Ikut Program Rotary Student Exchange di Brasil, Arka Jadi Mahir Bahasa Portugis

Sang ayah telah meninggal dunia saat usianya baru menginjak 1 tahun. Sedangkan ibunya telah membangun kehidupan baru di daerah lain. "Kakek bekerja sebagai petani, sementara nenek, berjualan kue," kata Yusmar, Senin (13/7/2026).

Bagi Yusman, berkuliah hanya menjadi angan-angan dan mimpi yang tak mungkin terwujud. Mengingat kondisi ekonomi keluarganya. Tapi, ketika dia duduk di kelas 12 SMA, pengalamannya saat mengikuti Duta Siswa Indonesia mengubah cara pandangnya. 

BACA JUGA: Kisah Inspiratif Angel, Penyandang Tunanetra yang Sukses Masuk UGM

"Dari situ, saya benar-benar terbuka pikiran bahwa pendidikan itu sangat penting, apalagi untuk melanjutkan ke perguruan tinggi,” tuturnya.

Salah satu momen penting bagi Yusmar || YP-Ist

Di balik keberhasilannya, tersimpan perjuangan sang kakek dan nenek yang telah membesarkannya sejak kecil. Keduanya tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan hidup sebagai petani. 

BACA JUGA: Di UNJ, Menteri LH Ajak Kampus Jadi Simpul Gerakan Nasional Pendidikan Pengelolaan Sampah

Keterbatasan tersebut turut mempengaruhi akses pendidikan yang diterimanya semasa kecil. Dia mengaku baru lancar membaca ketika duduk di kelas 5 SD dan baru mendapatkan pelajaran Bahasa Inggris saat memasuki jenjang SMA. 

Menyadari keterbatasan itu, dia berupaya mengejar ketertinggalannya dengan belajar secara mandiri melalui telepon genggam yang dimilikinya sejak masa pandemi Covid-19. 

BACA JUGA: Teater Eska Siap 'Merayakan Seratus Tahun Kabahagiaan' di Gelanggang Mahasiswa UIN Sunan Kalijaga

“Saya dulu baru bisa membaca waktu kelas 5 SD karena memang tidak ada yang mengajari. Opa dan Oma juga tidak sekolah, bahkan tidak bisa bahasa Indonesia. Waktu pandemi Covid-19 baru punya handphone, dari situ saya berkomitmen untuk serius belajar,” jelasnya. 

BACA JUGA: Reuni Akbar 'Depok Reborn' Guyub Seduluran Sak Lawase Dihadiri Bupati Harda Kiswaya

Sejak di SMA, dia sudah berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan tinggi. Dia memilih melanjutkan pendidikannya di UGM karena ingin keluar dari zona nyaman dan membuktikan bahwa anak-anak dari daerah 3T juga mampu bersaing di perguruan tinggi terbaik di Indonesia. 

BACA JUGA: Menyelami Laut Kerinduan dalam 'Gelombang Laut Ibu' Karya Ulfatin Ch

"Saya suka berkomunikasi, suka membuat konten di media sosial. Jadi Ilmu Komunikasi benar-benar sesuai dengan minat saya. Saya juga punya prinsip ingin keluar dari zona nyaman dan ingin membuktikan bahwa kita yang berasal dari daerah terpencil juga bisa bermimpi dan kuliah di kampus besar seperti UGM,” jelasnya. 

Dia mengingatkan bahwa keberhasilan tidak hanya ditentukan oleh nilai yang tinggi, tetapi juga oleh strategi, ketekunan, dan kemauan untuk terus belajar. 

BACA JUGA: Lingling Perantau Asal Malang Jadi Sorotan, Siap Tampil Perdana di Sinetron Nasional

“Nikmati prosesnya, jangan hanya mengejar hasilnya saja. Jangan mengecilkan mimpi kalian hanya karena berasal dari daerah 3T atau memiliki keterbatasan ekonomi. Kalau ingin lolos SNBP, siapkan strategi yang matang dan percaya pada usaha serta doa,” pungkasnya. (Jhw)


share on: