Yogyapos.com (BANTUL) - Anak yatim dan dhuafa menerima santunan dari Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqoh Nahdlatul Ulama(Lazisnu) Kecamatan Pundong. Santunan itu diserahkan langsung oleh Ketua Tanfidziyah Majelis Wakil Cabang NU (MWCNU) Pundong, Mustafiad Amna bersama Pengurus Lazisnu di aula gedung MWC NU Pundong, dusun Nglembu, Desa Panjangrejo, Keacamatan Pundong, Bantul, Rabu sore (26/8/2020).
Ketua MWCNU Pundong Mustafied Amna dalam sambutan acara menjelaskan bahwa dana santunan anak yatim diperoleh dari dana Lazisnu Pundong dan penggalangan dari donatur.
“Sejauh ini, untuk santunan anak yatim di desa Panjangrejo telah rutin dilakukan setiap bulan yang dikelola oleh Pengurus Ranting NU Panjangrejo. Sedangkan untuk wilayah se-kecamatan Pundong, kami dan Lazisnu Pundong telah mengagendakan bertahap secara rutin pula,” ujar Mustafied Amna.
Dijelaskan, penyantunan kali ini ditasyarufkan untuk anak-anak yatim dari desa Panjangrejo dan Seloharjo. Ada sejumlah 47 anak yatim dan anak-anak yang nyantri di pesantren kurang mampu. “Masing-masing anak mendapat santunan seratus lima puluh ribu rupiah,” terang Mustafied.
Di Kecamatan Pundong melingkupi tiga wilayah desa, yakni desa Panjangrejo, Srihardono, dan Seloharjo.
Pengurus Lazisnu Pundong, Hafidz Masturi mengatakan pemberian santunan ini merupakan bentuk kepedulian masyarakat dan jam’iyah Nahdlatul Ulama di Pundong.
“Kali ini santunan bagi anak-anak yatim desa Panjangrejo dan Seloharjo. Untuk santunan yatim wilayah desa Srihardono, akan dijadwalkan diberikan pada bulan September atau Oktober,” katanya
Sementara itu, dalam tausiyah acara, kasepuhan NU Pundong Kiai Haji Djamal mengatakan anak-anak yatim piatu merupakan amanah yang Allah berikan kepada manusia yang berakal terutama bagi kalangan yang mampu, mereka diamanahkan untuk disantuni sebagaimana menyantuni diri sendiri dan keluarga.
Dalam tarikh Islam diceritakan, tauladan kita Nabi Muhammad SAW telah yatim piatu sejak kanak-kanak. Ketika dalam masa kandungan, ayah beliau Abdullah meninggal. Lalu beranjak umur enam tahun, ibunya turut meninggal dunia. Beliau (Nabi Muhammad, red)sejak kecil telah mendapat cobaan yang sangat berat, memikul beban hidup sebagai seorang anak yang yatim dan piatu.
“Meski begitu, atas rahmat Alloh SWT, Muhammad menjadi manusia hebat, beliau diangkat nabi dan rasul, manusia terbaik se-alam semesta, manusia yang menjadi tauladan kita semua,” jelasnya.
Pelajaran yang bisa diambil, jangan minder dengan keadaan. Semuanya tetap harus sabar dan optimis menghadapi kehidupan ini. Yatim atau tidak, asal tekun ibadah, rajin sekolah, manut kepada orang tua dan orang-orang saleh. Insya Allah bisa menjadi manusia yang sukses dan yang berguna bagi sesama.
“Untuk itu saya berpesan kepada anak-anakku, jangan meninggalkan sholat lima waktu. Kalau sore harus rajin ikut ngaji TPQ di masjid atau mushola sekitar rumahnya,” pungkas tutur Kiai Haji Djamal. (Markaban Anwar)
